24.10.13

Lebih Produktif dan Semakin Eksis dengan Notebook Tipis yang Ekonomis

Sebagai seorang emak beranak 3 dengan tanpa asisten rumah tangga, menyalurkan hobi nulis dan ngeblog itu bukan hal yang mudah. Apalagi jika salah satu dari anak-anak itu adalah balita yang lagi belajar jalan. Bisa dipastikan, anteng sedikit di depan laptop, si balita udah jatuh duluan.

Bukti sebagai emak 3 anak :D

Menulis adalah ‘me time’. Karenanya, setiap hari, walau pun bukan naskah buku, artikel, atau pun apdetan blog dan cuma curhatan di facebook atau pun ocehan di twitter, mutlak aku lakukan. Tanpa itu, bisa dipastikan, hidupku jadi timpang dan tak karu-karuan. Lebay? That’s every woman's middle name, kan? :D

Agar bisa eksis, narsis, serta tetap bisa nulis, aku butuh gadget yang keren. Gak sekadar bisa browsing, ngeblog, atau pun ngapdet di media sosial. Performa, tongkrongan, spek, hingga harganya juga harus keren. Tentu saja, sebab me time ini dijabanin tak hanya di rumah saja. Di sekolah anak saat mereka sedang anteng belajar bareng gurunya; di meja foodcourt saat anak-anak bermain di KiddyLand; di pinggiran kolam renang saat anak-anak dan suami main air; hingga di dapur di sela-sela memotong sayuran ketika memasak. Belum lagi menulis pada saat seminar, workshop, pelatihan, atau menjadi instruktur menulis di luar rumah. Tanpa gadget canggih dan keren, mustahil semuanya bisa dilakukan.

Berbagai aktivitasku di dunia menulis dan blogging

21.10.13

Meet Chef Arnold bareng Emak-emak Blogger

Beberapa waktu lalu, saat MakPuh Indah Julianti di grup Emak-emak Blogger ngasih kuis yang hadiahnya tiket gratis ikut demo masak bareng Chef Arnold, aku seneng bukan kepalang. Soalnya, selain bisa ketemu chef nan kiyut itu, untuk pertama kalinya, aku juga juga berkesempatan ikut kopdar bareng Emak-emak Blogger Bandung. Jadi ga heran, dengan semangat '45, aku pun ikut kuis itu. Dan Alhamdulillah, terpilihlah aku bersama 9 emak blogger asal Bandung lainnya. 

Begitu mendekati Hari H, kekhawatiran untuk bisa ikutan acara ketemu Chef Arnold mulai dateng. Si kecil #BabyZ tiba-tiba sakit. Entah karena mau ditinggal emaknya atau emang si sakit itu keterlaluan :D, #BabyZ pun jadi rewel. Dari mulai muntah-muntah, diare, panas, sampe batuk pilek. Tapi Alhamdulillah, walau pun gak ke dokter karena aku males (gara-gara dokter-dokter di Soreang itu demen banget ngasih antibiotik, apa pun sakit si bayi dan aku gak tega liat si bayi harus nenggak antibiotik sampe habis), akhirnya #BabyZ pun sembuh. Ya, batuk pilek dikit mah jamak lah ya. Itu mah emang penyakit yang awet. Nanti juga sembuh sendiri. 

Hari Minggu tangal 20 Oktober pun tiba #halah. Ternyata eh ternyata, batuk pilek #BabyZ makin parah. Mendekati jam-jam aku harus pergi, si bungsu yang biasanya tidur siang tibra itu, mendadak rewel. Sempat terpikir untuk cancel ikut acara itu. Tapi karena udah kadung janji dan gak enak sama Emak-emak Blogger yang udah dikasih jatah 10 tiket dan kalo aku ga pergi berarti buang 1 tiket sekaligus ngilangin kesempatan emak blogger Bandung lainnnya, aku pun nekad untuk pergi. Satu jam sebelum pergi, si bayi yang mau berumur 1,5 tahun itu pun, aku kasih obat. Eh ternyata, batuk pilek dan ingus-ingusnya yang sejabrod itu mau juga berkurang. Alhasil, dia pun bisa dibebenjoin neneknya. So, aku pun bisa pergi melenggang dengan tenang. Bareng misua tercinta tentunya.

19.10.13

Si Jago Kandang yang Kian Cemerlang

“Mi, waktu kecil cita-citanya apa sih?” tanya Radit sepulang sekolah, sewaktu dia masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak.
“Dokter,” jawab saya. “Eh, kok nanya cita-cita. Tadi ditanya ibu guru di sekolah?” saya balik bertanya.
“Iya,” jawab Radit pendek.
“Radit jawab apa?” tanya saya lagi.
“Enggak jawab apa-apa. Malu!” Radit terdiam.
“Kok malu?” saya terheran.
Radit cuma tersenyum.


Percakapan kami mengenai cita-cita Radit waktu itu, adalah kali yang pertama. Sebab sesudahnya, Radit menjadi sering bercerita kepada saya mengenai hal yang sama. Sebelum ditanya ibu gurunya tempo hari, Radit pernah mengutarakan ketertarikannya untuk menjadi seorang astronot. Keseruan saat bisa melihat bintang dan juga bulan secara langsung, konon menjadi alasan dia. 

Begitu masuk kelas 1 SD, cita-cita Radit berubah lagi. Kekaguman dia akan sosok seorang pilot yang bisa menerbangkan pesawat terbang, membuat dia ingin menjadi orang yang serupa. Ya, seorang pilot. Menurutnya, sambil mengemudi alat yang hebat, dia bisa sekalian keliling dunia.

Hobi Radit dalam bermain game ternyata juga memengaruhi cita-citanya. Tanpa banyak berpikir, dalam sebuah percakapan, dia menyatakan perubahan cita-citanya itu. Lagi-lagi alasannya hampir sama. Membuat game akan sangat mengasyikkan. Dan katanya, dia akan membuat game-game impian yang selama ini sangat diinginkannya.