25.1.17

Sehat Sehat Sehat!


Dua minggu lalu, sebuah pesan singkat yang telat saya baca di Whats App mengejutkan saya. 

“Nia, Teteh teh enya, diabetes.”

Begitu isi pesan tersebut. Dan dek! Jantung saya rasanya berhenti berdetak. Saya langsung saja lemas. Terbayang kembali sosok almarhum bapak yang hingga akhir hayatnya menderita penyakit yang sama. Diabetes, The Silent Killer yang menggerogoti tubuhnya menjelang akhir hidupnya. Bahkan seminggu sebelum meninggalnya pun, diabeteslah yang menjadi penyebab utama almarhum bapak terkena stroke.

Beberapa bulan ke belakang saya, mama, dan juga adik saya memang sempat curiga dengan teteh yang bobot tubuhnya semakin menyusut. Akan tetapi ketidakhadiran gejala yang lain, seperti buang air kecil terus menerus dan rasa haus yang tak kunjung reda, membuat kami abai dengan kecurigaan akan penyakit ini. Barulah, ketika sebuah luka di kakinya begitu lambat untuk sembuh, saya seperti diyakinkan. Teteh kemungkinan besar memang menderita diabetes. Walau pun saat diperiksa, kandungan gula darahnya tidak terlalu jauh dari standard normal. Tapi tetap, itu sudah bisa dikatakan diabetes. 

Saya Pun Terancam!
Sebagai orang yang dikelilingi anggota keluarga yang menderita diabetes, dari mulai bapak sendiri, kemudian sekarang teteh, dan dulu nenek, kakek, serta uwak-uwak, saya jelas memiliki risiko yang jauh lebih besar daripada teman-teman yang tidak memiliki riwayat keluarga penderita diabetes. Apalagi ditambah saya yang suka sekali makanan manis. Gaya hidup saya yang gak sehat juga semakin menambah ancaman saya dalam hal risiko terhadap diabetes. Jika baru melihat almarhum bapak saya masih tenang-tenang saja, ketika melihat teteh, saya sungguh merasa tersadarkan. Diabetes itu sudah begitu dekat dengan saya. Mau tak mau, suka gak suka, saya harus menghindarinya!

Mari Berubah!
Salah satu resolusi saya di tahun 2017 ini memang ingin memiliki tubuh yang lebih sehat. Salah satu cara yang saya tempuh dalam mewujudkannya adalah dengan mulai mengurangi makanan dan minuman yang tak sehat serta berolahraga. Kejadian yang menimpa teteh, benar-benar memotivasi saya untuk lebih sehat di tahun 2017. Selain agar tubuh semakin sehat, saya juga ingin terhindar dari diabetes. Jika tahun lalu saya masih asal-asalan dan belum bisa serius mengurangi makan dan giat berolahraga karena juga masih menyusui, maka tahun ini saya tidak boleh begitu lagi. Si diabetes sudah membayangi saya. Sedikit saja saya lengah, saya bisa 'digerogotinya'. 

Sekarang, saya makan nasi sedikit. Roti dan cemilan pun, terutama yang manis-manis, juga saya kurangi. Saya lebih banyak makan sayur, buah-buahan yang indeks glukosanya rendah, dan sebisa mungkin tidak minum minuman manis. Kopi, Alhamdulillah sudah sangat jarang. Paling-paling seminggu sekali. Itu pun juga sangat jarang.

Untuk olahraga, setiap hari saya senam aerobik, 30 menit, di rumah saja. Berbekal dvd yang saya beli di Gramedia beberapa tahun lalu, olahraga ini cukup membuat saya keringetan. Setiap hari Sabtu atau Minggu, yaitu saat suami libur, saya lari di lapangan deket rumah. Lumayan lah, meski bukan lari yang kenceng, 6 putaran lapangan yang setara 2,4 km bisa saya tempuh dengan banjir keringat.

Langsing kini bukan tujuan utama saya lagi. Saya lebih ingin sehat. Saya lebih ingin terhindar dari penyakit-penyakit yang berbahaya itu. Syukur-syukur bonusnya langsing. Itu tentu bikin saya bahagia. Kenapa tidak mengutamakan langsing? Sebab kalo tujuannya langsing, dulu saya pernah gendut dan lalu langsing. Berbagai cara saya tempuh. Termasuk makan obat serta jamu pelangsing. Tujuan saya tercapai saat itu. Tapi langsingnya tidak sehat. Dulu saya sering banget lemas dan sakit. Tekanan darah rendah saya pun sering kumat. Belum lagi flu yang getol banget menghampiri. Semoga saja apa yang saya tempuh sekarang tidak salah lagi.

Minum air putih yang banyak juga tak pernah absen saya lakukan setiap hari. Meski sesekali, saya juga minum teh. Lebih tepatnya teh hijau. Tahu sendiri kan ya manfaat teh hijau. Selain rasanya segar, teh hijau juga kaya antioksidan. Barangkali saja, salah satu khasiat antioksidan teh hijau bikin saya gak gampang sakit dan bikin saya terlihat awet muda. :D

Oke teman-teman, segitu curhatan saya kali ini. Semoga bermanfaat. Jaga kesehatan selalu, ya. Dan yuk, kita hindari penyakit diabetes. Penyakit yang satu ini sangat mengerikan. Sebab begitu penyakit ini hadir di tubuh kita, seumur hidup, dia akan terus bersama kita. Sekali pun memang kita bisa berdamai bersamanya dengan cara mengontrol makanan dan minuman serta gaya hidup. Saya kira, sebelum semuanya terjadi, pepatah lama bisa selalu kita junjung. “MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI”. Setuju?

Yuk lari! :)

18 komentar:

  1. Jalani pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit yang mematikan, termasuk diabetes. Begitu kan, Mbak Nia?

    Terimakasih sudah berbagi.

    Salam :)

    BalasHapus
  2. iya mba olahraga bukan langsing lagi yg kita cari, tapi kesehatan. Alm ayah saya juga penderita diabetes, dan khawatir juga akan menurun pada saya dan anak2 beliau yg lain. menghindarinya dgn pola makan sehat dan olahraga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kita jadi berisiko tinggi kena, ya, Mak...

      Hapus
  3. Bingung pas awal baca. Yg kutahu teteh itu bukannya kakak ya? atau Mbak? ternyata ibu ya Mbak Nia?
    Memang lebih baik jaga kondisi sehat dan mengurangi yg manis juga asin ya Mbak. Olahraganya bisa rutin, tu udah bagus, aku susah banget olahraga hiksss... Sehat terus ya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini teteh kakak saya. Sehat-sehat juga, Mbak :)

      Hapus
  4. Kalau nasinya diganti nasi merah, suka nggak Mbak Nia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya, harusnya nasi merah, ya. Kadar gulanya gak terlalu tinggi...

      Hapus
  5. Menjalani pola hidup sehat gampang - gampang susah, susahnya adalah niat suka tidak bekerjasama dengan kenyataan, hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Tian. Konsistennya itu yang susah. Semangatnya di awal-awal aja... :(

      Hapus
  6. Tfs teteh, iya betul teh aku dari kecil suka minum air putih jadi gampang beser tapi alhamdulillah kalo luka cepet banget sembuhnya, nah udah 4tahunan lebih nih aku makan nasi merah, emang rasanya hambar sih ya tapi demi kesehatan aku mau berjuang sekarang! Semoga tetehnya teh Nia diberi kesembuhan dan kesehatan seperti sedia kala aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, aku kayaknya harus bisa beralih ke nasi merah...

      Hapus
  7. Mba Nia, keluargaku juga ada riwayat diabetes. Jadi harus jaga kesehatan juga nih mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Yuk kita hidup lebih sehat lagi...

      Hapus
  8. thanks for share Mbak :)

    *brb olahraga* hehe

    BalasHapus
  9. di rumah saya lagi cerewet nih sama pak suami supaya diet karena khawatir kena diabetes, secara keluarganya punya riwayat diabetes. sayang klo masih muda udha kena diabetes padahal bisa dicegah dengan pola hidup sehat. semangat sehat Nia....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nih. Harus lebih sehat. Sehat-sehat selalu juga suaminya, Mak Rina..

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)