Laman

10.8.26

Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI), Mewujudkan Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Bank Sampah Induk Bersinar


Beberapa tahun ke belakang, kita sepertinya sering mendengar istilah Ekonomi Sirkular. Tak hanya datang dari luar negeri, bahkan di negara sendiri, Ekonomi Sirkular Indonesia begitu giat digaungkan. Sebenarnya, apa sih Ekonomi Sirkular itu?

Definisi dan Contoh dari Ekonomi Sirkular

Dari penulusuran Google, yang diambil dari web Sucofindo, Ekonomi Sirkular bisa diartikan sebagai sebuah model ekonomi yang bertujuan untuk meminimalkan limbah dan memaksimalkan penggunaan sumber daya. Berbeda dengan konsep ekonomi linear tradisional yang fokusnya pada “ambil, buat, buang”, nah pada ekonomi sirkular, siklus hidup produk diperpanjang. Caranya yakni dengan melalui desain produk yang cerdas, perbaikan, penggunaan kembali, serta daur ulang.

Salah satu contoh dari ekonomi sirkular adalah pengelolaan sampah. Tak hanya cukup memilah jenis-jenis sampahnya saja ketika hendak dibuang, pengelolaan sampah yang dimasukkan ke dalam kategori ekonomi sirkular ini juga berarti memanfaatkan sampah untuk kemudian digunakan kembali menjadi barang atau produk yang bernilai ekonomi lagi. Jadinya, dari sampah ini kita bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI), Mewujudkan Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Bank Sampah Induk Bersinar

Satu aksi, banyak manfaat. Mungkin begitu yang bisa kita katakan pada pengelolaan sampah dalam kaitannya sebagai contoh ekonomi sirkular. Mengurangi beban lingkungan akan sampah sekaligus memberi penghasilan tambahan bagi pelakunya. Tak heran jika hal ini semakin masif digaungkan berbagai kalangan.

Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) melalui Bank Sampah Induk Bersinar adalah salah satu contoh pihak yang getol melakukan ini. Konsep ekonomi sirkular yang diusungnya menjadikan sampah tidak lagi berakhir sia-sia di tempat pembuangan, tetapi diputar kembali menjadi barang atau produk yang bernilai ekonomi. Tak hanya para penggiatnya saja yang melakukan ini, siapa pun bisa turut serta.

Fyi, Bank Sampah Induk Bersinar sendiri, itu merupakan organisasi sosial yang didirikan oleh Ibu Fifie Rahardja.


Bank Sampah Induk Bersinar, Tak Hanya Sekadar Tempat Menabung Sampah

Bank Sampah Induk Bersinar berdiri sejak 2014. Dari hari ke hari, jaringan pengelolaan sampah yang berbasis masyarakatnya semakin meluas. Bahkan jadi yang terbesar di kawasan Bandung. Hingga pertengahan tahun 2026 saja, jaringan yang sudah bergabung dan aktif menjadi mitra penggerak perubahannya jumlahnya mencapai 547 Bank Sampah Unit (BSU), yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten dan Kota Bandung. 

Tak puas sampai di situ, YSBI kini menargetkan jaringan ini bisa tumbuh mencapai 1.000 BSU aktif. Pastinya, dengan target ini akan membuat budaya memilah sampah sejak dari sumbernya semakin kuat. Di samping juga akan meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang dikelola langsung oleh warga.

Ketua Yayasan Solusi Bersinar Indonesia, Indari Mastuti, menegaskan bahwa Bank Sampah Induk Bersinar kini tidak lagi diposisikan hanya sebagai tempat menabung sampah.

"Kami ingin Bank Sampah Induk Bersinar menjadi pusat perubahan. Sampah bukan lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang mampu menggerakkan ekonomi, pendidikan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat," ujar Indari.

Sebuah program yang keren. Sampah rumah tangga yang tadinya dibuang begitu saja, dengan pemilahan yang tepat, dan lalu disetorkan ke BSU terdekat, bisa dikonversi menjadi rupiah atau produk lain yang pastinya lebih bermanfaat.

Program Unggulan Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI)

Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) saat ini memiliki 3 program unggulan. Konsep yang dibuatnya ini merupakan hasil belajar dari Living Lab Telkom University. Sebuah model kawasan yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian masyarakat. Hasil studi inilah yang kemudian menjadi salah satu referensi penting di dalam penyusunan Master Plan Living Laboratory Ekonomi Sirkular Indonesia di kawasan Oxbow.

1. Penguatan Organisasi Demi Dampak Keberlanjutan

Ini adalah program unggulan YSBI yang pertama. Penguatan organisasi demi dampak keberlanjutan. Tujuannya tentu saja supaya gerakan yang dibuat YSBI ini tidak berhenti di tengah jalan. Fokus utamanya ada pada penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), sistem administrasi, indikator kinerja (KPI), pengembangan sumber daya manusia, hingga sistem pelaporan yang lebih transparan dan akuntabel.

Proses penguatan organisasi ini juga langsung dikoordinasikan oleh Ferry Husen yang merupakan Direktur Program YSBI dan Bank Sampah Induk Bersinar. Menurut Ferry, penguatan kelembagaan merupakan fondasi penting agar gerakan Bank Sampah Bersinar bisa tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan dampak yang lebih luas. Tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat.

2. Sekolah Peduli Lingkungan: Menanamkan Kebiasaan Sejak Dini

YSBI juga membidik strategi jangka panjang. Caranya yakni dengan masuknya program edukasi lingkungan ke ranah pendidikan. Hal ini bisa dilihat dari kegiatan Bank Sampah Induk Bersinar yang mulai memperluas program edukasinya ke sekolah-sekolah. Di sana para siswa dikenalkan pada budaya memilah sampah, konsep ekonomi sirkular, serta pentingnya menjaga lingkungan sejak usia dini.




Ke depannya, sekolah-sekolah yang diberi edukasi program ini diharapkan bisa membentuk Bank Sampah Unit Sekolah sendiri. So nantinya, muncul lebih banyak sekolah peduli lingkungan yang tidak hanya mengajarkan teori, tapi juga praktik langsung. Yang tak kalah penting, anak-anak yang terbiasa memilah sampah sejak dini, sangat berpotensi membawa kebiasaannya ke rumah masing-masing. Pemberdayaan masyarakat terjadi lintas generasi pun sangat mungkin terjadi.

3. Oxbow: Menuju Living Laboratory Ekonomi Sirkular

Ini adalah program paling strategis dari YSBI. Mengembangan kawasan Oxbow di Kabupaten Bandung menjadi Living Laboratory Ekonomi Sirkular — yang menjadi sebuah kawasan percontohan yang bisa dipelajari dan direplikasi oleh daerah lain di Indonesia.

Master Plan kawasan Oxbow ini nantinya akan menghadirkan fasilitas pengelolaan sampah terpadu. Dimulai dari area penerimaan, kemudian penimbangan, pemilahan, lalu penyimpanan, hingga pengolahan sampah dengan berbagai teknologi pendukung. Di samping itu, kawasan ini juga nantinya akan dilengkapi pusat edukasi, area demonstrasi, ruang kolaborasi, serta laboratorium pembelajaran yang terbuka bagi pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, dunia usaha, komunitas, dan juga masyarakat umum.

Perlu diingat juga bahwa kawasan Oxbow akan mengintegrasikan tiga pilar utama YSBI sebagai berikut.
  • Bank Sampah Induk Bersinar — sebagai pusat pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
  • Local Education — pusat pendidikan lingkungan, pelatihan masyarakat, seni budaya, workshop, dan pengembangan kapasitas komunitas.
  • Lumbung Mandiri — pusat pengembangan pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan yang memanfaatkan hasil olahan sampah organik menjadi kompos, pupuk organik, pakan ternak, dan produk bernilai tambah lainnya.
Ketiga pilar utama YSBI ini akan membentuk satu ekosistem yang saling terhubung. Sehingga nantinya masyarakat bisa melihat langsung bagaimana prinsip ekonomi sirkular bekerja dari hulu ke hilir — yakni mulai dari sampah rumah tangga sampai menjadi sumber ketahanan pangan bagi warga sekitar.

Pentahelix Indonesia Bersinar

Persoalan sampah dan lingkungan sangat diyakini Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan sebuah gerakan kolaborasi lingkungan dari berbagai kalangan. Berangkat dari hal tersebut, lahirlah Pentahelix Indonesia Bersinar. Di dalam gerakan ini dipertemukan lima unsur sekaligus antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.

Melalui skema ini, YSBI jadinya sangat bisa membuka peluang kerja sama. Entah itu dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, perusahaan, komunitas, organisasi masyarakat, media, bahkan para profesional. Asalkan visinya sama, yakni membangun Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar.

"Kami percaya perubahan besar selalu lahir dari kolaborasi. Bersama, kita tidak hanya mengelola sampah, tetapi juga membangun ekosistem yang menghasilkan pendidikan, ketahanan pangan, inovasi, peluang ekonomi, dan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi Indonesia," tutup Indari Mastuti.

Well...

Menyimak semua hal yang dilakukan YSBI melalui Bank Sampah Induk Bersinar sungguh membuat kagum. Tak hanya berpikir untuk mengurangi beban lingkungan atas sampah, program-programnya juga bertujuan mewujudkan ekonomi sirkular Indonesia. Jadinya, selain lingkungan menjadi bersih karena sampah dikelola dengan baik, masyarakat juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

Teman-teman ingin juga punya penghasilan tambahan dari sampah? Berikut ini langkah-langkah yang bisa teman-teman lakukan.
  • Mulai memilah sampah dari rumah — pisahkan sampah organik, anorganik, dan yang bisa didaur ulang.
  • Bergabung dengan BSU terdekat — setorkan sampah anorganik yang sudah dipilah untuk dikonversi menjadi nilai ekonomi.
  • Ikut program edukasi lingkungan — baik untuk diri sendiri maupun anak-anak melalui sekolah.
  • Manfaatkan sampah organik — untuk kompos sederhana yang bisa digunakan berkebun di rumah.

Itu dia beberapa hal yang harus teman-teman lakukan jika ingin mendapatkan manfaat. Jang menyepelekan hal kecil. Ingat selalu bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten bisa memberi dampak besar yang keberlanjutan, termasuk memberi kita penghasilan tambahan.



46 komentar:

  1. Menarik ya soalnya bank sampah di sini nggak cuma berhenti pada urusan memilah dan menabung sampah. Ada edukasi, pemberdayaan masyarakat, sampai nilai ekonominya juga. Konsep seperti ini yang menurutku bikin ekonomi sirkular terasa lebih nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  2. Inspiratif banget! Semoga Yayasan Solusi Bersinar Indonesia bisa terus menebar manfaat dan menginspirasi lebih banyak orang, aamiin ☺

    BalasHapus
  3. Kehadiran Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) tentu menjadi angin segar dan harapan baru dalam memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat. Salut dengan berbagai program dan kepedulian yang diusung. Semoga program-program YSBI makin berdampak luas dan membawa keberkahan.

    BalasHapus
  4. Menarik melihat pengelolaan sampah tidak berhenti di kegiatan memilah dan menjual sampah, tetapi dikembangkan sampai menjadi edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Konsep bank sampah memang terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari karena orang bisa melihat langsung bahwa sampah yang dipisahkan ternyata punya nilai. Kalau edukasinya juga masuk ke sekolah dan komunitas, kebiasaan memilah sampah bisa terbentuk sejak lebih dini

    BalasHapus
  5. Salut pada para penggiat peduli lingkungan seperti Yayasan Solusi Bersinar Indonesia, bukan hanya lingkungan jadi bebas sampah sembarangan, juga menjadikan sampah rumah tangga bernilai ekonomis. Jadi makin semangat memilah sampah mulai dari dapur sendiri.

    BalasHapus
  6. Semoga target YSBI terwujud, karena memang dibutuhkan gerakan secara masif pengelolaan sampah ini. Apalagi bisa sampai ke berbagai tempat dan gerak bersama mewujudkannya, bukan tidak mungkin sampah yang menumpuk di rumah bakal tak ada lagi

    BalasHapus
  7. Keren banget ya program YSBI untuk mendukung ekonomi sirkular ini. Moga dampak positifnya makin meluas

    BalasHapus
  8. Tujuannya mulia banget ya Mbak. Setidaknya dengan adanya Yayasan Solusi Bersinar Indonesia dan Bank Sampah Induk Bersinar, kepedulian kita akan sampah dan kesejahteraan lingkungan bisa terus konsisten terjaga. Termasuk pendapatan tambahan bagi si penggiat.

    Sampah memang menjadi isu berkesinambungan dalam kehidupan kita. Tidak akan mudah terpecahkan jika masyarakatnya sendiri tak tergerak untuk lebih peduli. Semoga dengan kehadiran dua institusi ini serta sosialisasi yang lebih bergerak, kita bisa menggaet lebih banyak personal yang mau bergerak akan isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah.

    BalasHapus
  9. siapa lagi yang bertanggung jawab pada sampah yang kita hasilkan jika bukan kita sendiri ya?
    Karena itu, sebelum membeli barang, saya selalu memastikan kemasannya bisa direcycle, serta sebisa mungkin gak beli barang sekali pakai

    BalasHapus
  10. YSBI ini keren banget lho. Punya program Bank Sampah Induk Bersinar, yang impact nya beneran nggak main-main. Kasih dampak super positif baik untuk lingkungan dan masyarakat sekitar.

    Ekonomi sirkular emang udah seharusnya dijalankan secara konsisten di setiap lini bisnis supaya makin cuan lewat kurangin limbah dan gunakan barang secara maksimal.

    BalasHapus
  11. Program Sekolah Peduli Lingkungan yang menyasar siswa sejak dini itu strategi jangka panjang yang smart, karena kebiasaan anak biasanya lebih gampang nular ke orang tua di rumah dibanding sebaliknya.

    Semoga program ini benar-benar bisa mewujudkan Indonesia yang bebas sampah, setidaknya lebih baik dari kondisi saat ini

    BalasHapus
  12. Menarik ya, Mbak, ketika sampah nggak lagi dilihat sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, tapi bisa dikelola dan punya nilai lagi.

    Di lingkungan tempat tinggalku, pengumpulan jelantah sudah rutin dilakukan setiap bulan oleh ibu-ibu PKK RW. Di sekolah anakku juga ada program membawa sampah yang sudah dipilah sesuai jenisnya. Anak-anak malah dapat uang jajan dari sampah yang mereka kumpulkan. 😁

    Saya suka dengan tujuan yang dibawa YSBI. Semoga kebiasaan baik seperti ini makin banyak dilakukan dan semakin banyak masyarakat yang ikut terlibat, sehingga sampah yang selama ini dianggap masalah bisa berubah menjadi sesuatu yang punya manfaat. Aamiin

    BalasHapus
  13. Bank sampah ini selain bisa mewujudkan ekonomi sirkuler, juga bisa menjadi jalan keluar permasalahan sampah yang menumpuk dah, Kak. Kombo manfaat jadinya.

    BalasHapus
  14. Terharu dan pencerahan banget pas baca tulisan mbak Nia kali ini. Langkah dan dedikasi Yayasan Solusi Bersinar Indonesia ini luar biasa banget ya....Kehadiran YSBI ini memang krusial banget ya Mbak buat memberi solusi dan pendampingan yang tepat di masyarakat.

    Terima kasih Mbak Nia sudah menjadi jembatan informasi yang begitu hangat dan bermanfaat untuk kita semua. Semoga makin banyak orang yang terbantu lewat ulasan edukatif ini. Stay safe and healthy!

    BalasHapus
  15. Masih ada bagian masyarakat yang peduli sampah adalah tindakan mulia. Senang mengetahui hal ini. Apalagi dapat menggerakkan masyarakat. The best, semoga berkah dan berdampak luas

    BalasHapus
  16. Salut dengan yayasan Solusi Bersinar Indonesia yang concern dengan permasalahan sampah dan juga masif mensosialisasikannya ke banyak lapisan masyarakat, termasuk ke anak-anak sekolah. Mudah-mudahan mereka menjadi generasi penerus yang peduli terhadap lingkungan sekitar agar terbebas dari sampah.

    Semoga semakin banyak bank sampah-bank sampah lainnya di setiap kota di Indonesia agar sampah bisa menjadi berkah, tak dibuang begitu saja, tetapi ada yang bisa diberdayakan kembali, bahkan berpotensi untuk menjadi ladang cuan.

    Mudah-mudahan semakin banyak juga masyarakat yang tergerak untuk memberdayakan sampah yang dihasilkan dari setiap kegiatannya, tidak dibuang sembarangan, tetapi dipilah dan dipilih sesuai jenis sampah dan kemudian memilih beberapa treatment dari 5R yang bisa kita lakukan

    BalasHapus
  17. Keren ternyata bang sampah ini sudah berdiri sejak 2014 dan sudah mempunyai lebih dari 500 BSU di sekitar Bandung yaa....
    Program nya juga tidak hanya pemilahan sampah namun juga edukasi yang terus berkelanjutan sehingga setiap warga akan aware akan keberadaan ekonomi sirkuler ini...
    Beberapa waktu yang lalu saya juga menemukan salah satu bank sampah disini yang menerima berbagai sampah yang bisa digunakan lagi dan juga minyak jlantah
    Semoga keberadaaan ekonomi sirkuler ini semakin dikenal dan dilaksanakan semua pihak di negara kita

    BalasHapus
  18. Gerakan dari Bank Sampah Induk Bersinar ini membuktikan kalau masalah sampah sebenarnya bisa jadi peluang besar kalau dikelola dengan tepat. Keren banget bagaimana YSBI nggak cuma fokus pada daur ulang, tapi juga membangun ekosistem lewat edukasi ke sekolah dan pendekatan Pentahelix. Kalau semua daerah bisa mereplikasi konsep Living Lab di Oxbow ini, lingkungan kita pasti jauh lebih bersih dan masyarakat makin sejahtera. Langkah kecil memilah sampah dari rumah ternyata dampaknya luar biasa ya buat masa depan.

    BalasHapus
  19. Keren sekali kiprah Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) melalui Bank Sampah Induk Bersinar. Saya suka karena pengelolaan sampah di sini tidak berhenti pada urusan lingkungan, tetapi juga punya dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata bisa menjadi sumber manfaat kalau dikelola dengan serius dan melibatkan masyarakat. Program seperti ini menurut saya penting banget untuk terus didukung, karena perubahan memang akan lebih terasa kalau dimulai dari lingkungan sekitar dan dilakukan bersama-sama. Semoga YSBI dan Bank Sampah Induk Bersinar semakin berkembang dan makin banyak masyarakat yang tergerak ikut memilah serta mengelola sampah dengan lebih bijak

    BalasHapus
  20. KEren banget kegiatannya, ternyata Bank Sampah tidak cuma sekadar tempat menabung sampah ya, melainkan menjadi pusat perubahan untuk menggerakkan ekonomi, pendidikan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat.
    Ini sih yang menjadi kendala dan sulit untuk diterapkan di masyarakat, pengelolaan sampah rumah tangga dengan cara memilah mulai dari rumah, ini bukan hanya bisa mengurangi beban limbah lingkungan, tetapi juga bisa memberikan nilai tambah/penghasilan ekonomi bagi masyarakat sebenarnya.
    Semoga kegiatan ini makin besar dan bisa menyentuh daerah2 lainnya

    BalasHapus
  21. Asik ini ya, masyarakat tinggal mencari BSU terdekat dan siap berkontribusi untuk pilah sampah, sebagai langkah atasi sampah yang menumpuk dan bisa terlihat mana aja sampah yang bisa diolah kembali

    BalasHapus
  22. Aku tuh selalu salut dan takjub, terkait persoalan sampah ini akhirnya ada solusi yang lebih bermanfaat. Ekonomi sirkular bukan hanya bisa menjaga lingkungan tetapi mensejahterakan masyarakat juga.

    Apalagi kalau setiap rumah udah tau cara memilah sampah, mengompos, menjual barang-barang tidak terpakai, atau melakukan 5R.

    Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI), Patut diacungi jempol, programnya keren dan berdampak baik.

    BalasHapus
  23. Betul itu sekolah bisa dijadikan partner sekaligus fasilitator dalam menerapkan program ekonomi sirkular ini
    Anak anak kalau di sekolah pada nurut, rajin dan disiplin. Beda kalau di rumah kadang suka ogah-ogahan.
    Termasuk dalam hal membuang dan memilah sampah. Kalau di sekolah pasti giat karena digerakkan. Semoga terbiasa dan kelak dewasa jadi pioneer juga dalam hal menjaga kelestarian lingkungan dengan cara tidak buang sampah sembarangan. Termasuk mengolah sampah supaya lebih bermanfaat

    BalasHapus
  24. konsep ekonomi sirkular gini emang jawaban paling pas buat masalah sampah. Kadang kita mikir sampah cuma beban, tapi begitu dikelola rapi sampai skala sekolah dan kawasan Oxbow, dampaknya kelihatan nyata banget. Lingkungan makin bersih, warga juga dapat uang tambahan.
    Semoga target 1.000 BSU cepat tercapai dan gerakan Pentahelix ini makin meluas ke kota-kota lain.

    BalasHapus
  25. Setelah baca tentang YSBI dan Bank Sampah Induk Bersinar, aku jadi kepikiran kalau kebiasaan memilah sampah dari rumah memang bisa punya dampak besar. Apalagi sampah bukan cuma dikurangi, tetapi juga bisa punya nilai ekonomi dan membantu masyarakat. Aku juga suka ketika edukasinya masuk ke sekolah, karena kebiasaan seperti ini memang bagus kalau dikenalkan sejak kecil. Semoga makin banyak daerah yang punya gerakan serupa, jadi mengelola sampah bukan lagi terasa sebagai beban, tetapi bagian dari kebiasaan sehari-hari yang bermanfaat untuk lingkungan dan ekonomi bersama.

    BalasHapus
  26. Duh aku berharap bgt mba bank sampah ini makin banyak di tiap lingkungan rumah. Tiap RT gitu loh. Kayak JKT, waktu itu udh dibilang , sampah ga boleh lagi dicampur. faktanya masiiiiih. Aku tuh udah pilah2 sampah dapur dan sampah anorganik. Tetep aja Ama si Abang sampah dicampur lagi 😔.

    Kapan coba pengelolaan sampah di Indonesia jadi bisa strict kayak di jepang, Korea, dan negara maju lain. Bank sampah di sekitar rumahku itu blm ada soalnya

    BalasHapus
  27. Wah ternyata edukasinya nggak cuma di masyarakat tetapi juga masuk ranah pendidikan yaa? Bagus sih ya jadi bisa regenerasi, menyiapkan generasi berikutnya buat aktif mengelola sampah dan menjaga lingkungan juga.
    BSU-nya juga banyak ya mbak? Btw ini di Bandung aja kah?
    Keren banget akan menargetkan 1000 BSU aktif. Semoga beneran bisa kesampaian. Apakah juga bekerjasama dengan instansi pemerintah gitu ya?Semoga nanti selain Bandung bisa menjangkau se-Jabar yang pengelolaan sampahnya juga masih awut2an hehe.

    BalasHapus
  28. Bayangin aja, sampah yang biasanya cuma berakhir di TPA atau numpuk di pinggir jalan, sekarang malah bisa jadi “uang” dan sumber daya. Keren bgt nih kak hasil kreasi Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) dan Bank Sampah Induk Bersinar-nya.

    Sampah rumah tangga yang kita buang begitu saja bisa berubah jadi penghasilan tambahan, kompos, bahkan sampai bantu ketahanan pangan. Keren banget tuh!

    Yang bikin aku senyum-senyum sendiri adalah visi mereka. Bukan cuma “ayo buang sampah di tempatnya”, tapi beneran ngebangun ekosistem: dari 547 Bank Sampah Unit yang sudah aktif, narget 1.000, masuk ke sekolah-sekolah biar anak-anak belajar memilah dari kecil, sampai ngebangun kawasan Oxbow sebagai Living Laboratory. Kayak lagi nonton film dokumenter yang ending-nya bikin semangat, gitu.

    BalasHapus
  29. Semoga Yayasan ini terus berkembang ya mbaaak. Secara, program mereka luar biasa kereeeen banget. Moga aja si ini semua gak sekedar jadi proyek percontohan, tapi benar-benar diadaptasi sama industri lokal.. dan ekonomi sirkular bener-bener bisa menjadi sebuah standar baru di Indonesia.
    Capek juga saya, tiap liat sungai dan sudut-sudut jalanan tuh alwayssss ada banyak sampah, heuheuheu.

    BalasHapus
  30. Keren sekali ekonomi sirkular ini. Bagaimana meminimalisir limbah sampah ya. Jadi nanti sampah diolah, bernilai ekonomi, dan menambah penghasilan. Pastinya acungan jempol dengan hadirnya bank sampah di berbagai wilayah.

    BalasHapus
  31. Sampang memang masalah besar yang bisa diatur sejak dari unit terkecil di masyarakat, yaitu keluarga.

    Pendekatan yang bagus sih kalau mulai edukasi ke sekolah-sekolah. Harapannya, anak-anak akan terbiasa dengan aktivitas memilah sampah di rumah.

    Apalagi sampah yang sudah dipilah sangat bisa punya nilai rupiah. Bisa jadi sumber penghasilan tambahan buat keluarga

    BalasHapus
  32. Wow program-programnya kereb mbaaak. Coba itu deket sini pasti udah jadi destinasi kunjungan edukasi buat murid. Soalnya ilmu sampah ini sgt diperlukan d jmn skrg, kondisi bumi udah teriak teriak kinra tlg krn kebanyakan sampah😁

    BalasHapus
  33. kereen sekali program dari Bank Sampah Bersinar. ADa program edukasi ke anak-anak sekolah juga yaa,,,bagus ini jadi anak-anak sekolah lebih aware terhadap lingkungannya. Masalah sampah ini memang kalau tidak ditangani dengan benar aduuh nanti akan menimbulkan masalah besar pada lingkungan. Dengan adanya program dari Bank Sampah Bersinar semoga sampah akan lebih tertangani dengan lebih baik lagi.

    BalasHapus
  34. Saya sudah beberapa kali menyetorkan sampah ke Bank Sampah Bersinar ini. Mereka punya sistem pick up ke rumah sehingga lebih memudahkan. Memilah sampah memang penting sih. Apalagi saat ini Bandung darurat sampah. Lamaaa sekali sampah di rumah saya diangkutnya. Banyak alasannya yang jelas sudha tidak lancar lagi. Jadi memilah sampah menjadi solusi.

    BalasHapus


  35. Masya Allah, salut dengan konsistensi Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) dan Bank Sampah Induk Bersinar dalam menggemakan ekonomi sirkular ini. Car pendekatan integratifnya juga tidak hanya urus sampah, tapi juga merambah ke edukasi sekolah sampai ketahanan pangan di kawasan Oxbow.

    BalasHapus
  36. Setuju banget, edukasi pemilahan sampah sejak dini di sekolah memang kunci penting untuk jangka panjang. Program Oxbow Living Laboratory juga menarik sekali konsepnya karena mengintegrasikan pengelolaan sampah hingga pakan ternak dan kompos. Semoga target 1.000 BSU YSBI cepat tercapai!

    BalasHapus
  37. jujur aku baru dengar soal ekonomi sirkular ini dan bagus banget ya konsepnya yang juga berkaitan dengan lingkungan kita terutama yang berkaitan dengan sampah. Semoga aja nih program-program dari bank sampah induk bersinar ini bisa segera diwujudkan dan membantu dalam mengatasi permasalahan sampah di Indonesia

    BalasHapus
  38. Masalah sampah ini memang sudah seharusnya jadi perhatian semua lapisan masyarakat. Pengelolaannya jangan hanya dilimpahkan ke pemerintah, tetapi semua kalangan harus bersama-sama mengelola sampah. Selain itu semua harus bisa mewujudkan ekonomi sirkular.

    BalasHapus
  39. Isu lingkungan jadi terasa dekat dan solutif saat dikemas lewat pemberdayaan berbasis masyarakat seperti yang dilakukan YSBI. Penting banget buat kita mulai dari pemilahan sampah di rumah.

    BalasHapus
  40. Gak nyangka kalau sebenarnya ternyata saya udah ikut berpartisipasi dalam ekonomi sirkular ini. Iya secara saya tuh sejak bekerja di luar negeri, sampai pulang kampung, sudah terbiasa memilah sampah sejak dari dapur

    BalasHapus
  41. Apa yg telah dilakukan oleh YSBI melalui bank sampah tentu sangat positif ya. Langkah ini penting untuk menangani sampah dan harus kita dukung .

    BalasHapus
  42. Baca artikel ini berulang kali, bikin aku sadar dan berharap semoga makin banyak orang yang tau terkait ekonomi sirkular. Sangat bermanfaat dan menarik banget.

    YSBI melalui Bank Sampah Induk Bersinar, udah kasih contoh nyata betapa kerennya ekonomi sirkular yang bisa dijalankan dari setiap rumah ya.

    BalasHapus
  43. Setuju untuk urusan sampah ini wajib banget dimulai dari rumah. Pisahkan mana organik/non organik. Bisa juga dibuat kompos

    BalasHapus
  44. Suka banget sama pendekatan Pentahelix Indonesia Bersinar yang diusung YSBI. Memang masalah sampah nggak bisa diselesaikan sendirian, butuh sinergi antara pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media.

    BalasHapus
  45. Edukasi pilah sampah ini memang penting banget, karena butuh kerjasama di setiap warga agar tercipta lingkungan yang bersih. Dan ternyata dari sampah, bisa menghasilkan uang. Sedikit demi sedikit, yakin lama-lama menjadi bukit tabungan dari nabung sampah di YSBI.

    BalasHapus
  46. Bagus banget ada ekonomi sirkular jadi meminimalisir limbah dan lebih ramah lingkungan. Bank sampahnya juga besar dan modern ya.
    Daku biasanya setor sampah plastik ke bank sampah di RW sini. Senang deh kalau ada bank sampah jadi bisa lebih bersih dan mendukung program recycle.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)