18.11.15

Kacamata Oh Kacamata


"Mi, Ana pengen pake kacamata, yah!" ucap si sulung pagi itu.
"Tumben. Kemaren-kemaren kan gak mau," jawab saya setengah heran.
"Lihat tulisan di papan tulis gak kelihatan," ujarnya sambil meringis.
"Lho, bukannya udah sejak dulu?" tanya saya.
"Iya, tapi sekarang mah temen sebangkunya baru. Gak kenal. Malu kalo nanya-nanya," papar si sulung.

Seperti itulah percakapan saya dan si sulung, Reihana, pagi itu. Hari pertama sekolah setelah liburan kenaikan kelas 7 ke kelas 8. Iya, memang sudah sejak SD kelas 6 , Reihana mengeluhkan penglihatan matanya yang buram. Tapi karena gak mau diperiksa, malu berkacamata, dan saya gak tahu seberapa buram penglihatannya, Reihana gak pake kacamata. Dibujuk dengan rayuan apa pun, Reihana keukeuh gak mau. Dan baru pagi itu, saya denger dia minta kacamata. Sebabnya sederhana, penglihatannya yang buram membuat tulisan di papan tulis di sekolahnya gak kelihatan. Dia yang biasanya nanya-nanya ke teman sebangkunya, begitu kelas 8 gak bisa lagi. Teman sebangkunya baru dikenalnya. Dia malu dan segan untuk nanya-nanya tulisan yang ada di papan tulis.

Beberapa hari setelahnya, Reihana pun ke dokter mata. Dia diperiksa dengan melalui berbagai tahapan. Sebelum hasilnya diterima dari laboratorium, Reihana diberi obat (tablet yang dimakan) dan juga tetes mata. Menurut dokter sih, supaya penglihatan mata Reihana membaik, yang mungkin saja membuat Reihana gak usah pake kacamata.


Saya dan bapaknya Reihana sangat terkejut begitu denger penjelasan dokter mengenai hasil laboratorium. Mata kiri Reihana minus 4. Dan begitu pula mata kanannya, minus 4 juga tetapi dengan tambahan silindris 0,5. Tentu saja kami terkejut, sebab gak satu pun dari kami yang punya kelainan mata dan pake kacamata. Tak cuma itu saja kekagetannya, kami juga heran, bagaimana bisa Reihana bertahan tanpa kacamata dalam keadaan minus mata yang sebesar itu.

Menurut dokter, mata Reihana kemungkinan besar memang sudah rusak sejak kecil, bahkan mungkin sejak dari dalam perut saya. Sebab untuk bisa sampai ke minus besar seperti itu, untuk anak seusia Reihana (13 tahun), tak mungkin hanya karena kebiasaan membaca dan radiasi handphone, televisi, atau alat elektronik lainnya. Pasti memang sudah bawaan lahir atau genetis. Mungkin memang tidak langsung dari gen saya atau bapaknya. Bisa saja dari gen keluarga besar. Iya sih, mama saya (neneknya Reihana) dan juga kakak bapaknya (uwaknya Reihana) memang punya kelainan mata. Dokter juga menambahkan bahwa keadaan mata Reihana tersebut juga atas sumbangan dari kebiasaan dia membaca dan radiasi alat elektronik. Ah ya, satu lagi, Reihana juga sangat tidak suka sayuran. Dan ini juga pasti memberi andil dalam kerusakan matanya.

Setelah mendapat resep, saya dan Reihana pun langsung ke toko kacamata (optik). Kami memesan kacamata yang frame-nya dipilih Reihana sendiri. Meski memilih kaca yang paling tipis, besarnya minus mata Reihana tetap kelihatan. Dan walopun Reihana segan memakainya, karena harus, dia pun kini memakai kacamata. Semoga saja, minus matanya bisa berkurang. Atau setidaknya tidak bertambah. Kacamata oh kacamata...


Teman-teman, yuk kita cegah mata anak-anak kita dari kerusakan sejak dini. Sebab kalo sudah rusak, sangat susah sekali untuk menyembuhkannya. Apalagi mengingat anak-anak yang susah sekali untuk disiplin pake kacamata. Bukannya minusnya berkurang, yang ada nantinya malah nambah. Cara mencegahnya tak usah yang susah-susah. Cukup mengingatkan atau menegur mereka ketika melakukan kebiasaan membaca atau menonton yang salah (misalnya membaca atau menonton sambil tiduran atau di tempat yang gelap); mengatur dan selalu memberi perhatian ketika mereka menggunakan gadget (ponsel, tablet, laptop, dll); memberi mereka makanan yang kaya vitamin A; dan juga cara-cara lain yang memang mencegah kerusakan mata. 


25 komentar:

  1. waah... minusnya tinggi juga ya... tapi gpp, yg penting kalau baca, bisa terlihat kalau udah pake keacamata :)

    BalasHapus
  2. Lumayan gede yaaa minus 4, gw minus 3/4 tapi masih bertahan ngak mau pake kacamata

    BalasHapus
  3. Reihana sama dengan saya dulu, Mbak. Mulai berkacamata karena tidak bisa melihat lagi tulisan di papan tulis. Burem. Semoga berkurang minusnya Reihana ya, Mbak. Di rumah kami sekeluarga kecuali mama sy matanya minus :-)

    BalasHapus
  4. aku ketahuan minus kelas 2 smp dan waktu itu aku minus 0,25 mak...

    BalasHapus
  5. Wow itu minusnya besar sekali ya mba, sama seperti aku sekarang yang umurnya sudah seperempat abad lebih. Terima kasih juga mba atas tips yang diatas. Kadang saya sendiri masih suka careless akan hal ini suka nya membaca terus namun tidak memperhatikan kesehatan. Perlu dilakukan sejak dini untuk anak saya nantinya.

    BalasHapus
  6. hihi kok sama kayak aku sih, dulu pas awal- awal malu ke sekolah pakai kacamata, takut di olok. Akhirnya tanya- tanya deh sama teman sebangku. Bisa dikurangi minusnya mbak Nia, minum jus wortel dan apel tanpa gula.

    BalasHapus
  7. wah tinggi juga minusnya, saya juga dulu minum..rajin minum jus wortel bisa kurangin minum, dulu saya rajin minum just wortel juga alhamdulillah skrg lepas kacamata,

    BalasHapus
  8. Udah minus 4? Ayo Reihana, banyak konsumsi vit A dlm buah dan sayuran..

    BalasHapus
  9. Lha itu sebelum pake kacamata gimana ya? Anakku 3,5 aja nggak kliatan apa2 lo kalau nggak pake kacamata. Kt dokter memang masa pertumbuhan itu minus akan nambah terus. Jadi kalau sekarang sudah 4, ya kudu dijaga spy nambahnya nggak cepet.

    BalasHapus
  10. dua anakku juga minus. nurun dari alm. ayah mereka

    BalasHapus
  11. minusnya tinggi juga. Dari kecil aku gak mau pake kacamata, walopun waktu itu penglihatanku agak rabun gitu. Eh, Alhamdulillah sekarang sehat baik2 aja. Semoga Reihana juga seperti itu selalu sehat n baik2, n tetep ceria ^_^

    BalasHapus
  12. tinggi minusnya sampai 4. Rajin dikasi jus wortel mungkin bisa membantu

    BalasHapus
  13. Wah, jadi inget anakku, dia juga udah ngeluh buram kali liat ke papan tulis, tapi gak mau diajak periksa.

    BalasHapus
  14. Tinggi yaa, jadi inget dulu pertama kali pake kacamata langsung minus 3 :(
    dulu dokternya bilang minusnya bakal selalu naik sampe aku umur 20an (karena ada genetis juga), tapi ternyata di umur 17 stop naiknya. Yang penting emang kudu banyak vitamin, teh, selain menjaga pergadgetan ehehe...

    BalasHapus
  15. Cakep mbak ana. Duh gimana ya solusinya? Faiz bs nonton televisi berjam jam. Klo ponsel sudah jarang sich.

    BalasHapus
  16. wah saya dulu malah pengin banget pake kacamata biar keliatan keren, padahal mata normal adalah anugrah tuhan yang sangat luarbiasa :D

    BalasHapus
  17. Anakku satu pake kacamata, banyak bgt lagi minusnya. Ketauannya pas kelas 2 SD :( Kasian sebenernya karena jd menghambat beberapa aktivitas. Kayaknya sih turunan jg dr neneknya

    BalasHapus
  18. jus wortel bagus lho mak untuk mata, aku dulu minum juga parah tapi rutin konsumsi wortel malah sekarang lepas kacamata, wah mata reihana minumnya besar juga. smoga dengan dikontrol nantinya bisa berkurang

    BalasHapus
  19. ini aku juga agak2 ngeri, mba.. anakkuk skrg kalo liat tivi agak2 mencurengs gitu.. kudu periksa ke dokter mata, kayanya :(

    BalasHapus
  20. Waduuuh...tahu2 udah 4 saja ya minusnya. . .

    BalasHapus
  21. mudah-mudahan bisa berkurang minusnya ya

    BalasHapus
  22. Whaduuh.. Aku yg minus 3/4 aja udh kesiksa klo gk pake kacamata. Blur smua termasuk wajah orang. Kecuali klo duit sih, jelas bedanya. Haha. Btw, smoga ngga bertambah lg ya minusnya putrimu, mba.. :*

    BalasHapus
  23. Tetep ceria ya Rei, mudah2an minusnya ndak nambah lagi....

    BalasHapus
  24. duh... jav tuh klo lg ntn tv dsuruh mundur duduk, maju lagi maju lagi...

    BalasHapus
  25. semoga mata kita diberi kesehatan selalu ,cek ini juga ya HOSTEL MURAH DI BANDUNG COCOK UNTUK BACKPACKER

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)