19.4.14

Sembuhkan Pasien TB dengan Obat Gratis

Masih ingat dengan cerita tentang adik saya yang kena penyakit TB beberapa waktu yang lalu? Masih ingat juga dong dengan gejala-gejala penyakit TB ini? Supaya tidak lupa, saya ingatkan lagi ya, pasien TB aktif itu memiliki ciri-ciri atau gejala-gejala sebagai berikut.
  • Batuk-batuk yang disertai dahak berwarna abu-abu atau kuning, dan bahkan bisa disertai darah lebih dari 2 minggu.
  • Sakit dada
  • Penurunan berat badan drastis.
  • Kelelahan dan tidak fit.
  • Demam
  • Berkeringat tetapi menggigil di malam hari.
  • Kehilangan nafsu makan.

http://www.corbisimages.com

Nah, mengingat bahwa pasien TB aktif itu bisa menularkan penyakitnya kepada siapa saja dan kapan saja, termasuk kita dan orang-orang di sekeliling kita, jadi ketika kita mendapati orang di sekitar kita dengan gejala-gejala yang disebutkan di atas, sudah menjadi kewajiban kita untuk segera mengajaknya berobat. Ya, berobat ke puskesmas atau ke rumah sakit.

Jangan Takut, Obat TB Itu Gratis!
Penyakit TB, menurut hasil Riskesdas atau survey PSP terbaru adalah penyakit penyebab kematian nomor satu dari golongan penyakit infeksi pada golongan semua usia. Di tahun 1999, WHO memperkirakan, setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TB dengan kematian karena penyakit ini sekitar 140.000. Diperkirakan, pada setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130.000 penderita baru TB baru BTA positif (http://blog.tbindonesia.or.id).

Penyakit TB banyak menyerang kelompok usia produktif, kelompok ekonomi lemah, dan kelompok berpendidikan rendah. Karenanya, pengobatan TB melalui obat gratis di semua rumah sakit pemerintah dan puskesmas menjadi keharusan dalam penanggulangan penyakit menular yang satu ini. Supaya jumlahnya dari tahun ke tahun bisa ditekan, dikurangi, dan mungkin pada akhirnya bisa hilang. Dan semua rakyat Indonesia bisa terbebas dari penyakit TB.

Ya, benar sekali. Obat TB itu gratis 100%. Adik saya sudah membuktikan pengobatan ini, dari awal terserang hingga dia sembuh. Yaitu selama 6 bulan. Awalnya, dulu kami membawa dia ke dokter di sebuah rumah sakit yang terkenal bonafid dan mahal. Pengobatan intensif yang langsung ditangani dokter terbaik tentu menjadi alasannya. Akan tetapi, setelah berkonsultasi dengan dokter tersebut, akhirnya adik saya berobat di puskesmas yang dekat dengan rumah kami. Sebab menurutnya, obat TB itu sama saja, baik dari rumah sakit mahal atau pun puskesmas, karena obat tersebut sudah ada standardnya dari pemerintah, bahkan Badan Kesehatan Dunia, WHO. Dan yang lebih menguntungkan dengan berobat di puskesmas terdekat, jelas itu adalah mudahnya berkomunikasi, pelayanan, pemantauan, serta pemberian obat jika sudah habis.

Ini Lho Obat TB…
Dulu, di tahun 2001, obat anti TB (OAT) yang dikonsumsi adik saya itu ada beberapa buah dengan ukuran, bentuk, dan warna yang bermacam-macam. Sungguh, waktu itu, saya melihat sendiri bagaimana adik saya merasa enggan sekali ketika mengonsumsi obat-obat tersebut setiap harinya. Tapi karena ingin sembuh dan juga dukungan keluarga, setumpuk obat pemberian dokter itu selalu patuh diminumnya.

Obat TB yang bermacam-macam sebelum ada FDC (http://www.corbisimages.com)
Beruntung sekali, sejak tahun 2003, OAT yang bermacam-macam itu kini sudah berhasil dikombinasikan dalam bentuk tablet kombinasi  atau paket  fix dose combination (FDC). Paket obat yang merupakan kombinasi obat Isoniazid (INH), Rimfapisin, Pirazinamid, dan Entambutol tersebut kini hadir hanya dalam satu tablet. Sehingga keengganan para pasien dalam mengonsumsi obat tersebut setiap hari selama 6 bulan, bisa dikurangi dan dihilangkan. Dan tentu saja, semua pasien bisa sembuh hingga tuntas.

Isoniazid, Rifampisin, dan Pirazinamid sendiri itu adalah obat yang bersifat bakterisid, yaitu obat yang mampu membunuh bakteri. Adapun Etambutol itu adalah obat yang bersifat bakteriostatik, yaitu obat yang mampu mencegah pertumbuhan bakteri sehingga jumlahnya tidak terus bertambah.

Mengapa OAT harus dikonsumsi setiap hari?
Setiap kuman penyakit, dalam hal ini adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis, mempunyai dosis tertentu terhadap setiap obat agar dia bisa mati (lethal dosage). Misalnya sejumlah X. Nah, agar si bakteri tersebut mati di dalam tubuh kita, kita harus mengonsumsi obat tersebut sebanyak X. Akan tetapi, karena tubuh kita mempunyai kemampuan menerima obat yang tidak sebanyak X setiap harinya, misalkan Y. Maka, obat sejumlah X bisa masuk ke dalam tubuh kita dalam sekian waktu (dalam hal ini bulan) dengan maksimal per harinya sebanyak Y.

Jika obat per harinya sebanyak Y tidak dimakan, meskipun hanya beberapa hari saja, sudah pasti waktu penyembuhan penyakit akan mundur. Sebab obat sebanyak X tidak masuk ke dalam tubuh kita. Hal yang lebih membahayakan daripada waktu penyembuhan yang mundur sebenarnya adalah resistensi bakteri terhadap obat itu. Ya, jika pengobatan tidak dilakukan sesuai anjuran, bakteri malah bisa menjadi tahan terhadap obat tersebut. Jika sudah demikian, bukan tidak mungkin, pengobatan harus dilakukan dari awal dengan dosis harian yang lebih tinggi.

Seperti apa OAT FDC itu?
OAT FDC dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu FDC untuk dewasa dan FDC untuk anak-anak. Tablet FDC untuk dewasa terdiri atas tablet 4FDC dan 2FDC. Tablet 4FDC mengandung 75 mg Isoniasid (INH), 150 mg Rifampisin, 400 mg Pirazinamid, dan 275 mg Etambutol. Adapun tablet 2 FDC mengandung 150 mg Isoniasid (INH) dan 150 mg Rifampisin. Baik tablet 4FDC maupun tablet 2FDC pemberiannya disesuaikan dengan berat badan pasien dan tahapan pengobatannya (tahapan intensif atau tahapan lanjutan).

Obat Anti TB sekarang (OAT FDC)

Tablet FDC untu anak-anak terdiri atas tablet 3FDC dan 2FDC. Kedua jenis tablet diberikan kepada pasien TB anak yang berusia 0 – 14 tahun. Tablet 3FDC mengandung 30 mg INH, 60 mg Rifampisin dan 150 mg Pirazinamid. Adapun tablet 2FDC mengandung 30 mg INH dan 600 mg Rifampisin. Seperti halnya dengan pemberian pada pasien dewasa, pemberian jumlah FDC pada pasien anak juga disesuaikan dengan berat badan si pasien anak tersebut dan tahapan pengobatannya (tahapan intensif atau tahapan lanjutan).

Yuk Jadi PMO!
Meskipun OAT FDC kini memudahkan para pasien untuk meminum obat, rutinitas keseharian yang terus menerus harus meminum obat setiap hari selama 6 bulan pasti akan sangat membosankan. Bukan tidak mungkin, sesekali atau bahkan beberapa kali, pasien enggan mengonsumsi obat. Apalagi ketika si pasien sudah merasa sehat dan bugar. Tak jarang, mereka merasa bahwa mereka tidak perlu lagi meminum obat.

Jika keengganan pasien dalam mengonsumsi obat itu dibiarkan, itu akan sangat membahayakan. Pengulangan pengobatan dari awal hingga resistensi bakteri terhadap obat akan sangat mungkin terjadi.

Agar pengulangan pengobatan dari awal hingga resistensi bakteri terhadap obat bisa dihindari, setiap pasien TB harus diawasi dan didampingi pengobatannya. Ya, setiap hari, mereka harus diingatkan untuk selalu mengonsumsi obat tepat waktu. Dan jika mungkin, kitalah yang memberikan obat dan minumnya. Tujuannya tentu saja agar pengobatan yang dilakukan bisa tuntas dan sembuh total. Akan sangat sia-sia bukan jika pengobatan yang sudah dijalankan beberapa bulan itu harus diulang lagi dari awal hanya karena tidak atau lupa minum obat beberapa kali saja?

Yuk jadi pendamping minum obat (PMO) bagi para pasien TB! Tak hanya demi kesembuhan si pasien saja. Lebih melihat jauh ke depan bahwa pasien TB aktif itu bisa menularkan penyakitnya pada sekurang-kurangnya 10 hingga 15 orang per tahunnya, tentu akan sangat menakutkan. Bisa saja kan dia menularkannya pada kita atau orang yang kita sayangi?

http://www.corbisimages.com
PMO itu sangat penting bagi pasien TB. Saya baru menyadari pentingnya saat melihat adik saya sendiri. Ya, kebosanan itu sangat sering datang. Dan lebih-lebih saat dia sudah terlihat sehat. Sifat keras kepalanya yang keukeuh tidak lagi butuh obat sangat susah sekali dilunakkan. Tapi dengan bujukan, kesabaran, kasih sayang, dan juga disiplin dari kedua belah pihak (pasien dan PMO) akhirnya dia mau juga minum obat. Hingga 6 bulan berjalan. Dan akhirnya sembuh sampai sekarang.

Tapi, tetep ingat ya, saat menjadi PMO, pastikan kita selalu menjaga kesehatan tubuh kita dari kuman atau bakteri TB yang mungkin ke luar dari tubuh si pasien melalui batuknya. Jika si pasien masih batuk-batuk, gunakan masker. Dan setelahnya, pastikan kita mencuci tangan sampai bersih dengan sabun atau hand sanitizer. Tak lupa, menjaga kebersihan rumah, peralatan makan, dan semua tempat, termasuk menjaga kondisi tubuh agar selalu sehat juga tetap prioritas. Sehingga si pasien bisa terobati dan para anggota keluarga yang lain bisa terhindar dari penularan penyakit ini.

Referensi dan Sumber Gambar
  1. http://www.depkes.go.id/
  2. http://www.tbindonesia.or.id/
  3. http://blog.tbindonesia.or.id
  4. http://health.liputan6.com/read/521884/bukan-batuk-biasa-waspadai-tbc-dengan-8-gejala-khasnya
  5. http://www.health.qld.gov.au/chrisp/tuberculosis/documents/factsheets/indonesian/indonesian_FS_2.pdf
  6. http://buletinsehat.com/wp-content/uploads/2014/01/4-FDC-Obat-TBC.jpg
  7. http://www.tbdots.com/cs/groups/public/@sge_com_tbdots/documents/images/n_prod_227920.jpg
  8. http://yosefw.wordpress.com/2007/12/23/terapi-fdc-fixed-dose-combination-pada-pasien-tb/
  9. http://www.corbisimages.com

34 komentar:

  1. Alhamdulillah ya mak hari gini masih ada yg gratisan karena di lain pihak obat gratis ini memang sangat dibutuhkan...


    Saya jg ada postingan baru mak, mungkin berkenan menyimak...
    http://mieagoblog.blogspot.com/2014/04/sembuhkan-tb-tanpa-bayar-alias-gratis_18.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Apalagi untuk kalangan bawah yang memang banyak yang mengidap penyakit ini...

      Hapus
  2. rasa bosan kayaknya yang bakal sering menghampiri penderita TB ya Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mak. Rutinitas yang mengharuskan minum obat pasti membuat penderta TB bosan...

      Hapus
  3. Nah ini dia... tulisan tentang obatnya menonjol sekali. Semoga menang ya Mak.. :)

    BalasHapus
  4. Kalau nggak ikut lomba gini nggak ngeh ternyata TB itu bahaya banget ya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, Mak. Bersyukur banget bisa ikut lomba ini. Jadinya tahu lebih banyak soal TB dan menyebarkannya untuk orang lain...

      Hapus
  5. menularnya itu lho yang mengerikan
    kan belom banyak yang mengerti benar soal TB ya

    semoga menang postingannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mak. Tapi semoga saja dengan banyaknya informasi mengenai TB ini, kesembuhan dan penularannya bisa menurun dan dicegah...
      Makasih, Mak. :)

      Hapus
  6. Balasan
    1. Iya, Mas. Tapi dengan bisa disembuhkannya hingga tuntas, TB gak ngeri kok. Tapi tetep, kita harus selalu menjaga kesehatan dan lingkungan, serta terus waspada...

      Hapus
  7. ga mau ah, mak Nia jadi PMO, berarti ada pasien Tb dong di sekitarku >_<
    aku mau penyuluhan aja, boleh yaaa... boleeeh...

    BalasHapus
  8. mudah-mudahan banyak yang mengetahui info tentang obat gratis ini ya mbak

    BalasHapus
  9. Dewi Komalasari11.49

    Wah... senng deh bisa baca lebih jauh tentang TB. Lomba blog ini bener-bener bikin kita 'ngeh' dengan penyakit yang satu ini. Sukses Mak lombanya. Tulisannya bagus. Semoga menang. :)

    BalasHapus
  10. Wah, berita bagus, obat gratis untuk pengidap TB! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Yuk kita sebarkan info ini... :)

      Hapus
  11. peran pmo itu penting bgt yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mak. Supaya pasien TB gak lupa minum obat demi kesembuhannya...

      Hapus
  12. Iya mbak. Obat TB iitu grattis tapi membosankan ya. Beruntung ada variann barrunya. Tapi tetep butuh PMOA agar konsistn minum obat selama 6 bulan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Supaya pasien TB bisa sembuh sesuai harapan....

      Hapus
  13. Ah ini ikutan giveway juga ya :)
    Semoga berhasil ya sist

    BalasHapus
  14. terima kasih udah share post ini, jadi semakin tau ttg TB dan penanganannya :)

    xx,
    felishmichelle.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Yuk ikut menyebarkan info positif ini juga. :)

      Hapus
  15. Adiknya sendiri yang kena TB ya, Mak. Harus bersabar ya baik penderita maupun perawatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Kesabaran itu kunci utama kesembuhan penyakit TB. :)

      Hapus
  16. gak perlu khawatir lagi sama biaya pengobatan, ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Gratis... tis... tis. :)

      Hapus
  17. Temukan dan tuntaskan TB, Indonesia bebas TB pasti tercapai...

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)