3.8.22

Cerita Penyandang Disabilitas dan OYPMK yang Berdaya


Halo manteman, apa kabar? Semoga selalu sehat. Manteman, masih pada inget dengan tulisan-tulisan saya mengenai Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK), kan? Kalo udah lupa, bisa kembali membaca tulisan saya tentang mereka di sini

Talkshow Ruang Publik KBR : Peran Pemerintah Dalam Upaya Peningkatan Taraf Hidup OYPMK

Ngomongin tentang OYPMK, beberapa waktu yang lalu, saya kembali berkesempatan menyimak cerita tentang mereka. Ya, di acara Talkshow Ruang Publik KBR yang temanya mengenai Peran Pemerintah Dalam Upaya Peningkatan Taraf Hidup OYPMK. Di kesempatan kali itu dihadirkan narasumber Pak Agus Suprapto, DRG. M.Kes  yang merupakan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK RI; dan juga Mas Mahdis Mustafa, yangf merupakan salah satu dari OYPMK Berdaya. Mas Mahdis ini berprofesi sebagai supervisor cleaning service di PT. Azaretha Hana Megatrading.

Di tulisan saya terdahulu, saya pernah menyebutkan bahwa stigma di masyarakat mengenai kusta, pasien, dan juga OYPMK ini masih melekat kuat. Bahkan hingga sekarang, OYPMK serta para penyandang disabilitas banyak yang masih mengalami berbagai tantangan dan kesulitan. Salah satunya ya tantangan di dalam menghadapi minimnya akses pekerjaan.

Moderator : Pak Rizal Wijaya

Dari sebuah data disebutkan, di tahun 2019, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) kaum disabilitas itu hanya 45,9%, saja. Ini berarti, dari 10 penyandang disabilitas yang berada di usia kerja, cuma 5 orang saja yang bisa masuk di dalam angkatan kerja. Dan angka ini juga cuma sepertiga saja dari TPAK pekerja non disabilitas. Dari sini bisa terlihat bahwa para penyandang disabilitas dan OYPMK ini sangat sulit dalam mendapatkan kesempatan bekerja.

Masih Kuatnya Stigma Masyarakat Terhadap Penyandang Disabilitas dan OYPMK

Rendahnya nilai TPAK ini tak lepas dari stigma yang menganggap penyandang disabilitas dan OYPMK sebagai kelompok masyarakat yang tidak produktif. Mereka dianggap sebagai kelompom yang kemampuannya layak.

Mas Mahdis mengatakan, OYPMK memang banyak yang tidak berpendidikan, tidak punya keahlian dan keterampilan, serta punya banyak keterbatasan fisik. Apalagi banyak dari mereka juga yang berasal dari keluarga menengah ke bawah. Berbagai keterbatasan ini bukanlah tidak ada alasan. Banyak dari mereka yang butuh waktu pengobatan yang panjang serta rutin agar bisa sembuh. Dan ini jelas menghambat proses pendidikan yang mereka jalani. Tapi, walaupun demikian, mereka juga manusia. Mereka juga punya pikiran yang bisa mengeluarkan ide dan juga punya kemauan. Jika saja diberi kesempatan dan juga pelatihan yang memadai, pendidikan dan keterampilan mereka bisa meningkat. 

Mas Mahdis, narasumber, OYPMK berdaya

Yang jadi hambatan juga datang dari stigma lain akan mereka yang datang dari penyedia kerja. Yakni kekhawatiran akan kerugian materiil ketika menyediakan akses untuk bekerja bagi para penyandang disabilitas, termasuk OYPMK.

Menderita sakit kusta atau pun menjadi penyandang disabilitas bukanlah kemauan siapa pun. Tetapi ketika sudah terjadi, semua tentu harus bisa melewatinya. Begitu kata Mas Mahdis. Beliau yang menderita kusta di tahun 2010, awalnya tidak tahu jika beliau menderita kusta. Dia tahunya hanya alergi.

“Tapi kok alergi pengobatannya lama? Karena penasaran saya baca itu nama obatnya lalu cari informasi obat apa itu barulah saya tahu kalau saya menderita kusta.” Jelasnya.

Setelah itu barulah dia sadar mengenai penyakitnya. Hatinya sedih. Dia jadi tidak bersemangat. Ditambah kondisi badannya sakit, kulitnya yang rusak, dan jadi beban keluarga. Namun ketika kader NLR (Netherland Leprosy Relief) yang merupakan organisasi non-pemerintahan (LSM) yang mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas mendatanginya, beliau menjadi semangat. Hingga akhirnya beliau gabung dan aktif di organisasi tersebut. Dia akhirnya jadi percaya diri dan ingin bekerja supaya tidak ingin jadi beban keluarga.

Di awal melamar kerja, Mas Mahdis menghubungi bagian HRD terlebih dahulu. Dia jujur mengenai keadaannya yang merupakan OYPMK. Dia bertanya mengenai bisa – tidaknya beliau bekerja di sana.  Jika perusahaan itu menerima, maka dia akan melanjutkan ke proses pendaftaran. Tapi jika tidak,  dia akan mencari perusahaan lain. 

Kegigihannya di dalam mencari kerja akhirnya berbuah manis. Beliau pun diterima di PT. Azaretha Hana Megatrading sebagai tenaga kebersihan dengan sistem outsourcing yang kontraknya setiap tahun.

Jelas, Mas Mahdis senang bisa bekerja di sana. Sekarang, beliau membawahi dua divisi yang berisikan 20 orang. Kesemuanya laki-laki dan dari divisi tersebut cuma satu orang saja yang bukan OYPMK.

Mas Mahdis bercerita, bahwa menjadi supervisor cleaning servis di perusahaan jelas tidak mudah.  Beliau harus berjuang keras. Tak lupa, beliau juga tetap menjaga kesehatan dan kualitas hidupnya. Dan terhadap rekan-rekan kerja yang juga sama-sama OYPMK beliau selalu menegaskan agar jangan mau dipandang sebelah mata. Selalu bekerja keras supaya punya kemampuan yang tak kalah dengan pekerja normal lainnya.

Pak Agus Suprapto, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK RI

Program Pemerintah untuk Peningkatan Taraf Hidup Disabilitas dan OYPMK

Itu cerita dari Mas Mahdis, Nah Pak Agus Suprapto, DRG. M.Kes  yang merupakan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK RI menjelaskan bahwa pemerintah tentu saja terus menjalankan program terkait pemberdayaan dan kesehatan bagi penderita kusta. Yakni dengan terus mengadakan sosialisasi supaya stigma buruk terhadap OYPMK bisa hilang. Termasuk program peningkatan kualitas para OYPMK. Caranya yaitu dengan terus mendorong penderita kusta untuk berobat rutin yang gratis di puskesmas. Di samping juga pengupayaan kesetaraan bagi penyandang disabilitas untuk bisa hidup normal dan mendapatkan perlakuan yang layak.

Dukung Mereka, Yuk!

Apa yang disampaikan Mas Mahdis sangat membuka mata. Penyandang disabilitas dan OYPMK juga bisa bekerja normal seperti yang lainnya. Semoga saja akan semakin banyak perusahaan yang memperkerjakan mereka. Dan pemerintah, mendukung akan hal itu. Yuk kita dukung mereka juga. Caranya yakni bisa dengan ikut menghilangkan stigma terhadap mereka. Bisa kan? Tentu saja bisa!




19 komentar:

  1. Seru bgt ternyata klo kita bisa memberikan kesempatan utk OPyMK

    Intinya jangan ada stigma, dan beri kesempatan setara ya

    BalasHapus
  2. Kalau dikasih kepercayaan, keterampilan dan kesempatan mereka para penyandang disabilitas OYPMK juga bisa berdaya dan berprestasi ya. Semoga stigma terhadap OYPMK makin hilang, dan semakin banyak penyedia tenaga kerja yg mau menerima pekerja penyandang disabilitas

    BalasHapus
  3. Memang stigma negatif masih aja terus terjadi. Padahal penyandang disabilitas dan OYPMK juga bisa bekerja normal seperti yang lainnya. Hanya saja perlu diberi kesempatan agar mereka bisa diperlakukan sebagaimana mestinya.

    BalasHapus
  4. Usaha Mas Mahdis dalam mencari pekerjaan patut dicontoh, nih. Beliau berinisiatif untuk bertanya terlebih dahulu kepada perusahaan apakah bisa menerima OYPMK dan alhamdulillah ada perusahaan yang bisa menerimanya. Karena setiap orang pasti memiliki keahliannya masing-masing meskipun pernah sakit Kusta, atau sakit lainnya, bahkan penyandang disabilitas.

    BalasHapus
  5. Bener2 ya teh kalau lagi down gitu terus ada yg kasih semangat, dukungan positif apalagi terkait penyakitnya. Stigma aja yg bikin parah, padahal kalau langsung ditangani, nggak malu2 kan bisa lekas sembuh. Moga ke depannya hilang stigma negatif itu

    BalasHapus
  6. Salut sama Mas Mahdis yang jujur tentang kondisinya sebelum melamar kerja dan makin kagum sama perusahaannya yang memberi kesempatan. Semoga stigma negatif semakin pudar dan akan semakin banyak kesempatan kerja bagi mereka yaah

    BalasHapus
  7. Semoga mereka yang pernah mengalami kusta (OYPMK) bisa dapat kesempatan kerja. Juga bisa menggunakan kesempatan dengan bekerja sama baiknya seperti bukan OYPMK

    BalasHapus
  8. Support system dari keluarga dan lingkungan mansyarakat ini penting bagi mereka ya mbak. Semoga dengan adanya Program Peningkatan Taraf Hidup penderita OYPMK dari Pemerintah, hidup mereka semakin berkah dan bermanfaat,aamiin

    BalasHapus
  9. It is such a great support. Penyandang disabilitas bisa tetap aktif dan juga produktif ya mba

    BalasHapus
  10. Jujur aja, stigma negatif ini melekat karena sifat penularan penyakitnya :(

    sebaiknya KBR juga memberitakan - bahwa yang sudah sembuh total itu sudah mendapat jaminan atau referensi - kalau yang belum sembuh atau dalam masa pengobatan berarti belum bisa masuk dunia kerja

    BalasHapus
  11. Semakin banyak dukungan dari pemerintah dan instansi mengenai Penyandang Disabilitas dan OYPMK mendapatkan kesempatan yang sama di dunia kerja sesuai dengan skills yang dimilikinya. Semoga Penyandang Disabilitas dan OYPMK semakin percaya diri.

    BalasHapus
  12. Salud ya teh Nia dengan semangat Mas Mahdis sebagai penyamdang OYPMK pantang menyerah yang akhirnya berbuah manis menjadi Spv.Cleanning Service, keren

    BalasHapus
  13. Intinya selalu dukung mereka dengan diberikan motivasi yang membangun, dan bantu mereka supaya bisa menjadi orang normal seperti pada umumnya

    BalasHapus
  14. Kasiaan kalau selama ini di diskriminasi ya...
    Mereka kan butuh hidup normal butuh diakui juga. Semoga makin banyak perusahaan yang menerima OYPMK

    BalasHapus
  15. Salut untuk Mas Mahdis yang menginspirasi ini, keren sekali membawahi dua divisi yang berisikan 20 orang dan cuma satu orang saja yang bukan OYPMK. Memnag kita semua mesti dukung penyandang disabilitas dan OYPMK agar bisa bekerja normal seperti yang lainnya.

    BalasHapus
  16. Pasti bisa ya mak .. Karena OYPMK sudah membuktikan kalau bisa juga beraktifitas seperti yang lain yang bukan OYPMK..

    BalasHapus
  17. Dulu, anak muridku ada yang kek gini tapi dukungan orang sekitarnya dan panti tempat dia tinggal besar banget , akhirnya ia mampu menyelesaikan sekolah dengan baik dan sekarang berdaya guna bahkan sudah menikah

    BalasHapus
  18. sedih ya karena pernah menderita kusta dan mengalami disabilitas, saudara-saudara kita dipandang sebelah mata sehingga menghalangi mereka untuk mendapatkan pekerjaan sesuai pendidikan dan keahlian mereka...

    BalasHapus
  19. sedih ya karena pernah menderita kusta dan mengalami disabilitas, saudara-saudara kita dipandang sebelah mata sehingga menghalangi mereka untuk mendapatkan pekerjaan sesuai pendidikan dan keahlian mereka...

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)