11.4.13

Mizan, Budaya Baca, dan Sebuah Mimpi

Tak tuk tak tuk tak tuk tak tuk tak tuk ....
Bunyi pelan tuts-tuts keyboard laptop mengagetkanku pagi itu. Bagaimana tidak, sepagi itu, biasanya belum ada orang rumah yang bangun, apalagi memakai laptop. Awalnya kupikir itu hanya khayalanku saja, tapi begitu ke ruang tengah, benar saja, seseorang sedang memakai laptopku. Dan dia adalah Reihana, puteri pertamaku.
"Teteh?" tanyaku heran.
"Ssssstttt ...," Reihana menempelkan telunjuk kanannya tepat di atas kedua bibirnya sebagai isyarat agar aku diam.
Aku semakin terheran.
"Teteh lagi apa?" tanyaku lagi.
"Umi jangan ribut dong. Teteh kan lagi nulis," jawabnya sambil cemberut.
Aku pun menyerah. Baiklah, jika itu maunya. Aku pun kembali ke dapur dan membiarkan Reihana meneruskan kembali kegiatannya dengan laptopku.

Keherananku tak juga terjawab. Reihana tak juga mau menjelaskan mengenai kegiatannya di pagi buta itu. Tak hanya sekali, kegiatan itu dilakukan Reihana berulang-ulang. Kadang sepulang dari sekolah, sebelum mengaji, setelah main dari teman, dan bahkan di malam hari begitu dia terbangun. Aneh sekali. Dan aku belum tahu apa yang dilakukannya. Bisa saja aku mencuri tahu apa yang dilakukannya. Toh dia memakai laptopku. Tapi, aku tak mau melakukan itu. Aku ingin, Reihana sendiri yang mengatakan apa yang dilakukannya dengan laptopku.

Saat sedang asyik bermain dengan si bungsu, tiba-tiba Reihana datang menghampiri. Sambil senyum-senyum, dia lalu menggendong adik kecilnya.
"Mi, editin tulisan Teteh, dong," ucapnya singkat.
"Ngedit? Tulisan Teteh?" tanyaku heran.
"Iya, tulisan Teteh," jawabnya memperjelas.
"Tulisan apa? Lirik lagu girlband Korea?" tanyaku mengolok-olok.
"Bukan atuh! Buku Teteh," jawabnya sambil memainkan alisnya.
"Hah?! Teteh nulis buku?" tanyaku tak percaya.
"Hehehehe... iya. Teteh pengen jadi penulis cilik kayak penulis di buku-buku PBC dan Fantasteen yang Teteh baca itu," jawab Reihana panjang.
"Oh! Jadi, selama ini, Teteh make laptop Umi itu buat nulis buku?" Aku tersenyum.
Reihana tersipu malu.
"Ya gitu deh. Tapi jangan diketawain, ya!"

***

Penggalan cerita di atas terjadi beberapa bulan yang lalu. Kejadian itu benar-benar mengagetkan. Ya, tentu saja karena Reihana, puteri pertamaku tiba-tiba menulis cerita karena terpengaruh bacaan yang aku berikan. Buku-buku Pink Berry Club (PBC) dan Fantasteen. Tak masalah dengan idenya yang masih biasa saja atau pun bahasanya yang amburadul, mau menulis hingga selesai saja, sudah jadi kebahagiaan tersendiri buatku.
 
Aku, buku, dan budaya baca
Buku memang jendela dunia. Dengan buku, kita bisa tahu apa pun tanpa batasan ruang dan waktu. Segala benda di luar angkasa, semua makhluk hidup di dasar lautan, bahkan hingga oksigen yang mengalir di dalam pembuluh darah dijelaskan secara nyata di dalam buku. Tanpanya, orang-orang genius dan para pujangga mustahil ada di dunia.

Manfaat buku, secara pribadi sudah aku sadari sejak lama. Karenanya, aku ingin semua anggota keluarga turut merasakannya. Tak terkecuali dengan anak-anak. Aku ingin, anak-anak bisa mengenal buku sejak dini. Sehingga saat besar nanti, mereka gemar membaca sepertiku.

Buku memang banyak dipasaran. Akan tetapi buku berkualitas bisa dibilang jarang. Berkualitas di sini aku artikan sebagai buku yang tak hanya memberi ilmu baru, tetapi juga mengaitkan ilmu tersebut pada nilai-nilai agama Islam. Bukan cuma buku-buku umum, buku Sains, hingga buku cerita fiksi pun harus mengandung nilai-nilai islami ini.

Buku-buku terbitan Mizan memenuhi semua kriteria pilihanku. Dari mulai Si Sulung, anak yang tengah, dan bahkan Si Bungsu, sudah berhasil aku ‘kontaminasi’ dengan ‘virus’ buku terbitan Mizan.

Koleksi buku terbitan Mizan
 
Reihana, Si ABG yang gemar PBC
Reihana dan PBC favoritnya
Anakku yang paling besar dan masih duduk di kelas V ini sangat gemar membaca. Jika dulu bacaannya hanya sebatas picture book, kini sudah beralih pada novel anak. Semenjak dikenalkan dengan buku PBC (Pink Berry Club) dan juga buku-buku Fantasteen terbitan Dar! Mizan, Si Sulung ini semakin cinta membaca. Menurutnya, cerita-cerita di buku-buku PBC mirip dengan keseharian dia.

Aku juga tidak ragu dengan isi buku-buku PBC. Semua unsur intrinsik yang ada di dalam buku-buku PBC banyak yang dikaitkan dengan Islam. Misalnya saja dengan penyelipan tokoh berjilbab, lontaran-lontaran kalimat islami, aktivitas ibadah, dan juga nama-nama tokohnya.

Sejak kejadian tempo hari itu, berkat buku-buku PBC dan Fantasteen, Reihana kini jadi sering merenung dan melamun. Bukan sembarang merenung dan melamun tentu, tetapi katanya sedang mencari ide. Semoga saja, cita-citanya menjadi penulis bisa tercapai suatu hari nanti. Aamiin. :)

Radit The Science Geek
Radit dan buku EBM
Anak keduaku sangat suka pelajaran IPA. Karena keingintahuannya sangat besar dan aku seringkali kewalahan dalam menjawab pertanyaan ilmiahnya, akhirnya aku memberikan dia Buku Seri Ensiklopedi Bocah Muslim (EBM) terbitan Pelangi Mizan.

Benar saja, sejak ada buku-buku tersebut, banyak waktu luangnya dihabiskan untuk membaca buku-buku yang kaya akan pengetahuan alam itu. Pertanyaan ilmiah yang biasa ditanyakan padaku juga berkurang. Dia lebih suka mencari sendiri di buku. Yang ada, dia malah sering ngetes kemampuan Sainsku. :D

Zaudan, Si Bayi yang mulai doyan bermain buku papan
Baby Zaudan dengan board book-nya
Anakku yang bungsu tak lepas dari ‘program kontaminasi’ budaya baca yang kulakukan. Meskipun umurnya baru 10 bulan, aku sudah mengenalkan buku di dalam kesehariannya. Membacakan buku-buku doa sehari-hari atau pun bacaan lain dari buku yang bentuknya buku papan (board book) terbitan Dar! Mizan dan Pelangi Mizan sudah kulakukan sejak beberapa bulan terakhir. Agar dia semakin familiar, aku menyimpan buku papan itu di mana-mana. Jadi, ke mana pun dia melangkah, buku papan selalu ada di dekatnya. Semoga saja dengan begitu, kelak dia bisa gemar membaca.

Mizan di mataku
Mizan memang sebuah penerbit yang besar. Buku-bukunya banyak menguasai pasar perbukuan nasional. Bukan karena jumlahnya saja, harga dan kualitas isi (materi) buku-buku Mizan membuatnya tetap bersaing dengan buku-buku dari penerbit lain.


Penerbit Mizan kini sudah berusia 30 tahun. Di usianya yang 'matang' ini, buku-buku yang dihasilkannya semakin beranekaragam dan berbobot. Kepercayaanku akan buku-buku terbitan Mizan semakin bertambah. Produk-produk mereka, kuketahui belakangan ternyata banyak yang dialihbahasakan ke dalam bahasa lain. Misalnya saja Bahasa Melayu (Malaysia). Ini tentu berarti bahwa pilihanku akan buku-buku Mizan tidak salah.

Mimpiku dengan Penerbit Mizan
Sejak lama, selain hobi membaca, aku juga gemar menulis. Beberapa tulisanku, kebetulan ada yang dibukukan di beberapa penerbit. Meskipun disebut penulis, aku masih merasa kurang afdol. Ya, itu karena aku belum bisa menulis buku di Penerbit Mizan.

Bukan tidak mau. Terus terang, melihat kualitas isi (materi) buku Mizan yang keren-keren, terlebih mengetahui kapabilitas penulis-penulis Penerbit Mizan, aku jadi malu dan ragu sendiri. Sepertinya, aku belum sekelas mereka.

Bisa menulis dan menerbitkan buku di Penerbit Mizan memang impianku. Tapi, berkesempatan terlibat di dalamnya tetap membuat aku senang. Ya, tiga buku remaja dipercayakan Penerbit Mizan untuk aku edit. Dua buku Fantasteen (satu belum terbit) dan satu buku PBC.

Sampul buku-buku terbitan Mizan yang kuedit

Semoga saja, impianku untuk bisa menulis buku di Penerbit Mizan bisa segera terwujud; kegiatan membaca semakin membudaya; dan Penerbit Mizan kian menginspirasi, mendunia, panjang umur, dan bertambah pembacanya. Happy Milad, Mizan.

Tulisan ini disertakan dalam Lomba Blog Sayembara #MizanAndMe yang ada di link http://mizan.com/mizanandme.html. 

10 komentar:

  1. selamat ngontes Mak..
    sukses :D

    eh aku baru berkunjung ya kemari :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. HIhihi... tengkyu, Mak.
      Iya ih kok baru mampir sih :p

      Hapus
    2. iya aku juga baru mampir :D

      Hapus
  2. semoga menang mba... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih sudah mampir :)

      Hapus
  3. waduh.......
    ternyata suka membaca mizan sudah diwariskan ya ^_^
    ane juga begitu he he
    emang buku mizan itu keren-keren banget
    artikelnya bagus bund
    ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya, sengaja saya wariskan Mas. Bukunya kan bagus-bagus.
      Makasih sudah mampir, Mas :)

      Hapus
  4. mizan emang keren mbak.. anakku juga suka sama buku mizan walopun blum bisa baca, kayaknya sebaya deh sama zaudan

    BalasHapus
  5. Seneng sekali melihat anak2 yang sangat suka membaca... seperti anakku juga.
    Selamat utk kontesnya ya, semoga beruntung... :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)