3.4.14

Temukan dan Kenali, Penyakit TB Ada di Sekitar Kita!

Tanggal 23 Juli 2001 sepertinya menjadi hari yang tak pernah bisa saya lupakan. Bagaimana tidak, cerita yang mengalir tersendat-sendat dan disertai tangis dari orang yang paling saya sayangi itu laksana petir yang menggelegar di siang hari. Ya, adik saya satu-satunya, yang beberapa hari sebelumnya merasakan sakit dada yang tak kunjung mereda, ternyata divonis dokter menderita penyakit TB (Tuberkulosis) atau penyakit yang di lingkungan kami masih disebut sebagai TBC.

Saya benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa adik saya terkena penyakit itu. Sebab rasanya, adik saya sangat menjaga kesehatannya dengan baik. Jangankan soal kebersihan tubuhnya, seisi rumah, peralatan makan, kamar tidur, atau pun kamar mandinya, kebersihan lingkungan sekitar rumah kami pun tak lepas dari perhatiannya. Jika saja ada kontes orang bersih tingkat kampung, sepertinya dia bakal jadi pemenangnya.

31.3.14

Semen Tiga Roda : Perekat Bahan Bangunan Rumah Masa Kini dan Masa Depan


Bisakah Anda membayangkan jika keadaan sekarang masih sama seperti keadaan di beberapa abad yang lalu? Pastinya, pembangunan tidak akan bisa secepat dan semodern sekarang, bukan? Bagaimana tidak, di zaman dulu, membuat bangunan rumah itu sepertinya sangat repot sekali. Bayangkan saja, untuk mengumpulkan material bahan bangunannya saja, orang-orang di zaman dahulu membutuhkan waktu yang cukup lama. Dari mulai pembuatan batu-bata, pengumpulan batu-batuan di sungai, pencarian perekat bahan-bahan bangunan, hingga pencarian aksesories ini-itu. Belum lagi masa pembuatannya. Kesemuanya dijamin membuat sebuah bangunan memakan waktu tahunan, atau bahkan puluhan tahun untuk bisa selesai.

Beruntung kita hidup di zaman sekarang. Semua serba mudah dan serba cepat. Bahan bangunan berkualitas, teknologi mutakhir, hingga pekerja yang mahir bisa dijumpai di mana-mana. Tak perlu waktu tahunan, dalam sekian bulan bahkan hitungan minggu, sebuah bangunan besar yang canggih, kuat, dan kokoh bisa dibangun tanpa kesulitan berarti.

24.3.14

Curhat yang Berbuah Hikmah

Coba sejak dulu ada fesbuk, aku pasti gak perlu buku diary. Begitu pikirku suatu waktu, entah beberapa bulan atau tahun yang lalu. Ya, sebab saat itu, fesbuk memang jadi tempat curhatku. Layaknya buku diaryku di zaman dahulu. Saat galau, saat marah, saat senang, atau saat apa pun, fesbuk pasti jadi tempat aku menuliskan semua isi hatiku. 

Tapi... itu dulu. Sekarang, tak semua yang aku pikirkan dan aku rasakan, aku tumpahkan di fesbuk. Sebaliknya, hanya di keadaan tertentu saja, aku menuliskan apa yang ingin aku tuliskan. Sebabnya sederhana sekali yaitu kenyataan yang makin ke sini, aku makin kurang ide dalam menulis status di fesbuk. Status-status temen-temenku di fesbuknya pada keren-keren. Aku minder banget. So, aku lebih memilih menjadi penebar jempol sadjah. Hehehehe...

Ikutan GA PakDe GusLix Galaxi ini awalnya kupikir sederhana. Aku tinggal comot 2 apdetan status yang ada di wall fesbukku. Tapi ternyata gak gitu. Aku sungguh kesulitan. Sebabnya ya itu tadi. Aku jarang apdet status. Yo weis... daripada gak ikutan GA yang unik ini, aku 'gali' profile fesbukku sendiri untuk nyari 2 apdetan status yang kira-kira 'enak' untuk aku posting di artikel ini. Dan ini dia, 2 status jadul, cerita di balik itu, dan tanggapan temen-temen mengenai status-status tersebut.

Status #1

Status 1