5.4.13

CERITA DI BALIK NODA, Setiap Noda Mempunyai Banyak Cerita (Sebuah Review)

Judul : CERITA DI BALIK NODA
Penulis : Fira Basuki
Penerbit : Jakarta KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerja sama dengan Rinso Indonesia @ PT. Unilever Indonesia Tbk.
Editor : Candra Gautama
Perancang Sampul : LOWE Indonesia
Penata Letak : Dadang Kusmana
Isi : xii + 235 halaman
Ukuran buku : 13,5 x 20 cm
Dicetak oleh : PT. Gramedia Jakarta
Harga : Rp. 40.000,-

Apa yang terlintas pertama kali saat Anda membaca Cerita di Balik Noda tertulis di sebuah sampul buku? Sudah pasti, Anda akan menebak bahwa buku tersebut isinya adalah adalah kumpulan cerita pengalaman para pengguna Rinso. Dengan kata lain, mereka curhat soal bagaimana ampuhnya Rinso dalam menghilangkan noda membandel pada pakaian yang mereka cuci. Begitu, bukan?

Jika Anda setuju dengan pernyataan di atas, Anda salah besar. Buku ini bukan mengenai propaganda Rinso dalam hal mengagungkan kehebatan daya cucinya. Jauh lebih dari itu, buku ini justru adalah buku kumpulan cerita inspiratif yang bisa disamakan dengan buku Chicken Soup yang terkenal itu.

Membaca buku Cerita di Balik Noda, rasanya seperti memutar kembali gulungan film kehidupan para orang tua beberapa waktu ke belakang. Bagaimana tidak, beberapa cerita yang ada di dalamnya pasti pernah terjadi di dalam kehidupan kita. Mungkin tidak persis sama. Tetapi secara garis besar, ada bagian-bagian yang mirip.

Begitu juga dengan saya. Banyak sekali cerita di buku itu yang mengingatkan ‘dosa-dosa’ saya kepada anak-anak. Like mother like daughter. Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Saya yang dibesarkan mama dengan disiplin tinggi akan nilai-nilai kebersihan, membuat saya memperlakukan hal yang sama kepada anak-anak. Ya, saya mendoktrin mereka untuk selalu bersih dan terhindar dari noda. Di mana pun dan kapan pun.

Cerita pertama yang menyentil saya di buku ini adalah cerita yang berjudul Kaki (Harus) Kotor. Di dalam cerita itu dikisahkan tentang bagaimana seorang ibu yang overprotektif terhadap anaknya. Seperti saya dulu, ibu tersebut menganggap bahwa noda dan kotoran itu adalah bentuk lain dari jutaan kuman yang siap menyerang anaknya kapan saja dan di mana saja.

Alih-alih memproteksi dari penyakit yang diakibatkan kotoran, sang anak justru malah menjadi lemah dan tidak senormal anak lain yang seusianya. Misalnya saja saat anak lain sudah pandai berjalan, bahkan berlari, si anak ini belum bisa berjalan. Tentu saja karena kaki si anak tidak terbiasa latihan berjalan dan kebanyakan digendong sang ibu yang ketakutan anaknya kotor.

Cerita lain yang tak kalah menohok saya adalah cerita yang berjudul Di Antara Sampah. Kejadian si anak yang takut pulang sekolah karena bajunya kotor, persis mirip dengan puteri pertama saya yang dulu pernah begitu. Sungguh, saya baru tersadar bahwa ternyata seorang anak bisa begitu takut terhadap ibunya karena pakaiannya yang kotor. Padahal apalah arti sebuah noda dibandingkan cerita yang ada di balik itu. Toh sebandel apa pun noda, pasti akan bisa dibersihkan.

Itu hanya dua contoh cerita yang isinya mirip dengan kejadian yang menimpa saya dan anak-anak. Masih ada cerita-cerita lain di buku ini yang tak kalah hebat dan mengandung hikmah mendalam dari kepolosan dan keluguan seorang anak. Misalnya saja cerita yang berjudul Imlek buat Lela. Cerita yang satu ini sangat menggugah. Di sana diceritakan bagaimana seorang anak bisa mempunyai empati yang besar terhadap sesamanya. Di cerita ini, seorang anak bernama Gwenn rela memberikan angpau yang diterimanya di hari Imlek untuk dibelikan sepeda. Sepeda ini kemudian diberikannya kepada anak tukang cuci yang bernama Lela. Empati yang sangat besar dari seorang anak kepada temannya. Dan ini jelas adalah hal yang bahkan mungkin sudah langka untuk orang dewasa seperti kita.

Cerita yang berjudul Boneka Beruang Zidan lain lagi. Cerita ini berisi curahan hati seorang ibu  mengenai anak ‘istimewanya’. Di sana digambarkan bagaimana perjuangan si ibu untuk bisa membuat anak ‘istimewanya’ ini normal layaknya anak-anak lain. Berkat boneka beruang dari tantenya dan juga bermain dengan alam, tepatnya hujan-hujanan, si anak ‘istimewa’ perlahan-lahan bisa berkomunikasi dengan sang ibu. Sangat mengharukan.

Semakin Anda menambah halaman bacaan di buku Cerita di Balik Noda ini, semakin akan Anda temukan kejutan-kejutan yang membuat Anda berdecak kagum. Banyak sekali kepingan-kepingan hikmah yang bisa Anda pungut dari sana. Ada cerita mengenai karyawan dengan bosnya; orang tua angkat dengan anak angkatnya; anak dengan orang tuanya; isteri dengan suaminya; ulang tahun dan kue ulang tahun; noda lumpur; noda di sprei; noda di pakaian; kerinduan akan orang tercinta yang telah tiada; kenangan masa kecil; hujan; binatang peliharaan dan binatang kesayangan; hobi memasak; bakat melukis; boneka kesayangan; kreativitas; ekslorasi dengan alam; berbagi kebahagiaan dengan teman; dan masih banyak yang lainnya.

Cerita yang ditulis Fira Basuki, penulis sekaligus penyusun buku ini, memberi andil yang besar dalam membuat buku ini luar biasa. Bos Galak, Sarung Ayah, Foto, dan juga Pohon Kenangan adalah cerita yang ditulis beliau di buku ini. Keren! Begitu kesan saya saat menangkap isi cerita yang disuguhkannya. Bos yang galak akibat trauma kehilangan anaknya; kerinduan seorang anak akan ayahnya yang telah tiada; foto yang terselip di pakaian berlumur darah; serta pohon rambutan yang penuh kenangan di rumah yang akan dijual pasti juga membuat Anda mengharu biru.

Ulasan buku Cerita di Balik Noda ini tentu tak bisa menggambarkan secara keseluruhan isinya. Membaca sendiri buku ini di dalam keheningan atau hangatnya mentari pagi, ditemani minuman hangat pasti akan membuat semuanya menjadi sempurna. It’s a must read book. Recommended!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Ngeblog Review Buku "Cerita di Balik Noda".

10 komentar:

  1. yg jelas isinya bukan cara mencuci baju, ya. Tp bener2 inspiratif. Semoga menang, Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, iya. Aamiin :)

      Hapus
    2. Mba Myra : kalau soal mencuci baju, emak-emak jagonya...hahaaa...sukses juga ya Mba Nia...aku pikir malah, cerita tentang noda hidup...duuuuh?

      Hapus
    3. Hihi... iya, awalnya aku kira juga gitu :D

      Hapus
  2. Balasan
    1. Tengkyu... ikutan juga, yuk. :)

      Hapus
  3. Bagus Mbak, reviewnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih... ikutan juga, yuk mumpung DL-nya masih 5 hari lagi :)

      Hapus
  4. Sekarang liat anak kotor jadi lebih santai ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, neneknya paling yang heboh... :)))

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)