8.5.18

Langsing Sehat, Aman, dan Nyaman Bersama Slim And Fit

Perempuan mana sih yang gak pengen tubuhnya langsing? Siapa pun dia pasti menginginkannya. Begitu juga dengan saya. Sehingga untuk mencapainya, berbagai macam jenis diet pernah saya coba. Termasuk diet ekstrem yang kini sedang popular: DIET KETO. Dan memang benar, berkat diet ini, saya sukses menurunkan berat badan sebanyak 20 kg dalam waktu 4 bulan saja. Tapi sekarang, saya berubah pikiran. Meski berat badan jadi naik 10 kg, saya tetap bahagian dibuatnya. Saya percaya, semua akan langsing pada waktunya.

Pencarian Jati Diri
Hahaha, kayak anak abege aja ya, mencari jati diri. Begini, tubuh saya, kalo digambarkan, itu seperti balon. Saya pernah mengalami masa bulat maksimal, mengempis, kempis banget, dan membulat lagi. Begitu seterusnya.

Saat abege, tubuh saya langsing. Kemudian menjelas dewasa awal, tubuh saya melangsing. Sampai masa menyusui anak pertama, tubuh saya masih langsing. Akan tetapi saat melahirkan anak kedua, pasca-menyusui, bobot tubuh saya tak juga menurun. Tapi karena saya merasa hal itu tidak masalah, jadilah di masa itu, saya enjoy enjoy aja.

Penyakit ashma yang saya idap lumayan mengganggu di masa ini. Saya sering kali kesusahan bernapas di dalam hari. Awalnya saya gak ngeuh dengan apa yang terjadi. Barulah saat  berat tubuh saya menurun karena sakit demam berdarah selama hampir 1 bulan lamanya, saya tersadar. Yupp, ashma saya sering kambuh karena saya gendut. Mungkin saluran pernapasan saya menjadi lebih sempit akibat terlalu banyak lemak. Mungkin. Dari situ saya jadi tahu bahwa tubuh yang langsing itu nyaman dan bikin saya lebih percaya diri. So, saya harus selalu membuat tubuh saya langsing. Supaya saya menjadi diri sendiri.

Olala…
Di akhir tahun 2011, saya ternyata hamil lagi. Ya, hamil anak ketiga. Otomatis segala hal yang saya lakukan di dalam menjaga tubuh langsing, saya abaikan. Saya skip senam aerobik rutin. Saya makan apa pun yang saya mau. Dan saya juga jadi lebih banyak beristirahat. Terutama tidur. Dan benar, hingga sesaat menjelang masa melahirkan, berat badan saya naik 10 kg.

Hingga akhir masa menyusui, tubuh saya tak langsing-langsing. Kebiasaan makan banyak demi produksi asi yang banyak tak bisa saya hentikan. Bahkan tak bisa saya kurangi meskipun saya sudah tak menyusui.

Tiba-tiba, saya hamil lagi. Bener banget, hamil anak ke-4. Dengan titik awal berat badan yang sudah di angka 65 kg (tinggi badan 160 cm) saat hamil muda, jelas kenaikan berat badan saya pasti akan sangat besar di masa hamil tua.

Jeger! Berat badan saya saat akan melahirkan berada di angka 75 kg. Dan keadaan ini bertahan hingga saya beres menyusui. Bahkan sampai si bocah nomor 4 berusia 3 tahun. Iyap, perut saya gembung padahal sudah tak ada bayinya.

Jangan bilang saya gak berusaha untuk langsing. Di setiap masa gemuk, saya selalu berdiet. Dari mulai diet preman yang seenak’e dewe’ gak ada aturan pasti, diet GM yang per harinya khusus makanannya, diet ala food combining, dan lain-lain. Semuanya gagal tak membuahkan hasil. Bukan salah metode dietnya. Tapi tentu salah saya yang gak disiplin dan bosenan. Jadinya ya, begitu, gak ngefek apa-apa. Kalo pun berhasil turun 1-2 kg dalam sebulan, eh bulan berikutnya naik lagi lebih dari jumlah turunnya.

Saya Lalu Langsing Secara Drastis
Di bulan Agustus 2017, tepatnya tanggal 11 Agustus, setelah melalui pertimbangan selama 1 bulan, saya mencoba sebuah metode diet baru. Namanya Diet Ketofastosis (KF). Banyaknya testimoni orang yang berhasil turun berat badan secara drastis, serta berhasil sembuh dari berbagai penyakit, membuat saya mupeng. Akhirnya, saya pun membulatkan tekad untuk ikutan.

Beratnya diet ini tak menggoyahkan niat saya. Dan benar saja, dalam kurun waktu 4 bulan, saya akhirnya berhasil menurunkan berat badan sebanyak 20 kg. Sebuah pencapaian paling significant di dalam sejarah perdietan saya. Saya sih merasa nyaman-nyaman aja. Tapi di mata orang lain dan keluarga, terutama mama, saya katanya sangat kurus. Mengkhawatirkannya, katanya begitu. Dia pun menyuruh saya untuk berhenti menjalani diet tersebut.

Awalnya nasihat mama saya abaikan. Badan saya yang nyaman, kok mama yang rebut. Begitu pikir saya. Tapi lalu  saya berpikir keras. Bener saya ngerasa nyaman dengan diet itu? Ternyata tidak. Banyak sebenernya keluhan yang saya rasakan. Mulai dari ‘tersiksanya’ menahan keinginan makan buah dan sayur dalam jumlah yang banyak, sampai rambut yang rontok parah. Belum lagi kalau saya kemasukan gula sedikit lebih banyak. Sudah pasti, rasa sesak, leher seperti dicekik, diare, pusing, hingga lemas pasti saya rasakan. Ya, badan saya jadi supersensitif dengan gula. Se’dikit saja lebih dari yang ditentukan, saya pasti kena efeknya. Mungkin itu bagus. Tapi buat saya cukup ‘menyiksa’.

Saya Curi-curi
Bener, memasukin tahun 2018, saya mulai ‘melonggarkan’ diri dengan aturan diet KF. Saya memulainya dengan banyak mengonsumsi sayur dan buah. Sebab sebagai wanita ‘separuh domba’, saya sukanya makan dua jenis makanan ini dalam jumlah yang besar.

Awalnya saya mengalami efek yang hebat dari cheating-cheating ini. Tapi lama-lama, efeknya semakin berkurang. Tubuh saya menjadi tak terlalu sensitif lagi. Hingga akhirnya sampai detik ini, saya bisa makan apa pun tanpa merasakan efek apa-apa. Tapi tentu, jumlahnya tak bisa banyak. Saya mengaturnya demikian.

Tapi, seiring dengan itu, perlahan-lahan berat badan saya naik lagi. Kini, setelah berhasil turun 20 kg, tubuh saya naik lagi 10 kg. Meski tak segendut keadaan awal, tapi tetap saja saya kini gendut lagi.

Same-Stupid-Old Story
Namanya juga manusia, terlebih perempuan. Titik itu datang lagi. Saya kepengen langsing lagi. Saya pun lagi-lagi mencoba berdiet. Tapi again, semua gagal. Lalu saya sadar. Mindset saya lah yang sebenernya perlu dibenerin. Diet bukanlah sekadar turun berat badan saja. Tetapi lebih kepada perbaikan gaya hidup dan pola makan. Kalo tujuannya kurus, kan gampang sebenernya. Ikut aja diet KF lagi. Dalam 1-2 bulan saja, saya bisa turun 10 kg.

Akhirnya saya pun ngebenerin mindset itu. Saya mencoba pola makan dan pola hidup yang lebih sehat. Dan mungkin, jika dilakukan secara konsisten, berat badan akan turun dengan sendirinya.

Sebulan ini saya mencobanya. Saya mencoba makan secara sehat. Karbohidrat dalam jumlah yang sedikit. Sayur dan buah serta protein (daging dan ikan) dalam jumlah yang banyak. Serta susu, sebuah sumber nutrisi kaya protein yang selama ini paling saya hindarkan. Tak lupa olahraga. Meskipun hanya senam aerobik ringan di rumah. Dan juga instirahat serta tidur yang cukup.

Alon-alon Asal Kelakon
Niat saya berdiet saya luruskan. Penurunan berat badan menjadi bukan prioritas utama. Badan yang lebih sehat, segar, dan nyamanlah yang utama. Meski sudah 1 bulan mencoba dan saya hanya baru turun berat badan sebanyak 1 kg saja, saya merasa senang.

Badan yang gampang kena ‘efek gula berlebih’ sudah jarang, rambut yang berkurang rontoknya dan malah mulai tumbuh rambut-rambut baru, dan berbagai hal yang saya rasakan enteng sekarang, menjadi bonus yang tak ternilai melebihi bahagia turun berat badan yang drastis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman juga. Hatur tengkyu. :)