10.8.26

Gejala Mata Kering Hilang, Mendaki Gunung Pun Tenang dan Riang!


"No man is really happy or safe without hobby." ~ William Osler

Saya setuju banget dengan quote yang dilontarkan William Osler di atas. Gak akan ada manusia yang benar-benar bahagia atau ngerasa aman tanpa melakukan hobi. Sebab itu yang sekarang saya rasakan. Hidup bahagia, minim stres, dan tetap semangat apapun yang sedang terjadi.

Iya, hidup saya sekarang lebih enjoy berkat melakukan hobi. Jika saya dulu mikir ini itu sebelom melakukan hobi, sekarang tidak. Waktu yang berjalan tidak akan bisa Kembali. Usia muda saya tidak akan pernah terulang dua kali. Anak-anak, keterbatasan keuangan, atau padatnya aktivitas domestik dan kerjaan, toh bisa disiasati. Saya bisa pilih budget yang murah, saya bisa nitipin anak-anak ke bapaknya, dan saya juga bisa memindahkan ngerjain kerjaan rumah atau yang lainnya di lain waktu. Tinggal pintar-pintar sayanya saja di dalam mengatur semuanya. 

Emang Hobinya Apa?

Hobi saya banyak. Dari waktu ke waktu juga hobi saya sering berubah. Tapi untuk saat ini, hobi yang paling saya sukai dan selalu membuat saya exciting di dalam menunggu saatnya tiba dan saat melakukannya, itu adalah naik gunung. Lebih tepatnya tektok. Yakni hiking ke gunung tanpa bermalam. Pergi dan pulang masih di hari yang sama. Kenapa memilih tektok, karena waktunya belom memungkinkan untuk camping di luar rumah. Saya masih punya anak yang duduk di bangku SD. Masih banyak hal yang harus saya urusi terkait dia. Dan dia juga memang gak ngijinin saya untuk tidur di luar rumah. Kalo mamah cuma pergi di siang hari aja mah, gapapa. Begitu kata dia.

Hobi naik gunung ini sebenernya bukan hal baru buat saya. Sebagai mantan mahasiswa jurusan Biologi, dulu saya ada yang namanya kuliah lapangan. Bermain di hutan, di gunung, atau di laut, sudah terbiasa. Nah setelah menikah, dan sekarang anak-anak sudah besar, serta kebetulan juga banyak teman pendaki gunung, jadinya hobi main-main di alam ini kembali muncul.

Melelahkan Tapi Tak Bikin Kapok

Dua tahun sudah saya melakukan hobi naik gunung ini. Walopun masih seputaran gunung-gunung di Bandung Raya, tapi saya bahagia. Sudah lebih dari 20 gunung di Bandung yang saya daki. Dan pastinya, nanti akan terus bertambah. 

Capek? Jelas! Kapok? Enggak dong! Walopun sering jatuh, kepeleset, serta ini dan itu, saya bahagia. Malah pinginnya setiap hari libur saya naik gunung. Tapi karena banyak keterbatasan, sebulan bisa 1-2 kali saja, sudah cukup bikin hidup saya bahagia. 

Saya sering ditanya, kok bisa sih capek-capekan bikin bahagia? Dulu saya cuma jawab, ya seneng aja. Bisa ngumpul sama temen dan juga bisa refreshing di alam. Ternyata jawabannya lebih dari itu. Hobi yang ada hubungannya dengan olahraga itu memang bikin Bahagia. Menurut Halodoc, hal ini karena aktivitas yang dilakukan memicu pelepasan hormon dopamin dan endorfin di otak, mengurangi hormon stres, serta memberikan ruang bebas dari tekanan sehari-hari.


Hiking ke Gunung Masigit, Pengalaman yang Sudah Lama Saya Tunggu-tunggu!

Seorang teman SMP, sekitar setahun lalu pernah cerita tentang pengalamannya naik ke Gunung Masigit. Menurutnya, pengalaman naik gunung ke sana sangat tak terlupakan. Memang sih, secara umum naik gunung itu hampir sama. Tapi ke Gunung Masigit itu luar biasa katanya.

Cerita teman saya itu sungguh membuat saya penasaran. Iyakah semenantang itu naik ke Gunung Masigit? Sebagai orang yang senang naik gunung, saya jelas penasaran. Saya pun bertekad, saya harus naik ke gunung tersebut.

Setahun lamanya saya menunggu kesempatan. Tibalah akhirnya komunitas naik gunung yang saya ikuti memiliki jadwal hiking ke Gunung Masigit. Jelas, saya senang mendengarnya. Tanpa pikir ini dan itu, saya pun langsung saja daftar. Serunya naik gunung seperti yang diceritakan teman SMP saya setahun yang lalu, tergambar di khayalan saya. Saya akan segera mengalaminya. Begitu pikir saya waktu itu. 

Pengalaman Tak Menyenangkan Saat Naik Gunung Masigit

Apa yang menantang saya dari hiking Gunung Masigit akhirnya bisa saya rasakan sendiri. Tepatnya di Hari Minggu, 2 Agustus 2026 yang lalu. Trek yang panjang dan melelahkan, jalur terjal dengan jalan tipis bak punggungan naga, di mana bagian kanan dan kirinya jurang terjal yang dalam, serta rapatnya vegetasi hutan dari mulai pintu rimba hingga ke puncak, sungguh membuat tubuh seperti sedang berjuang di medan perang. 

Sesekali terbersit untuk menyerah saja. Saya stop di pos berapa bersama beberapa teman sambil menunggu teman-teman lain dari puncak. Atau mungkin saya balik lagi ke basecamp. Tapi tidak, saya memilih untuk tidak menyerah. Saya sudah menunggu untuk bisa hiking ke gunung tersebut selama setahun. 

Gak lucu rasanya kalo saya harus menyerah. Segala rintangan harus saya hadapi. Toh teman saya sudah menceritakan semuanya kepada saya. Dia saja yang sudah lebih banyak pengalaman naik gunungnya, ngaku ke saya kalo dia rungkad. Tapi tentu, di balik rungkadnya itu, ada kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri yang dirasakannya.

Gunung Masigit itu bukan gunung yang populer. Pendaki yang sudah menjejakkan kaki di puncaknya belumlah sebanyak ke gunung-gunung lain yang ada di Bandung Raya. Sebabnya jelas, basecamp-nya jauh, di mana masih dikelola secara tradisional oleh penduduk sekitar. Sehingga sarana toilet, parkir, dan warung masih belum ada. Terusnya juga susah dijangkau dengan kendaraan umum. Dan yang paling nyata, itu tentu karena trek dan jalurnya yang bikin rungkad itu. 

Saat saya ke sana, tantangan tersebut sepertinya berlipat ganda. Musim kemarau yang panjang di tahun ini membuat trek yang dilalui sangat kering. Tanah gembur yang berdebu saat kita menginjakkan kaki. Daun-daun berguguran yang juga penuh dengan debu-debu tanah. Bahkan cahaya Matahari yang menyengat sekalipun jalur menuju puncak Gunung Masigit beberapa bagiannya adalah hutan yang vegetasinya rapat, membuat mata kerasa SEpet, PErih, dan LElah. Belum lagi tingkat dehidrasi yang tinggi. Badan yang ngucur keringat terus menerus juga menambah buruk keadaan mata. Mungkin ada kaitannya dengan pelumasan bola mata yang lebih susah dari kelenjar air mata akibat kondisi di sana yang sangat panas.

Beberapa trek Gunung Masigit yang berdebu

Bagi orang yang tidak merasakan sendiri pengalaman saya saat itu, hal tersebut mungkin akan dianggap SePeLe. Iya sih, buat saya juga awal-awal mah begitu. Tapi lama-lama, karena lamanya waktu pendakian lebih dari 5 jam, dan waktu turun yang sekitar 4 jam, terasa mengganggu juga. Kalo lagi diem di rumah sih, mungkin bisa dibiarin. Istirahat sebentar, tiduran sebentar, gejalanya mungkin bisa hilang. Tapi saat di sana, saya gak bisa berlama-lama berdiam diri. Gak bisa berlama-lama istirahat. 

Dilemanya, naik gunung itu berpacu dengan sinar Matahari. Di satu sisi kita ingin teduh supaya badan tetap adem. Tapi di sisi lain, jika sinar Matahari teduh, itu berarti kabut gunung bisa sewaktu-waktu turun. Dan jika kabut gunung sudah turun, suhu bisa langsung tiba-tiba dingin. Kita bisa langsung kedinginan. Berisiko sekali nantinya tubuh kita kena hypothermia. Tahu sendiri kan kalo gangguan itu sangat berbahaya saat di gunung. 

Tanpa sinar Matahari, trek juga nantinya bisa jadi gelap. Jalur Gunung Masigit yang jalan setapaknya tipis bak punggungan naga, itu di bagian kiri dan kanannya jurang-jurang yang dalam. So, mata SEpet, PErih, dan LElah atau gejala mata kering ini harus segera diatasi, supaya pengalaman mendaki gunung bisa tetap seru, aman, bikin tenang, dan menyenangkan.

Insto Dry Eyes, Atasi Gejala Mata Kering Saat Naik Gunung Masigit!

Ini yang saya lakukan. Sebelum naik Gunung Masigit, saya sering mengalami juga gangguan mata perih dan sepet. Terlebih semenjak musim kemarau panjang seperti sekarang ini. Tapi dulu saya sering menyepelekan dan mengabaikannya. 

Tapi saat naik ke Gunung Masigit beberapa Waktu yang lalu, saya sengaja membawa Insto Dry Eyes. Berdasarkan cerita teman saya serta pengalaman-pengalaman naik gunung sebelomnya, saya sudah memperkirakan kalo mata saya bakal ngerasa perih dan sepet. Dan benar saja, semua perkiraan saya terjadi. Jadi saat gejala mata kering kerasa, saya langsung aja tetesin Insto Dry Eyes. Alhamdulillah, dalam waktu yang tidak lama, mata saya terasa segar Kembali. Gejala mata kering pun langsung hilang. Naik gunung jadinya tenang dan riang.

#MataSePeLeJanganSepelein

Tahu kan dengan Insto Dry Eyes? Iyes, obat tetes mata yang sudah sejak dulu dikenal sebagai solusi dalam mengatasi gejala mata kering. Saya sendiri tahu Insto Dry Eyes ini dari mama. Sudah sejak lama saya menggunakan tetes mata Insto Dry Eyes sebagai solusi untuk mengatasi gejala mata kering.

Jangankan saat di gunung ketika musim kemarau kayak sekarang yang jelas-jelas udaranya berdebu, saat mata terasa perih dan sepet kapanpun itu, misalnya saat saya nulis konten untuk klien di depan gadget, segera aja saya teteskan Insto. Kesegarannya langsung terasa. Dalam waktu yang tak lama, perih dan sepet yang tadinya menggangu mata, langsung hilang.

Kenapa #InstoDryEyes?

Karena Insto Dry Eyes bisa meredakan gejala mata kering dengan cepat dan efektif? Hal itu karena Insto Dry Eyes mengandung bahan aktif Hydroxypropyl Methylcellulose yang mampu bekerja memberikan efek pelumas seperti air mata untuk mengatasi mata kering. Bahan aktif ini juga dapat meringankan iritasi mata yang disebabkan oleh kekurangan produksi air mata.

Insto Dry Eyes yang memberikan efek pelumas seperti air mata ini, tak hanya bisa mengatasi gejala kekeringan pada mata, tetapi juga bisa meringankan iritasi mata yang disebabkan oleh kekurangan produksi air mata (yang biasanya dirasakan penderita rheumatoid arthritis, keratoconjunctivitis, dan xerophtalmia), serta bisa juga digunakan sebagai pelumas pada mata palsu.

Insto Dry Eyes

Well...

Pengalaman menyepelekan gejala mata perih saat naik gunung sebelum-sebelumnya tidak akan pernah terulang lagi di kesempatan naik gunung selanjutnya. Jangankan naik gunung, saat gejala mata kering terasa, dimana pun itu, harus segera di atasi deh. Gak enak banget kerasanya. 

Untuk itu, Insto Dry Eyes harus selalu dibawa. ke gunung mana pun itu. Gak enak banget efeknya. Bikin melakukan aktivitas hobi menjadi kurang menyenangkan dan gak tenang. Udah jauh-jauh ke gunung, udah bela-belain capek-capekan, gak asik banget kalo puasnya gak pol. Belom lagi kalo membuat kita jadi berisiko celaka. Toh kan bawa Insto Dry Eyes mah gampang. Ukurannya mini. Masuk di kantong celana, di saku tas, bahkan di dompet. Praktis dibawa ke mana pun. Dengan Insto Dry Eyes, #BebasMataKering, mendaki gunung pun tenang dan riang!


Teman-teman juga begitu, ya. Kalo kerasa Mata SePeLe Jangan Disepelein, tetesin Insto Dry Eyes. Insya Allah, gangguan gejala mata kering tersebut akan segera menghilang. Mata pun jadi seger, sejuk, dan adem. 

Insto Dry Eyes mudah didapat. Teman-teman bisa membelinya di berbagai apotek, di minimarket terdekat, di toko-toko obat, atau di mana saja. Harganya juga relatif terjangkau.

Pokoknya #MataSePeLeJanganSepelein. Jikapun dirasa gejalanya tidak menurun, segera hubungi dokter. Penanganan dengan segera bisa membuat mata kita terhindar dari bahaya.

Oke deh teman-teman, segitu curhat saya tentang pengalaman naik Gunung Masigit beberapa waktu lalu. Sehat-sehat dan bahagia selalu!




26 komentar:

  1. Kesehatan mata ini jadi teringat pentingnya menjaga mata saat beraktivitas outdoor. Apalagi kalau sering naik gunung, mata juga berhadapan dengan angin, debu, sinar matahari, dan udara yang lebih kering. Salut saya Mba Nia, dengan aktivitas naik gunung yang sudah menjelajahi lebih dari 20 gunung di Bandung. Keren banget! Pastinya menjaga kondisi tubuh, termasuk mata, jadi bagian penting supaya tetap nyaman menikmati perjalanan.

    BalasHapus
  2. Wahh seru banget sih itu kak. Aku pun sampe skrang belom pernah naik gunung. Apalagi sendirian, hehehe

    BalasHapus
  3. Memang jalur berdebu pas kemarau itu musuh bebuyutan mata banget. Untung bawa Insto Dry Eyes ya, jadi perjalanan tetap aman dan nggak terganggu mata perih. Setuju banget, hobi outdoor gini emang penawar stres paling ampuh.

    BalasHapus
  4. Mendaki gunung itu memang melelahkan, tapi juga menyenangkan sekali. Apakah kapok? tentu saja nngak, apalagi mendakinya breng-bareng, makin asik dan seru jadinya. Tapi, selama perjalanan memang mata ini rasanya lelah, apalagi musim kemarau banyak sekali debu bertebaran. Insto Dry Eyes memang barang bawaaan wajib untuk jagain kesehatan mata di berbagai aktivitas, sih.

    BalasHapus
  5. Wah, mendaki gunung asyik banget ya teh Nia. Sehatnya dapat, hati senang dan riang, jiwa pun bahagia. Trekking jalur pas lagi musim kemarau terkadang tanahnya gembur. Mata kena debu maupun butiran pasir atau tanah yang tahu2 masuk ke dalam mata. Untung sedia Insto Dry Eyes untuk mengatasinya.

    BalasHapus
  6. Waah anak Biologi udah temenan sama alam dan penghuninya ya mbak. Sepupu saya ada juga anak biologi pegangannya kodok, uler dll. Huuuuhuuuu, aku juuga suka naik gunung tp jangan sampe ketemu pacet dan binatang melata, klo ngga maaf2 aku teriak paling kenceeng. Ngga tau deh gimana konsepnya ini, suka alam tapi takut binatang wkwkkw

    BalasHapus
  7. Ternyata pengalaman naik gunung dan mata kering ini relate juga dengan suami saya yang memang anak gunung. Beliau pernah mengeluhkan gejala mata yang sama saat mendaki, mungkin karena debu, angin, panas, dan kondisi udara di gunung. Setelah membaca pengalaman Mbak Nia ini, saya jadi dapat “tugas” baru, hehe.
    Next kalau suami mau naik gunung, saya nggak boleh lupa mengingatkan dia untuk sedia Insto Dry Eyes di perlengkapan pendakiannya. Barangnya kecil, tapi ternyata bisa sangat membantu ketika mata mulai sepet dan perih di tengah perjalanan. Apalagi kalau sedang di jalur yang panjang dan berdebu seperti pengalaman di Gunung Masigit. Terima kasih sudah berbagi pengalaman, Mbak. Jadi pengingat buat para pendaki juga nih

    BalasHapus
  8. Keren iiiih Teh Nia, hobi tek-tok naik gunung dan dilakukan sejak mahasiswa, bahkan mungkin sebelumnya udah hobi.
    Ternyata naik gunung dengan udara segar dan banyak pohon juga bisa bikin mata lelah yah. Apalagi pas tek-toknya musim kemarau gini.
    Udah paling bener, tarok Instro Dry Eyes, di tas yah...

    BalasHapus
  9. stilah mata kering emang sering banget kita sepelekan, padahal kalau udah kerasa sepet dan perih itu ganggu konsentrasi banget. Dan gejala SePeLe ini gak hanya terjadi kalau kita kebanyakan menatap gadget. Tapi, bis ajuga karena aktivitas di luar ruangan. Memang harus selalu sedia Insto, nih.

    BalasHapus
  10. Relate banget, kadang mata mulai sepet atau lelah justru baru terasa setelah terlalu lama fokus sama aktivitas. Hal kecil seperti ini memang sering diabaikan sampai akhirnya bikin nggak nyaman. Jadi pengingat buat lebih peka sama kondisi mata sendiri.

    BalasHapus
  11. wah keren, saya baru tau Teh Nia sering mendaki gunung
    Walau udaranya sejuk, Insto Dry Eyes emang wajib dibawa ya?
    Karena kalo mata bermasalah maunya dikucek aja

    BalasHapus
  12. Bener banget, Mbak Nia. Kadang kita baru sadar pentingnya menjaga kesehatan setelah mengalami sendiri betapa sepele keluhan kecil bisa mengganggu aktivitas yang kita sukai. Apalagi saat mendaki, mata yang nyaman bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga bikin perjalanan terasa lebih aman dan bisa dinikmati sampai puas. ❤️

    BalasHapus
  13. Baru tau ternyata naik Gunung Masigit jalurnya sesadis itu teh. Ga kebayang gimana berdebunya pas musim kemarau, pantesan mata langsung protes minta ditetesin Insto Dry Eyes

    BalasHapus
  14. Saya selalu kagum dan salut dengan orang-orang yang bisa/suka mendaki gunung. Karena sejatinya kegiatan ini tuh gak gampang untuk ditaklukkan. Butuh kesehatan prima dan mental yang kuat. Termasuk untuk urusan kenyamanan mata. Biar selama proses pendakian penglihatan aman dan nyaman.

    BalasHapus
  15. Keren banget, masih konsisten hiking lho. Aku hiking itu pas masih kuliah, setelahnya udah jarang palingan trekking doang.

    Nah, gejala mata kering ini kalau dialami harus segera diatasi ya. Jangan di sepelekan soalnya beneran bisa ganggu. Untunglah Adan Insto Dry Eyes, si mungil super ampuh.

    BalasHapus
  16. Sangat informatif! Di era serba digital ini, masalah mata kering memang sering kita abaikan padahal sangat mengganggu produktivitas. Ulasan penggunaan Insto Dry Eyes ini jadi pengingat yang baik untuk lebih peduli pada kesehatan mata. Terima kasih, Mbak Nia!

    BalasHapus
  17. Baca cerita naik Gunung Masigit ini bikin deg-degan sendiri, Mbak Nia, apalagi soal jalur yang "kayak punggungan naga" itu. Mata sepet-perih-lelah di tengah kemarau begini emang jahat banget, saya juga suka ngalamin pas kelamaan di depan laptop buat ngedit konten.
    Untung ada Insto Dry Eyes ya, jadi nggak sampai ganggu momen serunya hiking. Salut juga sama tekad Mbak yang udah nunggu setahun buat ke gunung ini dan nggak nyerah walau capek

    BalasHapus
  18. Bahaya banget kalau pas hiking lalu ada masalah penglihatan yaa, teh..
    Kudu sedia Insto Dry Eyes... agar tetap sehat dan fit meski debu dan angin yang dateng tiba-tiba.

    Suka juga ngliatin konten di youtube mengenai tektok.
    Rasanya nyaliku ciuutt kalo di alam, tapiii... nonton kontennya seneng. Suka ada tips dan testimoninya gitu yaa, teh... meski alam gak ketebak, bisa berbagai kondisi tak terduga.

    BalasHapus
  19. Kalau dirasa-rasa memang capek naik gunung itu, apalagi sistemnya tektok, gak bermalam di gunung.
    Saya pernah mengalami keduanya, bermalam di gunung atau sekedar tektok. Tapi yang bikin nagih itu ketika sudah ada di puncak. Rasa capek tergantikan dengan kekaguman melihat pemandangan di puncak. Apalagi kalau muncak bareng temen-temen, bisa kumpul bareng dan juga bisa refreshing di alam.

    BalasHapus
  20. Membawa obat tetes mata sangat penting apalagi saat di puncak gunung, karena kebanyakan puncak gunung penuh dengan pasir dan debu vulkanik yang berbahaya untuk mata.

    BalasHapus
  21. Mata kering itu memang sering datang diam-diam karena awalnya cuma terasa sepet atau seperti ada yang mengganjal. Kalau sedang sibuk, biasanya malah diabaikan karena dianggap bakal hilang sendiri. Aku juga pernah terlalu lama menatap layar sampai mata terasa berat dan nggak nyaman. Setelah mengalami sendiri, jadi lebih sadar kalau mata juga butuh jeda seperti bagian tubuh lainnya. Sedia insto ini sangat membantu

    BalasHapus
  22. wah hobi kita sama mbak, saya juga suka hikking tapi gk nginap . emang kalau mendaki wajib bawa obat mata sih, selain kacamata krn sepengalaman saya juga efek mata kering atau kena debu bisa merusak pendakian yang sudak kita susun photo gk bagus jalan pun gk nyaman krn ada yang ganjel dimata

    BalasHapus
  23. Obat tetes mata kayak insto memang wajib banget ada di dalam tas atau di meja kerja biar kalau mata mulai sepet bisa langsung ditetesin

    BalasHapus
  24. Trek Gunung Masigit kelihatan tantangannya lumayan bikin 'rungkad' ya, apalagi pas musim kemarau yang berdebu gitu. Untung selalu sedia Insto Dry Eyes di kantong, jadi mata sepet dan perih langsung teratasi dan bisa tetap fokus ngetrack jalur. Bawa Insto juga gak ribet. Ukurannya yang kecil, tinggal dikantongin juga bisa.

    BalasHapus
  25. Wah, suka muncak juga nih mbak Nia, hehe... btw, saya juga gak lupa sih mbak kalo pas Naek Gunung selalu bawa kotak P3K yang isinya macam2 obat dll, btw, baru kepikiran ada insto juga ya, oke deh, siap diselipin di kotak P3K pas nanti saya naek gunung.

    BalasHapus
  26. Dapur Cinta08.26

    Kak berani juga menghadapi tantangan naik gunung Masigit yang medannya sulit. Apalagi yang di jalan sempit dan kiri kanan jurang yang terjal, serem ngebayanginnya. Untung bawa Insto Dry Eyes ya kak, ngeri juga kalo pas di medan yang sulit dan berbahaya kalo ada gangguan mata.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)