31.7.13

Bodrex, Meredakan Sakit Kepala Kurang Dari 5 Menit Saja

Mempunyai bayi berarti harus sudah siap dengan kerja yang ekstra. Jadwal makan pribadi yang ngaco, jam tidur yang awut-awutan, begadang, hingga nyuci pakaian kotor yang selalu seabrek. Belum lagi jika si bayi rewel, berbagai keluhan fisik sudah pasti hadir tanpa permisi. Misalnya saja seperti sakit kepala.

Aku dan Baby Zaudan
Siang itu adalah jadwal imunisasi DPT Baby Zaudan. Seperti dugaan, sepulang dari dokter, Baby Zaudan menderita demam. Bahkan hingga malam harinya. Sebagai ibu dari 3 anak, hal itu tentu bukanlah pengalaman yang baru. Namun meskipun demikian, melek untuk menemani dan menggendong Baby Zaudan di saat demam, tetap saja merupakan pengalaman tak enak untuk dilakukan.

Siang harinya, demam Baby Zaudan pun sembuh. Tapi sakit kepalaku datang tanpa diundang. Dengan sigap, aku pun langsung mencari Bodrex di kotak obat. Tapi karena sudah lama tidak sakit kepala, obat berlapis dua yang sudah kukenal sejak lama itu rupanya habis. Aku pun segera menyuruh putri sulungku, Reihana, untuk membelinya di warung sebelah.

Tak lama, Reihana datang membawa 1 dos Bodrex dan segelas air hangat. Tapi baru saja membuka kemasannya, mamaku datang menghampiri. Dia lalu merebut Bodrex yang akan kumakan. 

“Kamu kenapa, Nia?” tanyanya sambil membaca dos kemasan Bodrex.
“Sakit kepala, Ma. Begadang. Zaudan demam abis imunisasi,” jawabku.
“Bodrex memang bagus. Tapi, kamu kan sedang menyusui. Asimu bisa jadi sedikit,” ujarnya.
“Tapi, ini kan Bodrex, Ma. Kita kan sudah biasa makan ini,” ucapku lagi.
“Iya, mama tahu. Tapi, mending ke dokter dulu deh. Kalau bisa, minta resep,” pinta mama.
“Aduh, Ma. Aku sakit kepalanya sekarang. Harus minum obatnya ya sekarang. Ke dokter dulu mah, aku gak kuat. Ya jauh, ya harus ngantri di dokternya, ya ngantri di apoteknya. Aku gak bakal kuat,” jawabku sambil menahan sakit kepala yang semakin cenat-cenut.

Mamaku terdiam. Raut wajahnya menggambarkan kesetujuannya dengan ucapanku. Tapi tetap, dia juga tak bisa menghilangkan kecemasannya. 

Untuk meyakinkan mama, sekaligus juga menenangkanku sendiri, aku pun berinisiatif untuk mencari tahu mengenai Bodrex melalui internet. Dalam hitungan menit, apa yang aku cari terpampang dengan jelas di layar laptop.

Yupp! Dengan pencarian mengenai keamanan kandungan zat yang ada di dalam Bodrex, yaitu parasetamol dan juga kofein (atau kafein) beserta dosis amannya, aku menemukan fakta yang menenangkan dari banyak referensi, misalnya saja referensi 1 dan referensi 2

Dalam referensi 1 dikatakan bahwa parasetamol yang di sana disebut sebagai asetaminofen (asetaminofen adalah nama lain dari parasetamol) adalah obat yang aman dikonsumsi ibu menyusui dengan dosis maksimal 650 mg. Tak ada pengaruh apa pun yang terjadi pada sebagian besar asi sang ibu maupun pada bayi yang disusuinya. Tak ada parasetamol (asetaminofen) yang terdeteksi di dalam urin bayi yang menyusui dari ibu yang mengonsumsi parasetamol dengan jumlah dosis aman tersebut. Dan di sana juga dikatakan bahwa tidak pernah terjadi kasus yang aneh pada ibu maupun bayi pasca si ibu mengonsumsi parasetamol (asetaminofen) dengan jumlah dosis yang aman itu.

Adapun dalam referensi 2 dikatakan bahwa kofein (yang di sana disebut sebagai kafein) tidak terbukti secara ilmiah bisa menurunkan jumlah asi. Kalau pun ada, ini hanya bersifat sugesti saja. Dan dosis aman yang bisa dikonsumsi ibu menyusui agar aman untuk bayi yang sedang disusuinya, kafein maksimal yang bisa diminumnya adalah 300 mg per hari. Baik itu dari kopi secara langsung mau pun dari obat yang mengandung kafein.


Dari dua contoh referensi inilah, mamaku kemudian mengizinkanku untuk memakan Bodrex sebagai obat pereda sakit kepalaku saat itu. Ya iyalah, kandungan parasetamol dan kofein yang ada di dalam Bodrex kan di bawah dosis aman dari parasetamol dan kofein yang dianjurkan dalam penelitian yang ada di 2 referensi tersebut, yaitu 600 mg dan 50 mg. Dan lagi, dengan Bodrex kan gak usah beberapa kali. Sebutir Bodrex saja sudah cukup untuk aku dalam mengusir sakit kepala. So, akhirnya aku bisa memakan Bodrex dengan tenang. Seperti biasa, dalam hitungan yang tidak sampai 5 menit, si sakit kepala yang dari malam cekat-cekot itu, hilang entah ke mana.

Aku Sih Memang Gak Pernah Ragu...
Kejadian itu hanya satu dari sekian banyak pengalamanku bersama Bodrex. Tentu saja karena Bodrex bukan sekali itu saja aku konsumsi. Sudah sejak zaman kuliah, sekitar tahun 1997, aku pribadi sudah mengonsumsinya. Sedangkan di keluarga, Bodrex sudah dipercaya turun temurun. Mamaku dan bapakku saja, katanya sudah mengonsumsinya sejak pertama Bodrex ada. Sampai kini, mereka masih mengonsumsinya. Tak hanya di saat sakit kepala saja. Saat sakit gigi, mereka juga percaya dengan Bodrex.

Hal pertama yang membuat aku menyerahkan segala urusan sakit kepala pada Bodrex adalah karena Bodrex sudah berpengalaman. Coba saja lihat usianya. Sudah 43 tahun, kan?! Nah, dari angka ini saja terlihat bahwa Bodrex dipercaya masyarakat. Dan ini pasti karena Bodrex ampuh, aman, dan nyaman. Jika tidak begitu, mana bisa sih Bodrex dipercaya hingga berusia 43 tahun. Kalau hanya ecek-ecek, mungkin sudah sejak lama, Bodrex hilang dari pasaran. Ya, toh?

Hal kedua yang membuatku memilih Bodrex adalah kemudahan dalam mendapatkannya dan juga sudah memasyarakat. Untuk alasan ini, aku punya pengalaman lain. Ya, suatu kali, saat sedang kuliah lapangan di pesisir yang jauh di kawasan timur parahyangan. Tepatnya di Pantai-Hutan Sancang, Garut, yang jauh dari perkotaan, aku tiba-tiba sakit kepala. Kelupaan membawa Bodrex, membawaku pada sebuah gubuk warung kecil di pinggir pantai. 

Tanpa menyebut merek, aku pun meminta obat sakit kepala kepada si pemilik warung. Tentu saja karena jauh dari kota, aku tak meminta Bodrex. Aku takut jika Bodrex tidak ada. Obat apa pun yang diberikannya, akan aku minum. Begitu pikirku.

Tanpa kuduga, si ibu pemilik warung tiba-tiba memberiku Bodrex. Seperti mendapat angin segar, aku langsung memakannya. Dan ya… ya… ya… sakit kepalaku musnah secara kilat. Sungguh, aku benar-benar gak nyangka, Bodrex bisa ada di gubuk warung yang jauh dari kota itu. Bahkan harganya juga sama seperti di warung dekat rumahku. Wow! Pengalaman itu membuat mataku terbuka lebar. Bodrex ternyata sudah begitu merakyat dan tersebar hingga ke pelosok. Benar-benar luar biasa.

Hal terakhir yang sudah pasti membuatku emoh melirik merek lain sebagai obat pereda sakit kepala adalah dipercayanya Bodrex oleh pihak-pihak yang concern terhadap kesehatan dan kesejateraan bersama dalam bentuk penghargaan. Lihat saja, Bodrex kan sudah menerima banyak penghargaan! Dan itu jelas, bahwa pilihanku pada Bodrex tidaklah salah. Ada penghargaan Best Brands, Most Recommended Brands, Superbrands, Top Brands, dan lain-lain.

Penghargaan-penghargaan yang diraih Bodrex

Bodrex Oke, ‘Keluarganya’ Pun Pasti Demikian
Kepercayaanku pada Bodrex tidak bisa diragukan lagi. Pengalamanku, kepercayaan masyarakat, hingga penghargaan yang diterimanya membuatku semakin betah untuk tidak beralih pada merek lain. Berangkat dari hal ini, aku dan keluargaku mulai melirik ‘keluarga Bodrex’ yang lain. Dari mulai Bodrexin, Bodrex ekstra, Bodrex migra, Bodrex flu dan batuk, Bodrexin flu dan batuk, Bodrex demam, Bodrexin demam, hingga Bodrexin pilek Alergi. 

Beberapa Produk Keluarga Bodrex

Kami percaya, jika Bodrex sudah sedemikian bagus, produk-produk ‘keluarganya’ pasti juga demikian. Sehingga ketika salah satu dari kami menderita suatu penyakit atau keluhan, obat pertama yang terpikir adalah ‘keluarga Bodrex’. Tinggal disesuaikan saja antara keluhan dengan obatnya.

Sebenarnya, sebelum Bodrex, aku lebih dulu mengenal Bodrexin. Tablet yang paling suka aku kunyah di saat demam waktu kecil ini sangat aku sukai. Tentu saja karena Bodrexin rasanya segar seperti permen jeruk. Dan kini, aku mewariskan kebiasaanku itu kepada 2 anak-anakku. Sama sepertiku, mereka juga sangat menyukai Bodrexin.

Untuk suamiku yang lebih sering terkena sakit kepala berat dan migren, aku lebih memilih Bodrex Ekstra dan Bodrex Migra. Alhamdulillah, dua produk yang juga merupakan ‘keluarga Bodrex’ ini juga cocok untuk dia.

Kepedulian Bodrex Tak Hanya Pada Hal-hal yang Sifatnya Komersil Saja
Kita semua tentu sering mendengar istilah Pasukan Bodrex. Meski tak terlalu tahu dengan detil mengenai apa, bagaimana, dan juga sejarahnya, beberapa aksi nyata Pasukan Bodrex membuatku sungguh terpesona. 

Coba saja Anda hitung, berapa banyak sih produsen yang peduli dengan konsumen mengenai hal-hal di luar produk komersilnya? Bisa dihitung dengan jari. Dan Bodrex masuk di dalam hitungan itu melalui program Bodrex Reaksi Cepat (BRC) yang direalisasikan secara nyata oleh Pasukan Bodrex di lapangan. 

Bantuan Pasukan Bodrex
Sumber gambar :
https://www.facebook.com/AhlinyaAtasiSakitKepala
Kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan Pasukan Bodrex itu misalnya saja adalah pemberian layanan kesehatan kepada warga yang dilanda bencana, pengobatan massal gratis, operasi hernia massal gratis, operasi katarak massal gratis, khitan massal gratis, donor darah, fogging, pemberian vitamin dan makanan tambahan bagi balita, penyuluhan kesehatan, pemeriksaan ibu hamil, layanan KB, penyuluhan kesehatan, dan lain sebagainya. 

Sungguh, sebagai salah satu konsumennya, aku merasa bangga dan terharu dengan kepedulian Bodrex terhadap masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa Bodrex memang peduli pada masyarakat yang sebagian besar merupakan konsumennya. Ini lebih dari sekadar bukti rasa terima kasih Bodrex tetapi juga empati yang tidak ternilai.

Terima Kasih Bodrex, Semoga Semakin Berkah!
Kualitas Bodrex, concern Bodrex terhadap kesehatan secara umum dalam bentuk produk obat ‘keluarga Bodrex’ yang juga berkualitas, serta bukti kepedulian Bodrex terhadap masyarakat dalam hal yang bersifat kemanusiaan, tak bisa dipandang sebelah mata. Sebaliknya, ini merupakan titik tolak yang menjadikan Bodrex semakin ‘besar’ dan semakin bertambah usia. 

Ya, niat yang baik, produk yang bagus, dan juga kepedulian yang besar terhadap konsumennya merupakan sekian alasan yang menjadikan Bodrex semakin berkah. Berkatnya, doa yang tulus selalu terucap dari konsumennya agar Bodrex selalu menjadi nomor 1 dan terbaik. Sehingga Bodrex akan selalu ada di dalam hati seluruh konsumennya. Dan Bodrex semakin bertambah usianya. Terima kasih Bodrex, teruskan segala bentuk kebaikan yang sudah dilakukan. Semoga semakin berkah. Aamiin.


***

Referensi
  1. http://anikamd.com/breastfeeding/acetaminophen.htm
  2. http://kellymom.com/bf/can-i-breastfeed/lifestyle/caffeine/
  3. http://www.thetempogroup.net/Products/DetailProduct.aspx?PID=k5oXuvcul5BsGtDIxlDYkg==&ID=rSJAVd67URfH4mpFJ8PnGw==
  4. http://www.thetempogroup.net
  5. https://www.facebook.com/AhlinyaAtasiSakitKepala
  6. http://twitter.com/keluargabodrex
Twitt Postingan di Akun Twitter Pribadi

Like FasnPage Facebook Bodrex

Follow Akun Twitter Bodrex

Follow Akun Twitter VivaLog

14 komentar:

  1. Anonim13.38

    Bagus bgt reviwnya Mba...

    BalasHapus
  2. Bodrek - terkenal sejak lama!
    iklan jaman jadulnya waktu saya SD ada di sini: http://www.youtube.com/watch?v=qw7YE6enHgw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ya Bu Yanti. Iklannya lucu. Makasih banyak sudah mampir :)

      Hapus
  3. semoga menang, Mak :)

    BalasHapus
  4. Semoga menang maaakk....:*

    BalasHapus
  5. Bodrek obat sakit kepala terkenal sejak lama. Entah mengapa jadi inget dede yusuf

    BalasHapus
  6. Lengkap dan mantap reviewnya... kayaknya aku gak bakalan heran deh kalau menang (lagi) mbak... hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... aamiin... aamiin. Tengkyu, Mak :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)