17.2.14

Generasi yang Sehat dan Cerdas Berawal dari Sarapan

Pagi itu, di dalam bus kota, keringat dingin saya mendadak ke luar dari seluruh pori-pori tubuh. Tak lama, rasa mual dan perih kemudian menyelimuti perut saya. Entah kenapa, pandangan mata saya juga menjadi kabur. Berkunang-kunang, menguning, dan lalu gelap.

Saya tersadar ketika dua anak perempuan berseragam SMA memukul kedua pipi saya. Salah satu tangan dari dua anak perempuan itu memegang botol minyak kayu putih. Bau yang menyengat di hidung saya, saya simpulkan berasal dari botol itu. Salah satu dari anak perempuan yang memegang botol minyak kayu putih itu kemudian bicara.

“Kak, tadi kakak pingsan. Mungkin sekitar 10 menit. Untung saya bawa minyak kayu putih. Maaf ya, Kak. Tadi, kakak saya tampar. Soalnya, kami harus segera turun dari bus ini.”

“Iya, kak. Eh… kakak turun di mana?” tanya si anak perempuan yang satunya lagi menimpali.

Saya tersenyum. Sungguh, saya benar-benar terharu dengan dua anak perempuan itu. Jika tidak ada mereka, bagaimana nasib saya saat itu. Pingsan di dalam bus kota? Oh tidak! 

“Kakak turun di depan. Makasih banyak, ya, udah nolong kakak.” Ucap saya saat itu.

“Sama-sama, kak. Hati-hati ya, kak.” Jawab mereka. Dan mereka pun kemudian turun di sebuah halteu bus yang dekat dengan sekolah mereka.

Sarapan Oh Sarapan…
Apa yang terjadi di atas bukanlah sebuah cerita fiksi. Kejadian itu benar-benar saya alami ketika masih duduk di bangku kuliah. Penyebabnya? Sepele sekali. Hari itu, saya melewatkan sarapan pagi. Sebenarnya bukan pagi itu saja saya melewatkannya. Hampir setiap pagi, di minggu itu, saya sengaja mengosongkan perut dengan skip sarapan. Dan pagi itu adalah efek akumulasinya. 

Hal yang menjadi dasar saya melakukan tindakan bodoh kala itu, ceritanya adalah diet. Yupp! Sebagai remaja yang masih berumur belasan tahun, saat itu, saya kira, melewatkan jam makan pagi dan langsung saja makan siang, bisa mengurangi berat badan. Sehari dua hari, saya memang kuat menahannya. Tetapi untuk seminggu berturut-turut, badan saya berontak juga akhirnya.

Yang terparah dari kejadian ‘diet abal-abal’ itu bukanlah soal pingsan di dalam bus kota, tetapi yang terjadi kemudian. Ya, pagi itu, saya masih ingat dengan benar, adalah hari Ujian Tengah Semester Biostatistika. Jadi setelah aksi pingsan itu, badan lemas, keringat dingin, perut mual dan perih itu terjadi di sepanjang waktu ujian. Bahkan hingga sepanjang hari. Jangan tanya mengenai konsentrasi saya dalam  mengerjakan soal-soal. Membaca angka dan tabel-tabel yang terpampang di kertas ujiannya saja sudah cukup membuat kepala saya pusing. Apalagi jika mengingat materi yang sudah saya pelajari di malam sebelumnya. Sepertinya, dari kepala saya  bisa ke luar asap dibuatnya. Alhasil, saya mengisinya secara sembarangan, sehingga ganjaran ujian remedial menjadi bonus telak yang tak bisa saya lupakan hingga sekarang. 

Sarapan vs Kecerdasan
Berkaca pada kejadian saya di waktu itu, kini, setelah menjadi ibu dari 3 orang anak, saya tak pernah membiarkan sekali pun anak saya pergi sekolah tanpa sarapan pagi. Sungguh, saya benar-benar tidak ingin, apa yang terjadi pada saya dulu, menimpa anak-anak saya. Saya sangat percaya, sarapan tak hanya mengganjal perut supaya tidak lapar saja, tetapi juga berpengaruh besar pada konsentrasi dan kemampuan berpikir kita, terutama anak-anak yang memang sedang dalam masa pertumbuhan.

Apa yang saya percayai ternyata benar adanya. Ya, dalam penelitian terhadap anak-anak, American Dietetic Association menyebutkan fakta bahwa anak-anak yang selalu menyantap sarapan di tiap pagi harinya, mempunyai performa fisik dan psikis yang jauh lebih baik di sekolah dan juga di saat bermain. Tentu saja hal ini karena ditunjang oleh kemampuan konsentrasi otaknya, kemampuan problem-solving-nya, dan juga koordinasi mata dan tangannya yang sempurna. Secara logis ini jelas masuk di akal, sebab dengan perut yang terisi maka energi yang masuk ke sel-sel tubuh dan otaknya tercukupi. Jadi dengan begitu, kita, terutama anak-anak, tak lagi terganggu oleh hal-hal yang lain dan hanya fokus pada pelajaran atau permainannya.

Sumber : http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/01010/child-breakfast_1010424c.jpg

Hal serupa dinyatakan oleh para psikolog Universitas Tufts. Mereka mengatakan bahwa sarapan pagi itu menjaga konsentrasi dan fokus anak-anak di sepanjang hari. Hal yang lebih dahsyat dinyatakan seorang peneliti dari Universitas Murdoch, Abdullah Khan, di tahun 2006. Dalam penelitian yang pertama kali diterbitkan dalam disertasinya dan kemudian dimuat dalam jurnal Physiology and Behavior, Khan menyebutkan bahwa sarapan pagi itu sangat berpengaruh pada kemampuan mengingat (terutama ingatan jangka pendek) serta perhatian (fokus). Di dalam jurnal itu juga dideskripsikan bagaimana anak-anak yang rajin sarapan dan diteliti Khan, memberikan kemampuan yang menakjubkan dalam hal membaca dan menyelesaikan masalah aritmatika. Khan juga menambahkan, kekuatan, ketahanan, dan kreativitas anak juga sangat dipengaruhi oleh sarapan.

Sarapan Tak Harus Ribet, Lho!
Beberapa alasan yang menyebabkan kita dan anak-anak tak makan sarapan di antaranya adalah konon katanya karena sarapan itu ribet. Awalnya, dulu saya juga berpikir begitu. Alasan susahnya bangun pagi, waktu pagi yang mepet, hingga jalanan yang akan macet, menjadi alibinya.


Lagi-lagi, untung itu terjadi di waktu lalu, sebelum saya tahu bahwa membuat sarapan itu tak perlu banyak ini dan itu. Protein, serat, dan karbohidrat kompleks sudah cukup untuk sarapan pagi. Menunya sungguh jauh dari ribet. Terkadang saya hanya menyiapkan jus buah dan setangkup roti bakar. Susu dan sereal. Atau telur rebus dan pisang saja. Dan ya, ini  berhasil. Anak-anak tak kekenyangan atau pun mengantuk di dalam kelas, dan nafsu makan mereka juga stabil hingga masuk ke jam makan berikutnya.

Ah, Semoga Saja…
Membaca fakta-fakta pentingnya sarapan pagi bagi tubuh, terutama anak-anak, sungguh membuat saya malu. Tentu karena saya teringat kisah saya di zaman dahulu. Ah, untung saja, saya selalu memberi anak-anak saya sarapan dan tak membiarkan mereka pergi sebelum menyantap sarapannya. Walau pun itu sedikit jumlahnya. Saya tidak mau jika anak-anak saya seperti yang disebutkan Khan di dalam penelitiannya. Ya, Khan menyebutkan bahwa anak-anak yang tidak sarapan (yang ditelitinya) menunjukkan keadaan yang sebaliknya dari yang sarapan. Mereka mudah menyerah pada soal-soal yang susah, tidak fokus, kurang kreatif, susah mengingat, bahkan cenderung mudah marah dan mudah tersinggung. Aduh! Jangan sampai deh anak-anak saya seperti itu. 

Lebih jauh dari itu, saya ingin, tak hanya anak-anak saya saja yang jauh dari keadaan yang seperti itu. Saya pun berharap, semoga saja anak-anak di seluruh Indonesia bisa sarapan setiap harinya. Tentu, hal ini supaya mereka bisa sehat, pintar, dan cerdas. Dan jika sudah sehat, pintar, serta cerdas, bukan mustahil lagi jika mereka menjadi generasi penerus harapan bangsa yang mungkin akan membawa bangsa ke arah yang lebih baik. Bukan begitu?!

Sumber : http://v-images2.antarafoto.com/gpr/1319688001/sekolah-anak-bajo-01.jpg

Referensi

  1. http://healthyeating.sfgate.com/eating-breakfast-affect-childrens-learning-5275.html
  2. http://healthyeating.sfgate.com/benefits-eating-breakfast-students-7697.html
  3. http://www.webmd.com/diet/features/many-benefits-breakfast 

10 komentar:

  1. Kalau aku beranggapan perut terisi maka daya tahan tubuh lebih kuat khususnya untuk anak-anak,makanya tiak melewatkan sarapan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak Lidya, anak-anak yang gak sarapan itu gampang banget sakit. Semoga semua anak bisa selalu sarapan ya. Biar mereka bisa sehat, pintar, dan cerdas.^_^

      Hapus
    2. membiasakan diri dengan Sarapan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi keluarga kami. Anak anak biasa sarapan pagi. Kami pun demikian. Ada banyak manfaat untuk sarapan pagi buat kesehatan dan kesegaran otak. Super sekali artikel mba

      Hapus
  2. Bener mak, sarapan itu penting. Anak-anakku selalu sarapan kalau pagi, meski porsinya tidak sebanyak porsi makan siang. Dan khusus sarapan, biasanya menu yang kusajikan yang nggak ribet, kadang kusiasati masak malam harinya besok pagi tinggal manasi saja, semisal ayam kecap, rawon dan sejenisnya. Klo sayur sih memang harus fresh masaknya.

    BalasHapus
  3. sarapan biar bekerja lancar... semangat

    BalasHapus
  4. Betul bgt mak Nia sarapan penting, karena dg sarapan perut kita jadi tak kosong, konsentrasipun lancar. Memang hal serupa jg pernah sy lakukan saat msh gadis, krn takut gemuk dg mengabaikan sarapan pagi, ujung2nya malah kena sakit Mag...akhirnya sy tak mau menyiksa diri dg tak sarapan krn itu juga bukan cara diet yang tepat
    Salam

    BalasHapus
  5. Keren Mak ... ini dimasukin di Viva ya?
    Secara logika saja ya, kalo

    Ini kayak sedang ikut lomba, iya kah? sukses ya mak :)

    BalasHapus
  6. Anonim09.04

    Sarapan adalah hal sederhana yang punya manfaat luar biasa

    BalasHapus
  7. Sejak kecil hingga sekarang saya sarapan pagi. Ini penting karena menjadi modal awal untuk melakukan kegiatan ya Jeng.
    Tak sedikit orang yang menunda sarapannya :"nggak biasa sarapan," kata mereka.
    Terima kasih artikelnya yang bermanfaat
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  8. Anonim13.31

    I was very pleased to find this web-site.I wanted to
    thanks for your time for this wonderful read!! I definitely
    enjoying every little bit of it and I have you bookmarked to check out new stuff you blog post.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)