Manteman, kalo lagi di rumah, biasanya pada ber-ME-TIME-ria dengan cara apa sih? Kalo saya, me time itu biasanya saya habiskan dengan ngopi, nonton, dan juga dengerin musik. Dengan 3 kegiatan tersebut, udah deh, mau sepusing apa pun keseharian saya, kalo sudah bisa melakukan salah satunya, atau bahkan ketiganya, seluruh hari akan jadi sangat menyenangkan.
Tampilkan postingan dengan label Kecantikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecantikan. Tampilkan semua postingan
12.12.18
[Review] dalan d’Olive Olive Oil Liquid Soap
Manteman, kalo lagi di rumah, biasanya pada ber-ME-TIME-ria dengan cara apa sih? Kalo saya, me time itu biasanya saya habiskan dengan ngopi, nonton, dan juga dengerin musik. Dengan 3 kegiatan tersebut, udah deh, mau sepusing apa pun keseharian saya, kalo sudah bisa melakukan salah satunya, atau bahkan ketiganya, seluruh hari akan jadi sangat menyenangkan.
11.12.18
[Review] Amalia Satin Lipstick Saffron Red 03 & Amalia Whitening Two Way Cake Light Beige
Sebagai seorang perempuan, walopun banyak disebut ‘metal’ dan ‘tomboy’, saya sebenernya suka dandan, lho. Hehehe… iya, yang basic-basic aja, bedakan sama lipenan. Kalo shadowan dan pasang alis sih… saya nyerah. Gak pernah bisa-bisa. So jangan heran, kalo ketemu saya, make up yang paling bisa dilihat dari muka saya, ya cuma bedak sama lipen.
31.5.18
Sharing Seru dan Penuh Ilmu di Acara Ramadan Gathering #NeverStopGlowing
Manteman, hari Rabu, tanggal 23 Mei 2018 lalu, saya seneng bukan main. Mau tahu kenapa? Hehehe… saya dapet banyak ilmu baru. Lho, sekolah lagi? Bukan, bukan sekolah lagi. Tapi saya berkesempatan ikut Ramadhan Gathering yang bertajuk #NeverStopGlowing, bareng Pond’s Age Miracle dan Clozette Indonesia. Bertempat di Wyl’s Kitchen, Hotel Veranda Jakarta Selatan.
17.11.16
Si Tomat untuk Kulit yang Memikat
Teman-teman, hari Minggu lalu saya pergi ke pasar. Tak seperti biasanya, kali itu saya beli tomat lumayan banyak. Yaitu 5 kilogram. Bukan, saya beli tomat sebanyak itu bukan untuk hajatan dan masak banyak. Tetapi lebih kepada kabita, alias tergoda pada ranumnya, segarnya, dan bagusnya tomat-tomat itu. Bukan kali itu saja sih sebenernya. Tiap kali ke pasar, kalo lihat tomat bagus dan segar seperti itu, saya gampang banget tergoda. Gak heran, 4 - 5 kilogram tomat, hampir setiap pergi ke pasar, selalu memenuhi keranjang belanja saya.
Teman-teman penasaran gak dikemanain tomat-tomat sebanyak itu? Yang bahkan dalam sebulan bisa sampai 3 kali lipatnya menuhin kulkas di rumah saya? Hehe.. betul, tomat-tomat itu sebagian dijus, sebagian dirujak, sebagian dimakan langsung mentah-mentah tanpa diolah, sebagian dipakai bumbu masak, dan sebagian lagi dipakai masker wajah. Gak cuma oleh saya, bahkan seisi rumah, semuanya mempunyai andil besar di dalam menghabiskan tomat-tomat itu.
20.10.16
Hidup Bahagia Terpancar di Wajah yang Bahagia
Pagi itu saya sedih. Obrolan bareng seorang teman via Whats App di malam harinya, menjadi penyebabnya. Gimana gak sedih, sebagai ibu rumah tangga full time, denger kisah kesibukan teman yang wara-wiri ke luar kota dan ke luar negeri untuk urusan pekerjaan, jelas bikin ‘hati berdesir’. Tahu sendiri kan, ya, ibu rumah tangga mah sensitif banget sama hal-hal beginian. Paradigma masyarakat yang bilang kesuksesan wanita itu diukur dari karirnya, cukup kuat tertanam di benak siapa saja. Tak terkecuali di kepala ibu-ibu rumah tangga macam saya.
Kesedihan saya akan kesuksesan teman tersebut sedikit turun manakala inget sisi lain dari kehidupannya. Kegalauan sang teman akan minimnya kuantitas dan kualitas kebersamaan bareng anak-anaknya, cukup membuat miris. Bukan puas dengan apa yang terjadi padanya, ya. Tapi kebersamaan dan kedekatan saya dengan keluarga serta anak-anak, setidaknya cukup menghibur saya. Apalagi jika diingat alasan saya jadi ibu rumah tangga full time, saat saya resign dari kerja kantoran. Pencapaian saya atas alasan resign tersebut, rasanya sudah bawa banyak sekali ‘prestasi’. Setidaknya begitu buat saya. Dan jelas, prestasi ini gak bisa dibandingin dengan kesuksesan orang lain. Tujuan awalnya saja udah beda. Saya jadi ibu rumah tangga full time, sedangkan dia jadi wanita karir.
21.9.16
Parfum Gue, Parfum yang Cuma Punya Gue
― C. JoyBell C.
Saya setuju dengan quote di atas. Iya, saya sih ngerasanya begitu. Saya belum seutuhnya berpakaian jika belum pake parfum. Bukan apa-apa sih, soalnya ini menyangkut rasa percaya diri. Benar, sejak masa puber beberapa puluh tahun silam, *hehe* karena adanya perubahan tubuh, saya merasa gampang banget keringetan. Kalo sudah keringetan, jelas dong, badan jadi cepet bau asem atau bau yang lainnya. Dan kalo sudah bau, sudah deh, tenggelam deh saya.
Betul, saya pertama kali pakai parfum itu saat usia belasan tahun, atau saat SMA-an. Seperti yang saya ceritakan di atas tadi, hal ini lebih kepada rasa percaya diri dan juga kenyamanan orang-orang di sekitar saya. Dan bukan karena kecentilan *hihihi* ingin menarik perhatian orang. Parfum yang saya pake saat itu adalah ‘parfum colongan’ dari teteh saya. Maklumlah, anak SMA mana bisa beli parfum sendiri. Jajan sehari-hari aja cuma lima ribu perak saja. Bisa sih beli parfum, tapi yang dijual di pasaran itu. Eh, bukan parfum mungkin namanya, tapi minyak wangi. Iya, selain pake parfum si teteh, saya juga pake minyak wangi. Semacam splash cologne dari merek kosmetik remaja yang saat itu sedang booming. Generasi 90-an pasti tahu dengan merek yang satu itu.
17.8.16
Bu, Jaga Kecantikan Kulit Wajah, Yuk!
Beberapa waktu yang lalu, setelah jemur pakaian, tiba-tiba mama merhatiin muka saya dengan saksama. Karena cukup lama, saya pun heran dan bertanya.
"Kenapa, Ma? Merhatiin muka kok segitunya?"
Memerlukan waktu sekitar 5 menit buat mama untuk merhatiin wajah saya. Sampai akhirnya, mama pun jawab.
"Kamu itu umurnya masih 30-an. Tapi wajahmu, kok kaya udah 40-an."
Dek! Ucapan mama seperti petir yang menggelegar di siang bolong. *Lebay* Iyalah, perempuan mana sih yang bisa santai saat denger kalo mukanya tampak tua? Hal seperti itu, sama saja artinya dengan kita dicap jelek. Tanpa tedeng aling-aling. Saking galaunya, saya pun mencoba menjawab demi menenangkan diri.
"Ah, ini kan gara-gara keringetan dan kepanasan aja. Mana belom mandi dan belom dandan lagi."
Tanpa diduga, ucapan mama berikutnya malah semakin bikin saya galau.
"Yang namanya cewek cantik itu justru yang alami. Yang wajahnya bersih walau pun tanpa make up. Sekali pun belom mandi dan keringetan. Kalo dibiarin, bintik-bintik hitam di muka kamu jadi tambah banyak. Nanti kokoloteun, lho!"
"Duh, mama. Kok nakutin banget sih ucapannya. Enggaklah, gak bakalan kokoloteun. Iya sih, ada bintik-bintik hitam," saya menimpali.
"Gak bakalan gimana, dirawat aja gak pernah." Mama mengakhiri percakapan.
Kalimat mama yang terakhir laksana kartu troof yang membuat saya kalah dalam permainan. Ya, saya memang jarang, bahkan gak pernah merawat muka saya. Bukan karena gak punya rangkaian perawatannya. Dari mulai pelembap wajah, foundation, cleansing lotion, tonic, hingga ke berbagai macam bedak, saya punya. Saya tidak menggunakannya karena alasan saya tidak ke mana-mana.
30.6.16
Kulit Muka Bersih dan Bebas Baper? Pakai Cetaphil Gentle Skin Cleanser!
Teman-teman, boleh nanya, gak? Boleh, ya? Hehehe… *maksa*. Begini, apa sih yang teman-teman rasakan saat banyak yang bilang kalo tampilan teman-teman itu lebih tua dari usia teman-teman sendiri? Gak cuma satu lho yang bilang, tapi banyak. Sedih, kecewa, atau biasa-biasa aja? Saya sih, duh.. berasa dicemplungin ke kolam lele deh. Ya malu, ya sedih, dan, uh... BAPER! Iyalah, siapa yang gak baper kalo kita, secara gak langsung disebut tampak tua a.k.a tampang boros. Maunya kan justru sebaliknya. Awet muda dan selalu cantik. Bahkan kalo mungkin, disangka masih usia 17-an, kan? Hihihi… *kebangetan*
Ini bukan kisah fiktif. Beneran, saya pernah lho dikira kakak dari kakak saya. Perih banget, jendral! Mereka bilang, kulit muka saya kusam, kucel, dan terlihat gersang laksana padang pasir. Sementara kakak saya, katanya wajahnya segar dan lebih muda. Beuh… stres saya dengernya. Rasanya, pengen banget deh saat itu langsung operasi plastik biar tampak muda. Atau seenggaknya, pengen banget deh saat itu nyodorin KTP biar mereka percaya. Bahwa sebenernya, saya itu masih muda *penting*. Tapi untunglah, level sabar saya saat itu masih tinggi. Meski hati sedih tak terperi, saya masih bisa senyum menenangkan diri.
2.5.16
Hobi Ganti Warna Rambut? Lakukan Perawatan Berikut Agar Rambut Tak Cepat Rusak!
Anda hobi mengganti warna rambut? Itu hal yang wajar. Hampir semua orang Indonesia tidak memiliki variasi yang banyak untuk warna rambut, sehingga pasti ada yang ingin ganti suasana atau mengekspresikan diri dengan rambutnya tersebut. Namun ketika Anda memutuskan untuk mewarnai rambut, pastikan Anda mencari tahu perawatan rambut yang terbaik untuk rambut Anda nantinya.
Ada alasannya kenapa rambut yang sudah diwarnai harus mendapatkan perlakuan yang khusus. Ini karena dalam proses pewarnaan rambut tersebut, yang jelas penuh dengan bahan kimia, rambut Anda akan mengalami perubahan cukup drastis di dalamnya, sehingga hasilnya, rambut Anda menjadi lebih kering, lebih rapuh, dan tentu saja, cenderung rentan rontok. Ini sebabnya rambut yang diwarnai harus mendapatkan perhatian ekstra. Untuk Anda yang memiliki rambut warna-warni, ini caranya agar perawatan rambut jalan terus.
18.2.16
Sulamit, Kosmetik Dalam Negeri yang Aman dan Nyaman Dipakai Setiap Hari
Temen-temen, ada yang pernah denger nama Kosmetik Sulamit sebelumnya? Belum? Sama dong dengan saya. Saya, sebelum dua bulan ini, gak tahu apa itu Kosmetik Sulamit. Setelah blogwalking di beberapa review temen-temen blogger, barulah saya tahu. Kosmetik Sulamit adalah kosmetik buatan dalam negeri yang menurut review beberapa temen blogger, termasuk kosmetik yang aman.
Penasaran dengan info lebih lanjut akan kosmetik ini, saya pun mencarinya di Google. Dan saya terkejut. Iya, di halaman pertama mesin pencarian, berjejer tulisan yang isinya mengenai ketidak-amanan kosmetik Sulamit karena belum mengantungi izin dari Badan POM. Tapi ada yang janggal di sana. Tanggal postingan di tulisan-tulisan yang ada di hasil pencarian Google masih di tahun 2014. Sementara tulisan-tulisan tentang Kosmetik Sulamit dari beberapa teman blogger yang saya baca, postingannya baru semua, tahun 2016. Logikanya, udah gak berlaku lagi dong tulisan tentang kosmetik Sulamit yang katanya belum mengantungi izin Badan POM?
Beruntung, saya termasuk salah satu blogger yang akhirnya berkesempatan mencoba kosmetik yang memiliki nama unik ini. Jaminan keamanan Kosmetik Sulamit yang dijelaskan di beberapa tulisan temen-temen blogger sudah saya buktikan. Yupp! Saya mencoba rangkaian kosmetik Sulamit yang saya terima.
15.12.15
CLBK dengan Gizi Super Cream
Iya, seperti itulah saya terhadap Gizi Super Cream. CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali. Kenapa demikian, sebab dulu, saat saya SMP dan SMA, di tahun 1990-an, saya adalah pengguna setia Gizi Super Cream. Khasiatnya yang bikin kulit saya lebih cerah padahal saya adalah tukang panas-panasan; khasiatnya yang bikin kulit saya lebih lembut padahal saya jarang mengurus wajah; serta wanginya yang alami dan tidak bikin saya pusing karena saya gak suka parfum, adalah sekian alasan dari jatuhnya pilihan saya pada Gizi Super Cream.
Sebenernya Sih…
Sebenernya, sejak dulu saya tidak suka merawat wajah. Saya yang super-duper cuek tidak suka dengan ribetnya mengurus bagian tubuh yang bagi perempuan lain adalah hal yang utama itu. Sebabnya jelas. Waktu itu saya masih muda, dan kulit saya masih segar serta bagus. Jadinya saya merasa belum butuh perawatan. Tak hanya itu saja, aroma kosmetik yang menurut saya bikin kepala pusing serta banyaknya yang harus dioles di wajah tentu membuat malas. Tapi, semua berubah saat mama nyaranin saya pake Gizi Super Cream.
Benar, apa yang bikin males dari kosmetik perawatan wajah ternyata tidak saya temui di Gizi Super Cream. Wanginya alami karena terbuat dari herbal dan penggunaannya pun mudah. Tak perlu banyak oles ini oles itu. Cuma dengan satu Gizi Super Cream yang digunakan setelah mandi, cuci muka, dan juga setelah bewudhu, kulit bersih, putih, dan halus pun saya dapatkan. Bisa dibilang, Gizi Super Cream-lah yang membuat saya percaya bahwa kulit cantik, putih, dan terawat itu tak harus didapat dengan cara ribet, melainkan hanya dengan satu langkah mudah saja.
11.5.15
Masih Takut Rambut Rusak Karena Catokan? Pakai Philips Straightener KeraShine!
Semua orang pasti setuju bahwa definisi cantik itu sangat relatif. Begitu juga buatku. Mau itu berkulit hitam atau putih, berhidung mancung atau tidak mancung *jangan baca pesek, aku kesindir :D*, bertubuh tinggi atau pendek, berwajah tirus atau bulat, hingga langsing atau pun gendut, yang namanya cantik mah, ya cantik aja. Terbebas dari variabel-variabel tadi. Cantik, ya cantik, titik.
Tapi, setelah beberapa lama definisi cantik itu seperti itu, tiba-tiba suatu hari, arti cantik ini sedikit tergoyahkan, ketika seorang teman kuliah menjabarkan kata cantik dengan embel-embel: berambut lurus. Kenapa rambut lurus? Sebab menurut dia, cewek berambut lurus itu terlihat rapi, luwes, dan anggun. Jadi dengan rambut lurus, kecantikannya menjadi sempurna.
Sebagai pemilik rambut yang gak keriting (tapi juga gak lurus-lurus amat), aku harusnya gak tersinggung. Tapi ketika lihat rambutku yang seringnya acak-acakan, aku jadi ngerti dengan definisi cantik versi temanku itu.
Berbagai usaha pun dicoba supaya rambutku bisa lurus rapi sepanjang hari. Tapi ternyata gak mudah. Catok pelurus rambut yang saat itu sedang booming pun, tak mampu menjadikanku cantik sempurna. Sebaliknya, gara-gara keseringan pakai, rambutku malah jadi rusak. Ya rambut jadi kering, ya ujung rambut bercabang, dan ya warna hitam rambut jadi kucel bin kusam.
Tapi, setelah beberapa lama definisi cantik itu seperti itu, tiba-tiba suatu hari, arti cantik ini sedikit tergoyahkan, ketika seorang teman kuliah menjabarkan kata cantik dengan embel-embel: berambut lurus. Kenapa rambut lurus? Sebab menurut dia, cewek berambut lurus itu terlihat rapi, luwes, dan anggun. Jadi dengan rambut lurus, kecantikannya menjadi sempurna.
Sebagai pemilik rambut yang gak keriting (tapi juga gak lurus-lurus amat), aku harusnya gak tersinggung. Tapi ketika lihat rambutku yang seringnya acak-acakan, aku jadi ngerti dengan definisi cantik versi temanku itu.
Berbagai usaha pun dicoba supaya rambutku bisa lurus rapi sepanjang hari. Tapi ternyata gak mudah. Catok pelurus rambut yang saat itu sedang booming pun, tak mampu menjadikanku cantik sempurna. Sebaliknya, gara-gara keseringan pakai, rambutku malah jadi rusak. Ya rambut jadi kering, ya ujung rambut bercabang, dan ya warna hitam rambut jadi kucel bin kusam.
Langganan:
Komentar (Atom)
Template by Nia Haryanto's Blog










