21.10.13

Meet Chef Arnold bareng Emak-emak Blogger

Beberapa waktu lalu, saat MakPuh Indah Julianti di grup Emak-emak Blogger ngasih kuis yang hadiahnya tiket gratis ikut demo masak bareng Chef Arnold, aku seneng bukan kepalang. Soalnya, selain bisa ketemu chef nan kiyut itu, untuk pertama kalinya, aku juga juga berkesempatan ikut kopdar bareng Emak-emak Blogger Bandung. Jadi ga heran, dengan semangat '45, aku pun ikut kuis itu. Dan Alhamdulillah, terpilihlah aku bersama 9 emak blogger asal Bandung lainnya. 

Begitu mendekati Hari H, kekhawatiran untuk bisa ikutan acara ketemu Chef Arnold mulai dateng. Si kecil #BabyZ tiba-tiba sakit. Entah karena mau ditinggal emaknya atau emang si sakit itu keterlaluan :D, #BabyZ pun jadi rewel. Dari mulai muntah-muntah, diare, panas, sampe batuk pilek. Tapi Alhamdulillah, walau pun gak ke dokter karena aku males (gara-gara dokter-dokter di Soreang itu demen banget ngasih antibiotik, apa pun sakit si bayi dan aku gak tega liat si bayi harus nenggak antibiotik sampe habis), akhirnya #BabyZ pun sembuh. Ya, batuk pilek dikit mah jamak lah ya. Itu mah emang penyakit yang awet. Nanti juga sembuh sendiri. 

Hari Minggu tangal 20 Oktober pun tiba #halah. Ternyata eh ternyata, batuk pilek #BabyZ makin parah. Mendekati jam-jam aku harus pergi, si bungsu yang biasanya tidur siang tibra itu, mendadak rewel. Sempat terpikir untuk cancel ikut acara itu. Tapi karena udah kadung janji dan gak enak sama Emak-emak Blogger yang udah dikasih jatah 10 tiket dan kalo aku ga pergi berarti buang 1 tiket sekaligus ngilangin kesempatan emak blogger Bandung lainnnya, aku pun nekad untuk pergi. Satu jam sebelum pergi, si bayi yang mau berumur 1,5 tahun itu pun, aku kasih obat. Eh ternyata, batuk pilek dan ingus-ingusnya yang sejabrod itu mau juga berkurang. Alhasil, dia pun bisa dibebenjoin neneknya. So, aku pun bisa pergi melenggang dengan tenang. Bareng misua tercinta tentunya.

19.10.13

Si Jago Kandang yang Kian Cemerlang

“Mi, waktu kecil cita-citanya apa sih?” tanya Radit sepulang sekolah, sewaktu dia masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak.
“Dokter,” jawab saya. “Eh, kok nanya cita-cita. Tadi ditanya ibu guru di sekolah?” saya balik bertanya.
“Iya,” jawab Radit pendek.
“Radit jawab apa?” tanya saya lagi.
“Enggak jawab apa-apa. Malu!” Radit terdiam.
“Kok malu?” saya terheran.
Radit cuma tersenyum.


Percakapan kami mengenai cita-cita Radit waktu itu, adalah kali yang pertama. Sebab sesudahnya, Radit menjadi sering bercerita kepada saya mengenai hal yang sama. Sebelum ditanya ibu gurunya tempo hari, Radit pernah mengutarakan ketertarikannya untuk menjadi seorang astronot. Keseruan saat bisa melihat bintang dan juga bulan secara langsung, konon menjadi alasan dia. 

Begitu masuk kelas 1 SD, cita-cita Radit berubah lagi. Kekaguman dia akan sosok seorang pilot yang bisa menerbangkan pesawat terbang, membuat dia ingin menjadi orang yang serupa. Ya, seorang pilot. Menurutnya, sambil mengemudi alat yang hebat, dia bisa sekalian keliling dunia.

Hobi Radit dalam bermain game ternyata juga memengaruhi cita-citanya. Tanpa banyak berpikir, dalam sebuah percakapan, dia menyatakan perubahan cita-citanya itu. Lagi-lagi alasannya hampir sama. Membuat game akan sangat mengasyikkan. Dan katanya, dia akan membuat game-game impian yang selama ini sangat diinginkannya.

13.10.13

Horace Wells, Dokter Pertama Pengguna Zat Anestesi (1815-1848)

Credit
Penggunaan obat-obatan yang sekarang dikategorikan sebagai narkoba sebenarnya sudah lama diketahui. Di zaman Romawi kuno, Hypocrates bahkan sudah memakai opium sebagai obat tidur. Di abad ke-15, bangsa Indian juga menggunakan opium di dalam upacara ritual. Di Indonesia sendiri, zat-zat yang termasuk psikotropika sudah masuk di abad ke-17 yang diperkenalkan oleh Belanda.

Narkoba di dunia medis merupakan barang yang legal. Hal ini karena barang-barang tersebut digunakan untuk keperluan penenang, penahan rasa sakit, anestesi, hingga obat untuk penyakit tertentu. Akan tetapi karena banyak digunakan di luar dunia medis, pemakaian barang-barang ini disebut sebagai penyalahgunaan.

Adalah Horace Wells, seorang pria berkebangsaan Inggris yang menjadi dokter pertama, tepatnya dokter gigi pertama di dunia yang menggunakan ‘narkoba’ sebagai zat anastesi atau zat pembius guna menghilangkan rasa sakit ketika dilakukan pembedahan jaringan tubuh. Berkat jasa beliau, kini kita bisa melakukan bedah operasi jaringan dan organ tubuh tanpa rasa sakit.