4.5.14

TB Memang Mematikan, Tapi Bisa Disembuhkan

Saat pertama kali tahu bahwa adik saya terkena TB, saya dan seluruh keluarga sangat sedih. Kami benar-benar terpukul dengan kenyataan yang terjadi saat itu. Bagaimana tidak, meski kami percaya dengan takdir kematian itu di tangan Tuhan, bayangan kematian adik saya, rasanya sangat begitu nyata. Tentu, semua itu karena memang kebanyakan, penderita TB yang ada di lingkungan sekitar saya, selalu berujung pada kematian. Dan jujur, walaupun dokter sudah menjelaskan bahwa TB bisa disembuhkan, optimisme untuk sembuh itu tidak 100% kami rasakan. Bisa dikatakan, pengobatan dan konsultasi dengan dokter yang dilakukan semata-mata hanya untuk sebuah ikhtiar terakhir yang bisa kami lakukan.

Ternyata, TB Benar-benar Bisa Disembuhkan!
Dugaan saya dan keluarga ternyata salah. Penyakit TB yang diderita adik saya benar-benar sembuh dalam kurun waktu 6 bulan. Dan ini berarti, pengobatan yang dilakukan adik saya bukan hanya sebuah ikhtiar terakhir. Tapi justru, itulah pengobatan yang memang harus dijalankan.

Awalnya nasihat dokter terasa hanya sebuah hiburan saja untuk adik saya. Tapi seiring waktu berjalan dan seiring bertambah fitnya kondisi tubuh adik saya, semua bukan cuma penglipur lara semata, sebab harapan kesembuhan itu semakin nyata di depan mata.

Enam bulan pengobatan memang terasa sangat begitu lambat. Setiap hari, adik saya harus memakan beraneka macam obat yang diberikan dokter. Meskipun berat, meskipun bosan, dan meskipun terkadang ada efek yang tidak diharapkan (meskipun itu sangat kecil), pada akhirnya, si TB hilang dari tubuh adik saya selamanya.

Berkaca pada kesembuhan adik saya dari penyakit TB yang pernah dideritanya, saya dengan yakin bisa berkesimpulan bahwa semua penderita TB bisa sembuh, asalkan dia mau melakukan semua yang disarankan dokter. Apa saja saran yang biasanya diberikan dokter?

Mengonsumsi Obat Secara Teratur Sesuai Jadwal
Hal pertama yang disarankan dokter sudah pasti itu adalah meminum obat secara teratur, sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Jika disarankan setiap hari, minumlah obat tersebut setiap hari. Jika disarankan dua hari sekali, minumlah obat tersebut dua hari sekali sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Pokoknya, apa pun kata dokter tentang waktu minum obat, banyak dosis obat, atau pun yang lainnya mengenai obat, lakukan secara benar dan tepat waktu. Jangan biarkan atau jangan sampai si penderita TB lupa dan tidak meminum obatnya, sekali pun dia sudah merasa sembuh. Ingat lagi bahwa sekali saja lupa meminum obat, akibatnya bisa serius, yaitu kebalnya si kuman TB terhadap obat tersebut. Dan jika sudah kebal, maka harus dilakukan pengobatan dari awal lagi dengan dosis yang mungkin lebih besar.

Dalam masa mengonsumsi obat TB, sebaiknya penderita mewaspadai hal-hal berikut.
  • Jika dikhawatirkan si penderita lupa atau malas mengonsumsi obatnya, temani dia dengan PMO (pendamping minum obat). PMO sangat berperan penting dalam mencapai kesembuhan penderita TB. Untuk anak penderita TB, pendampingan minum obat pasti harus lebih ekstra sabar. Hindarkan saat meminum obat ini menjadi waktu yang sangat menakutkan. Bujukan, rayuan, hingga iming-iming kejutan di akhir masa pengobatan, atau setelah kesembuhan sebaiknya dilakukan agar si anak semangat dalam meminum obat.

  • Jika mengalami efek samping akibat obat yang dikonsumsi, apalagi yang dirasa mengganggu dan membuat tidak nyaman, seperti misalnya muntah-muntah, sakit otot, kuping mendengung, sakit buang air kecil, atau apa pun itu, konsultasikan dengan dokter. Jangan lebih dulu menghentikan konsumsi obat tanpa perintah dokter. Dokter akan memberi tahu apa-apa yang harus dilakukan nantinya.
  • Tak perlu melakukan pengobatan tambahan lain selain yang disarankan dokter. Lupakan obat herbal, homeopathy, apalagi obat sembarangan dari orang pintar atau dukun. TB adalah penyakit fisik yang sudah terbukti bisa disembuhkan 100% oleh obat. Jadi, minum saja obat dari dokter sesuai dengan saran yang dianjurkan dokter.

Pengobatan Intensif yang Lebih Ekstra
Penderita TB, pada saat diperiksa dan memulai masa pengobatannya, tidak selalu dalam kondisi yang sama. Ada penderita TB yang terdeteksi dan memulai pengobatannya pada saat baru terjangkiti TB aktif. Tapi tak sedikit pula, penderita TB yang baru memulai pengobatannya ketika penyakit ini sudah parah (akut).

Dalam hal pengobatan, kedua jenis penderita itu tentu akan menerima penanganan yang berbeda. Untuk penderita TB aktif yang masih dalam fase baru terjangkiti, (seperti adik saya 13 tahun yang lalu), pengobatan bisa dilakukan di rumah saja. Dengan PMO berasal dari keluarga dekatnya. Ada pun jika ada apa-apa, konsultasi ke dokter bisa dilakukan kapan saja dengan datang langsung ke dokternya.

Berbeda dengan penderita TB yang tadi, penderita TB yang sudah akut biasanya akan menerima penanganan yang lebih intensif. Penderita jenis ini pada umumnya akan dirujuk untuk dirawat di rumah sakit khusus, misalnya rumah sakit paru. Tujuannya tentu agar perawatan lebih fokus, serius, terpantau, dan juga intensif dari ahli medis secara langsung. Dari mulai PMO, perawatan ini – itu, hingga pemantauan kondisi penyakitnya langsung ditangani oleh dokter spesialis TB.

Jika Anda, saudara Anda, atau siapa pun yang berada di sekitar Anda dan menderita TB akut, sarankan dia untuk dirawat lebih intensif di rumah sakit. Selain lebih fokus perawatan dan pengobatannya, pengisolasian penderita dari lingkungan rumah bisa mengurangi penularan TB terhadap lingkungan sekitarnya. Di rumah sakit ini, penderita akan diberi makanan khusus yang dijamin keamanannya karena sudah diatur oleh ahlinya; penderita akan diatur masalah olahraganya (jika si penderita sudah terlihat cukup fit); penderita akan selalu diberi obat oleh PMO yang merupakan ahli medis; penderita akan diberi dorongan agar semangat untuk sembuh; dan masih banyak keuntungan lainnya yang bisa didapatkan para penderita TB akut jika dirawat intensif di rumah sakit. Adapun untuk masalah lamanya perawatan biasanya disesuaikan dengan keadaan dan kondisinya. Paling ideal memang sampai penyakit TB-nya sembuh. Akan tetapi, jika keadaannya sudah membaik atau TB-nya sudah tidak akut lagi, penderita TB mungkin sudah bisa dirawat di rumah dengan catatan tetap berkonsultasi dan mengonsumsi obat sesuai dengan anjuran dokter.



Jauhi Alkohol dan Rokok
Alkohol dan rokok itu sangat tidak baik dikonsumsi. Jangankan oleh orang yang sakit seperti penderita TB, orang sehat saja bila mengonsumsi dua barang ini bisa jadi sakit. Alkohol itu sangat merusak kesehatan, terutama bagian hati. Vitalitas juga bisa terganggu dengan alkohol. Jadi jika penderita TB mengonsumsi alkohol, sudah pasti vitalitas tubuhnya akan semakin buruk. Ada pun rokok, sangat merusak paru-paru. Dan jika penderita TB, terutama penderita TB paru, mengonsumsi rokok, bisa dipastikan keadaan paru-parunya akan semakin buruk. Bukan tidak mungkin, dua barang ini bisa membuat kondisi penyakit TB-nya semakin parah. Dan mungkin mengakibatkan kesehatannya terancam dan berujung kematian. Nah untuk itu, jauhkan rokok dan alkohol dari penderita TB. Jangan biarkan mereka mengonsumsinya, walau pun itu sedikit saja.

Konsumsi Makanan yang Sehat
Konsumsi makanan sehat itu penting buat siapa saja. Begitu juga untuk penderita TB. Selain bisa menyuplai energi untuk beraktivitas, makanan sehat juga bisa mendongkrak vitalitas tubuh penderita TB agar lebih mudah bagi sistem imun tubuhnya untuk melawan kuman penyakit TB. Daging, ikan, susu, telur, keju, sayuran hijau, susu kedelai, dan berbagai makanan yang kaya akan vitamin B12 sangat baik dikonsumsi oleh penderita TB. Mengonsumsi makanan sehat juga akan meningkatkan berat badan penderita TB secara perlahan, sebab sebagaimana kita tahu, hampir semua penderita TB, di awal dan selama masa terjangkit penyakit ini mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis.



Sabar dan Disiplin Adalah Kunci
Secara umum, saran dokter kurang lebih seperti yang saya ceritakan di atas. Akan tetapi, sebagus apa pun saran dari dokter jika tidak diindahkan dan dijalankan si penderita TB, semua akan sia-sia saja. Bukan kesembuhan yang seperti diharapkan yang didapat, tetapi yang ada hanyalah penyakit yang terus menggantung yang entah kapan bisa sembuhnya.

Untuk itu, bersabarlah dalam menjalani masa pengobatan dari penyakit TB ini. Masa 6 bulan memang tidaklah singkat, tetapi tidak seberapa dibandingkan dengan kesembuhan total setelahnya, yang mungkin seumur hidup. Kita bisa berbuat apa saja yang kita mau.

Selain sabar, disiplin juga adalah kunci dalam mencapai kesembuhan. Ya, dengan penerapan disiplin yang tinggi, (seperti misalnya saat meminum obat secara teratur, sesuai jadwal, seperti yang dianjurkan dokter, tanpa terputus sekali pun, walau pun itu sudah bosan dan sudah merasa sembuh), kesembuhan sudah menjadi hal yang pasti.

Dan Jangan Lupa Banyak Berdoa
Sebagai manusia yang beriman, kita patut percaya bahwa semaksimal apa pun usaha yang kita lakukan untuk sembuh dari sebuah penyakit yang mematikan, (seperti penyakit TB), kesembuhan itu akan sangat mustahil jika tidak ada ‘campur tangan’ Tuhan. Oleh karena itu, untuk menyempurnakan segala ikhtiar untuk sembuh, selain melakukan usaha secara nyata, kita juga harus banyak berdoa. Ya, semoga saja, dengan usaha yang keras dan doa yang sungguh-sungguh, kesembuhan dari penyakit TB itu akan menjadi milik kita. Bukan begitu? Aamiin… aamiin… aamiin ya rabbal alamin.

Referensi dan Sumber Gambar
  1. http://www.depkes.go.id/
  2. http://www.tbindonesia.or.id/
  3. http://blog.tbindonesia.or.id/
  4. http://tbfreeworld.org/know-more-about-tb/dos-and-donts/
  5. http://www.stoptb.org/assets/documents/resources/publications/acsm/overcomingTB.pdf
  6. http://corbisimages.com/

20 komentar:

  1. Benar Mak, insya Allah bisa sembuh, sudah banyak buktinya ya Mak
    Sukses Mak, lengkap sekali postingannya :)

    BalasHapus
  2. yup, bener banget mak... alhamdulillah banyak pasien saya yang berobatnya teratur kini dinyatakan sembuh dari TB

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Semoga saja semua pasien TB yang lain juga bisa sembuh...

      Hapus
  3. Alhamdulillah ya Mak penyakit TB bisa disembuhkan, semua penyakit itu ada obat nya, yang penting kita nya aja selalu jaga kesehatan :)

    BalasHapus
  4. bener banget mbak, TB itu bisa disembuhkan, asal pasien juga konsisten, menurut apa kata dokter dan menjalani pengobatan secara rutin sesuai anjuran dokter. Selain itu perlu juga dukungan moral dari keluarga terdekat, serta menjalani hidup sehat dan menjauhi hal-hal yang menjadi pemicu terjangkitnya TB. makasih infonya yang bermanfaat mbak

    BalasHapus
  5. Kesehatan itu benar-benar nomor satu ya.
    Ternyata pasien TB juga bisa disembuhkan, thanks for sharing.

    BalasHapus
  6. dengan pengobatan teratur Insya Allah bisa sembuh ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak Lidya, Insya Allah...

      Hapus
  7. Temenku sembuh total berkat berobat teratur...

    Sukses lombanya Mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Makasih Mak Lies :)

      Hapus
  8. meskipun mematikan ternyata TB bisa disembuhkan ya...

    BalasHapus
  9. semoga deh bisa benar-benar sembuh ehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah, dengan pengobatan yang rutin, TB bisa disembuhkan. :)

      Hapus
  10. Alhamdulillah adik mba dah sembuh..

    bener....sabar kuncinya..mugo klg kita selalu sehat...

    aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih banyak, Echa. :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)