10.6.21

Tips Mengatur Keuangan Rumah Tangga di Masa Pandemi


Semua pasti setuju, sekarang ini adalah masa yang berat. Tak hanya soal kesehatan. Ekonomi juga. Ya, soal kesehatan sudah jelas, kita semua berisiko untuk tertular virus penyebab pandemi. Bahkan yang sudah divaksin lengkap sekali pun. Yang bisa kita lakukan adalah mencegahnya dengan segenap daya upaya. Yakni disiplin dalam menerapkan prokes 5M. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. 

Penurunan Tingkat Ekonomi Rumah Tangga

Ekonomi juga demikian. Jelas sekali beratnya. Banyaknya PHK, banyaknya perusahaan yang bangkrut, hingga pengurangan secara signifikan upah-upah para pekerja. Padahal kebutuhan hidup tak bisa dikurangi. 

Ekonomi rumah tangga saya juga demikian. Suami yang kerja di bidang pendidikan pun terkena imbas pandemi. Dari mulai berkurangnya gaji, tidak ada lagi tunjangan tahunan, sampai ke penundaan kenaikan gaji. Meski Alhamdulillah masih punya gaji, namun penurunannya yang hampir 20% tersebut, lumayan membuat kami mengernyitkan dahi. 

Saya yang kesehariannya sebagai freelancer pun tak luput dari hal serupa. Penghasilan saya dari menulis konten, menulis blog, mengedit, hingga memanfaatkan media sosial juga jauh berkurang. Jika dihitung, kurang lebih 50% penurunannya

Beruntung saya dan suami punya bisnis kecil-kecilan. Meski omzetnya juga menurun drastis, namun kami masih bersyukur. Bisnis yang kami jalani tidak sampai gulung tikar. Lumayanlah bisa menambah biaya hidup kami sehari-hari.

Tips Mengatur Keuangan Rumah Tangga di Masa Pandemi

Sebelumnya saya minta maaf. Saya menuliskan tentang tips mengatur keuangan rumah tangga di masa pandemi. Padahal saya juga kena imbas dan keadaan ekonomi kami juga jauh menurun jika dibandingkan sebelum pandemi. Saya sih, menuliskan ini sebagai reminder juga untuk diri saya sendiri. ya minimal supaya saya bisa istiqomah dalam menerapkan apa yang saya tuliskan di hari-hari ke depan. Seperti ini kira-kira tipsnya.

1. Gaya hidup sederhana

Ini yang keluarga saya lakukan, mencoba gaya hidup sederhana. Eh sebenarnya sih, bukan berusaha mencoba sederhana dalam artian dipaksakan. Sebab pada kenyataannya, keluarga kami memang sederhana. Jadi untuk menerapkan hal ini, bukan sesuatu yang sulit. Kami hanya berusaha memenuhi kebutuhan yang utama alias primer dulu. Jika ada keinginan akan kebutuhan tambahan, misalnya kebutuhan sekunder atau tersier, contohnya ponsel, laptop, atau apa pun itu, maka benda yang sudah ada harus benar-benar sudah tidak bisa dipakai lagi.

2. Merencanakan apa pun yang ada sangkut pautnya dengan uang, secara detail

Membeli barang atau membelanjakan uang secara spontan sering kali membuat keuangan kami kocar-kacir. Uang seperti hilang tak berjejak. Jadinya, kini jika hendak beli apa pun, kami akan merencanakannya secara detail terlebih dahulu. Jika mungkin, bahkan untuk pengeluaran sekecil apa pun. 

3. Selalu menabung setiap kali ada uang yang masuk

Ini sangatlah susah. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, di mana gaji suami berkurang, penghasilan saya berkurang, dan omzet bisnis juga menurun. Tapi jika tidak dipaksakan, tentu saya tak akan pernah punya tabungan. Jadinya, sekecil apa pun itu, saya selalu mencoba untuk menyisihkan uang saat ada uang yang masuk. Sekali pun itu cuma sepuluh dua puluh ribu yang dimasukkan ke dalam celengen anak. Yang penting nabung. 

3. Berinvestasi sekali pun jumlahnya sedikit

Teman-teman pasti pernah mendengar ungkapan: “Jangan menyimpan telur di dalam satu keranjang atau Don't put all your eggs in one basket”. Nah saya percaya sekali dengan hal itu. Dalam berinvestasi, kita sebaiknya tidak di satu tempat. Jadi saat rugi, kita masih punya cadangan di tempat lain.

Saya dan suami berinvestasi dalam bisnis. Saya punya reksadana juga. Meskipun jumlahnya sedikit, dan keuntungan juga tidak besar, namun saya berusaha istiqomah. Itung-itung belajar. Supaya saya dan keluarga tahu bahwa uang tidak didapat dengan mudah. Dan berinvestasi juga membuat saya jadi tidak banyak pegang uang tunai. Buat saya, uang tunai terlalu mudah habisnya. 

4. Tidak mengandalkan pendapatan dari satu sumber saja

Ini prinsip yang saya pegang. Meskipun sebenarnya gaji suami dan bisnis kami cukup untuk hidup keluarga, saya tetap harus mencari penghasilan. Tapi tentu, dengan tanpa mengesampingkan tugas saya sebagai ibu rumah tangga. Dan freelancer-lah yang akhirnya saya pilih. Tak mengapa jika jumlah penghasilan saya kecil. Terkadang, sudah bisa menghasilkan saja rasanya cukup membuat bahagia.

5. Berbagi walau pun sedikit 

Pandemi berimbas pada banyak orang. Di luar sana tak sedikit orang yang jauh lebih kurang daripada kita. Dan ini yang menjadi reminder saya. Jadinya sebisa mungkin bisa bersedekah dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Walau pun jumlahnya sedikit. Berbagi dengan sesama membuat uang yang kita miliki terasa lebih berkah.

Saat Darurat Datang

Serapi apa pun saya dan suami merencanakan, ada saja saatnya saya dan suami kelimpungan. Misalnya saja ketika perlu uang tunai dalam waktu yang cepat untuk membantu saudara yang terkena musibah dan membantu mereka berobat. Sebab jujur, untuk uang tunai, saya dan suami jarang pegang dalam jumlah yang banyak. Tabungan juga gak besar. Punya uang adanya dalam bentuk reksadana serta modal bisnis. Susah untuk segera dijadikan uang tunai. Jadinya saat perlu cepat, mau tak mau kami mengandalkan pihak lain.

Ya benar, 1-2 kali kami meminjam uang. Biasanya sih ke pihak penyedia layanan pinjaman uang secara online. Sebab pihak seperti ini bisa memberi pinjaman online langsung cair dalam hitungan menit

Tunaiku adalah contoh pihak yang bisa memberi pinjaman online yang cepat itu. Hanya dengan membuat akun di aplikasinya, dan lalu mengisi identitas pribadi dengan benar, dan lalu berfoto selfie dengan menggunakan KTP, maka kita sudah bisa mengajukan pinjaman.


Tentang Tunaiku

Pinjaman yang diberikan Tunaiku beraneka ragam. Tenor yang diberikan juga bisa sangat panjang, di mana maksimum 20 bulan, dengan limit hingga 20 juta rupiah. Dan yang paling penting, Tunaiku bisa dipercaya. Sebab Tunaiku merupakan salah satu produk dari Amar Bank. Sebuah institusi finansial yang bentuknya bank resmi di Indonesia. Amar Bank sendiri sudah beroperasi sejak tahun 1991. Selain di bawah naungan bank resmi, Tunaiku dan Amar Bank juga berdiri di bawah bendera perusahaan multinasional, yakni Tolaram Group.

Tunaiku sedikit berbeda dari jenis fintech lainnya. Perbedaannya bisa dilihat dari keamanan serta fleksibilitasnya. Keamanannya jelas, sebab Tunaiku berdiri di bawah naungan institusi finansial berbentuk bank resmi di Indonesia yang terdaftar dan diawasi oleh OJK. Nah fleksibilitasnya, Tunaiku menyediakan fasilitas tenor yang sangat panjang tadi.

Yang Harus Diingat!

Saya sebelumnya anti dengan yang namanya pinjaman online atau pinjol. Karena denger cerita-cerita dari teman yang dapat masalah akibat pinjol. Tapi begitu saya mencobanya, ternyata ada manfaatnya. Salah satunya ya membuat kita bisa mendapat pinjaman dalam waktu yang cepat, saat sedang dalam keadaan darurat. Tapi sebelum melakukan peminjaman, ada banyak hal yang harus diingat.

Yang pertama yang harus diingat, pastikan kita meminjamnya untuk hal yang mendesak. Misalnya berobat, karena ada musibah, biaya pendidikan, atau untuk hal yang produktif semisal keperluan modal usaha. Yang kedua, jangan sekali-kali meminjam uang untuk hal yang sifatnya konsumtif atau foya-foya. Yakin deh, membayarnya nanti pasti akan sangat berat. Yang ketiga, pastikan pihak peminjam merupakan pihak terpercaya yang punya nama jelas, dan terdaftar di OJK. Sebab yang abal-abal sering kali menimbulkan masalah baru. Yang keempat, pastikan kita benar-benar punya uang yang jadi andalan untuk membayarnya. Supaya kita gak dapat masalah baru.

Oke deh teman-teman, sampai di sini tulisan saya tentang mengatur keuangan rumah tangga di masa pandemi. Intinya sih, jangan boros, banyakin nabung, dan cari penghasilan tambahan. Dan dengan berbagi dengan sesama, kemudian memperbanyak doa, Insya Allah semua akan baik-baik saja. Tetap jaga kesehatan, ya. Semoga bermanfaat!



18 komentar:

  1. Setuju banget teh, semuamya kena imbasnya dan alhamdulillah di jaman sekarang masih bisa berkarya di dunia onlen aja bersyukur. Masih bisa bertahan alhadmulillah.
    Nah hidup sederhana pilihannya adalah kunci terus bertahan, alhamdulillah selalu diajarkan dari orang tua untuk selalu hidup sederhana dengan versinya masing2, jadinya ga kaget tatkala pandemi juga.

    Wah, ini mah membantu banget kalo lagi urgent buat modal yaa, dan iya katanya cairnya cepet, banyak cerita temenku yg bisnis pake tunaiku

    BalasHapus
  2. Tipsnya oke, Mbak ... berbagi walaupun sedikit tetap harus dilakukan ya .. in syaa Allah rezekinya berkah dengan demikian.

    BalasHapus
  3. Kita memang sebaiknya bisa mengatur keuangan dengan bijak ya, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Pinjol mungkin berguna bagi yg membutuhkan uang dlm keadaan mendesak, tapi memang harus mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan meminjam. Sereem kalau sampe gak bisa bayar dan hutangnya makin bertambah banyak seperti banyak di berita2 itu.

    BalasHapus
  4. Sepakat banget mba kalau sebaiknya meminjam uang pada saat kondisi amat sangat mendesak saja. Makasih tipsnya mba :)

    BalasHapus
  5. Betul mba setuju, bagaimana pun keadaan kita jangan lupa sedekah ya. Aku juga lagi struggle banget buat bisa hidup minimalis, jadi ga lagi kerayu diskon dan hanya beli yang dibutuhkan saja.

    BalasHapus
  6. Teteh...
    Aku juga mulai menerapkan menabung setiap kali mendapat uang.
    Alhamdulillah.
    Jadi kalau ada hal yang mendesak, bisa digunakan sewaktu-waktu.
    Sungguh mengatur keuangan ini kudu teliti dan primpen (bahasa Jawanya).

    BalasHapus
  7. sebaiknya kalo mau pinjem uang pastikan dulu lembaga yang kita pinjam itu lembaga resmi dan diawasi ojk

    BalasHapus
  8. Pandemi ini memang sebuah ujian banget itu sebab harus cerdas mengatur, mengolah serta memanage keuangan yg masuk dan keluar.
    Pun demikian ketika terpaksa harus meminjam uang, mesti banget pilih penyedia jasa pinjamannya online yang kredibel

    BalasHapus
  9. Pastinya yang langsung dipikirkan oleh saya adalah wajib mengencangkan ikat pinggang. Jangan lagi konsumtif. Lebih banyak keinginan daripada kebutuhan. Setelah itu, baru deh poin-poin lainnya dipikirkan

    BalasHapus
  10. Point 3 dan 4 nih yg agak susah heuheu nabung dan investasi biar kepaksa nabung biasanya sy arisan (mak point 3 nya double)

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah ya mbak, walau pendapatan mbak Nia dan suami menurun, omset usaha juga menurun, tapi kondisi keuangan bisa tetap terkendali. Tentunya memang harus melakukan beberapa perubahan dalam pengelolaan keuangan.

    BalasHapus
  12. Saat ini memang klo masalah keuangan pasti berkurang ya teh...tapi kalau pun terpaksa meminjam harus bener2 dilembaga yg Aman dh diawasi olh ojk spt tunaiku ua

    BalasHapus
  13. alhadulillah mba pandemi ini bisa nabung, sebab dana liburan gak digunakan, hehehe, palingan order aneka makanan aja tapi itu pun pengganti makan tiap hari. perlu banget di atur keuangan saat panemi sebab banyak yang gak bisa diprediksi sih

    BalasHapus
  14. Ini sedang viral nih mak Nia,
    antara boleh apa engga sih pinjam online itu heheeee.. emang ini selalu jadi pro kontra ya

    BalasHapus
  15. Pandemi tu seperti diingatkan dengan paksa agar segera membenahi pengaturan keuangan rumah tangga, dan mencari cara untuk memberbesar pemasukan. Setuju banget. Meskipun saat ini ada banyak cara untuk pinjam dana, tapi kita harus tetap hati-hati ga sembarangan pinjam uang

    BalasHapus
  16. Setuju banget sama poin-poinnya. Dan, berbagi di saat sempit itu memang membuat kita merasa menjadi kaya, dan insyaa Allah memang membuat hati kita jadi lebih tenang gitu yaa..
    Makasih sharingnya, Mbak :)

    BalasHapus
  17. Emang harus pinter2 banget atur keuangan di masa pandemi ini ya mba. Biaya rumah tangga memang terpaksa dicukup2kan, ga boleh boros

    BalasHapus
  18. banyak sedekah dan pinter keuangan is a must ya mba apalagi musim begini pandemi ekonomi susah
    aku sendiri suka susah nyisihin jadi berasa ga kepikir gimana ke depannya huhu

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)